06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Sistem Hubungan Industrial Jepang Dibangun Dengan Rasa dan Semangat Kebersamaan

Apa yang dimaksud dengan Hubungan Industrial Gotong Royong ?

Pada tanggal 25 Januari sampai dengan awal Februari tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid melakukan misi ekonomi ke berbagai negara, mulai dari Arab Saudi, Swiss, Inggris, Belgia dan Thailand. Dalam perjalanan itu disertakan juga pengusaha seperti Aburizal Bakrie, Sofyan Wanandi, Setiawan Djodi, dan saya sebagai Ketua Umum DPP Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) mewakil kaum buruh.

Selama perjalanan, kami mengadakan rembukan bipartit nasional, yang kemudian melahirkan kesepakatan untuk bersama-sama mengorganisir Konferensi Bipartit Nasional, untuk menyusun sistem hubungan industrial di Indonesia. Pada Maret tahun 2000, KADIN/APINDO bersama Serikat Pekerja menjadi penyelenggara Konferensi Bipartit Nasional di Hotel Grand Melia dan Gedung Apindo.

Konferensi ini diikuti ± 400 orang mewakili organisasi pengusaha dan federasi-federasi serikat buruh/pekerja. Acara ini diadakan di dua tempat yaitu di Gedung KADIN dan Hotel Grand Melia karena mereka berdekatan di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Kesepakatan Konferensi Bipartit Nasional adalah :

  1. Membangun sistem hubungan industrial yang harmonis, demokratis, dinamis, berkeadilan dan berkesejahteraan.
  2. Tujuan dari sistem hubungan industrial adalah memajukan dunia usaha/pengusaha, membuat kehidupan buruh/pekerja sejahtera dan ekonomi negara yang kuat.

Sistem hubungan industrial Jepang dibuat menjadi acuan. Mengapa harus mengacu pada Jepang ?

Konferensi melihat bahwa sistem hubungan industrial yang diterapkan di Jepang adalah contoh yang bisa ditiru di Indonesia berdasarkan beberapa fakta. Pertama, ekonomi Jepang pada waktu itu adalah salah satu kekuatan dunia, di mana pengusaha Jepang kuat dan buruh Jepang masuk dalam kategori paling makmur di dunia.

Fakta kedua, Jepang tidak pernah mengalami pemogokan/ aksi atau demonstrasi ataupun lock out di tingkat perusahaan yang diakibatkan perselisihan industrial tingkat perusahaan.

Fakta ketiga, buruh-buruh Jepang adalah pekerja keras, cerdas dan jujur. Kemajuan perekonomian Jepang bisa terjadi karena fondasi hubungan industrial diterapkan dengan baik dan  benar.

Mendukung pendapat di atas, Andrew J Ostwald melakukan sebuah penelitian tentang hubungan industrial. Dia menyatakan “that function of industrial relation is to build emotional prosperity, a labour feeling happiness in his/her volume of job and what he/she will earn. Human being becomes important but can be measured.”

Dari keseluruhan articlenya dia membuat kesimpulan yang perlu dicatat “this article has argued that we should measure and focus attention upon emotional prosperity.” Jika kita evaluasi, sistem industrial Jepang juga mengandung pemahaman betapa pentingnya rasa sejahtera, rasa memiliki, dan rasa tanggung jawab semua pihak atas produksi. (Jacob Ereste)

About Post Author