06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Belajar Kepada Hatta..

Rasanya ada yang salah dalam demokrasi kita yang makin ultra liberal. Sebab, menurut Hatta, ada tiga sumber pokok demokrasi yang mengakar di Indonesia.

Pertama, sosialisme Barat yang membela prinsip-prinsip humanisme (memanusiakan manusia).

Kedua, ajaran Islam yang memerintahkan ditegakkannya kebenaran dan keadilan di manapun dan kapanpun.

Ketiga, pola hidup dalam bentuk kolektivisme sebagaimana terdapat di desa-desa wilayah Indonesia. Bergotong-royong dan musyawarah adalah dasar-dasar demokrasi desa.

Ketiga sumber inilah yang mestinya menjamin kelestarian demokrasi di Indonesia. Baginya, suatu kombinasi organik antara tiga sumber kekuatan yang bercorak sosio religius inilah yang memberi keyakinan kepada kita bahwa demokrasi telah lama berakar di Indonesia, terutama di desa-desa.

Bila di desa yang menjadi tempat tinggal sekitar 60% rakyat Indonesia masih mampu bertahan, maka tak dapat diragukan hari depan demokrasi di Indonesia. Sayangnya, demokrasi hari ini sudah berubah menjadi meneykrasi yang digerakkan oleh oligarki.

APAKAH kita mengkhianati pikiran-pikiran Hatta..? Dan melupakan Pancasila plus Proklamasi..?

BERGURU PADA HATTA

Lebih jauh, Hatta telah mengingatkan, “atas nama Tuhan yang telah memberi kalian pancasila, jangan KKN sampai liang lahat agar berkah selamat.” Sayangnya kok KKN makin meningkat. Jadi agama di mana saja. Sesungguhnya manusia indonesia itu benar-benar berada dalam kebodohan, kecuali oligarki dan koruptor serakah. Mereka licik dan menjarah. Cerdas dan jenius demi perutnya sendiri.

Itulah mengapa, tiada seorang pejabatpun dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati tapi ia tahu kapan harus korupsi. Mereka tidak pernah percaya pada tindakannya sendiri. Mereka justru terkejut bila rakyat memercayainya. Itulah pejabat yang kita dapati tetapi sudah lama dinujum Hatta. Pejabat yang mengingkari sebagai “panitia kesejahteraan rakyat.”

TANPA disadari, kita kini memproduksi para psikopat di ajang politik dan ekonomi. Ini rangkaian tak terelakan dari persetubuhan haram fundamentalisme pasar dan fasisme agama plus feodalisme ekonometrika (trias warisan kolonial). Jejak langkah neoliberalisme yang tak dihapus pak presiden dan rumah rahim neofundamentalisme yang tak didelet pak presiden plus bumi neotribalisme yang tak diaborsi pak presiden berakibat chaos yang tak berkesudahan. Tak percaya? Cek semua media di sekitar kita: cetak, web, elektronik dll.

Makna psikopat secara umum adalah sakit jiwa. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat, karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang sekitarnya. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar penuh atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati. Sedang pengidapnya disebut orang gila tanpa gangguan mental.

Menurut penelitian kami, pasca diberlakukannya demokrasi liberal, sekitar 10% dari total penduduk indonesia mengidap psikopati sosial. Pengidap ini sulit dideteksi karena 95% lebih bebas berkeliaran daripada mendekam di rumah sakit jiwa. Terlebih pengidapnya sukar disembuhkan. Kalian mau tahu ciri psikopat? Ia selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri, menyalahkan orang lain tanpa data dan berbahagia di atas penderitaan sesama.

Para pengidap psikopat (ekopol) hanya merasakan senang dan bahagia atas kemenangannya sesaat tetapi akan merasakan sampah kalau kalah walau tak menyerah. Mereka tak mungkin bicara mengatasi problema warga negara. Sebab, mereka jadi elite yang silite. Di tangan elite psikopat, pemerintahnya tidak mampu mengontrol dan menguasai seluruh SDAnya; pemerintahnya sangat lemah dan tidak efektif; tidak mampu menyediakan pelayanan publik yang memadai; gotong-nyolong; korupsi dan kriminalitas yang meluas; banjir TKI/W; konflik antar lembaga negara; dan penurunan kesejahteraan ekonomi yang tajam.

“Jatuh Bangunnya Negara Ini, Sangat Tergantung Dari Bangsa Ini Sendiri. Makin Pudar Persatuan Dan Kepedulian Kita, Indonesia Hanyalah Sekedar Nama Dan Gambar Seuntaian Pulau Di Peta“, Bung Hatta Wakil Presiden Pertama RI

About Post Author