26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Profesor Sri Edhi Swasono : Omnibus Law Jangan Menggradasi Harkat Martabat Manusia dan Buruh Harus Ikut Memiliki Saham di Perusahaan

Saya senang sekali sejumlah paparan yang dilansir melalui WhatsApp mendapat perhatian khusus dari Profesor. Dr. (Mas) Sri-Edhi Swasono dengan inti pokok kongkritnya usulan untuk mesikapi RUU Omnibus Law.

Dalam pemaparannya Profesor Edhi agaknya lebih cenderung mengacu pada kegelisahan saya bahwa RUU Omnibus Law  Akan Menggunduli Sejumlah UU dan Peraturan Perburuhan di Indonesia.

Pandangan Profesor Edhi yang sangat simpatik dan mencerahkan itu seutuhnya saya copy seperti berikut ini, sekaligus untuk mengekspresikan rasa hormat dan salut saya pada Guru Besar Ekonomi ini. Ini paparan beliau selengkapnya.

Ekonom-ekonom Indonesia yang liberalistik dan kapitalistik mengagumi dan memuji-muji Revolusi Industri 4.0., Mengagumi efisiensi ekonomi dengan teknologi digital canggih, bahkan dengan naifnya mengucapkan “selamat tinggal” pada serikat buruh dan ILO. Tanpa paham bahwa ILO bermisi meredam kapitslisme rakus. Tanpa memahami pula bahwa Revolusi Indilustri 4.0 dengan kecanggihan teknologi digital adalah suatu puncak kematangan kapitalisme ribawi dan rakus. Puncak kematangan proses  dehumanisasi, yang mendegradasi harkat dan martabat manusia menjadi jongos robot digital-nya kaum pemodal yang exploitatory.

Pembangunan justru seharusnya merupakan proses humanisasi, proses  memanusiakan manusia layaknya manusia sebagai Khalifatullah. Oleh karena itu jangan biarkan Revolusi Industri 4.0 mencapai puncak kematangannya, kareba akan membinasakan  harkat martabat manusia (buruh). Maka segera saja kita bergabung dengan Revolusi Industri 5.0 (yang awalnya diusulkan oleh  Perdana Menteri Jepang) demi membetukkan Human Sosiety (bukan robotic sosiety), demi membentukkan kebahagian sosial (societal happiness)

Sesuai keinginan PBB untuk terbentuknya HHI (Human Happines Index) yang tinggi bagi negara-negara berkembang. Pada tahin 1947 Bung Hatta mengusulkan, lewat Panitia Pemikir Siasat Ekonomi, agar Buruh ikut memiliki Saham Perusahaan.

Pada tahun 1956 (pidato Pengukuha Dr HC di UGM) Bung Hatta mengemukakan perlunya meningkatkan “kebahagiaan rakyat” (jauh sebelum PBB  dan tokoh-tokoh socialists (IDS Sussex dll) dalam kaitan dengan perlunya humanisasi dalam keekonomian. Salam, SriEdi. (Jacob Ereste)

About Post Author