28/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Teori BES, Ilmiah Berdasarkan Logika Al Qur’an : “OST-JUBEDIL”

PPMI CENTRE – Bogor Jawa Barat | Pendekatan ilmiah dalam kajian keilmuan adalah mutlak atau dengan kata lain mesti ditempuh, dalam konteks kehidupan dan peradaban manusia Tahun Sebelum Masehi (SM) atau Tahun Sebelum Hijriah (SH), orang-orang saat itu menggunakan pendekatan filsafat dan/atau keyakinan dan kepercayaan semata mengikuti perjalanan hidup nenek moyangnya. Bahwa ciri-ciri yang dapat dikenali saat itu jika dilihat secara analisis pada kurun waktu sekarang tepatnya tanggal 20 Maret 2020 maka kurang lebih didapati ciri-cirinya sebagai berikut:

1. Melalui proses empiris, deduktif, dan/atau induktif
2. Proses bertanya-tanya terhadap sesuatu atau objek yang dibahas
3. Melalui kepercayaan dan keyakinan yang sifatnya turun temurun dari nenek moyangnya.

Ad 1. Melalui proses empiris deduktif dalam pengertian dari yang bersifat umum menuju khusus, tergantung pokok bahasannya. Bila proses empiris induktif dari yang khusus ke kesimpulannya yang umum. Bahwa dalam sejarahnya, ciri-ciri tersebut terjadi pada masa Nabi Adam sampai dengan masuknya zamannya tahun masehi. Contoh empirisnya apa yang terjadi pada masa Nabi Adam sampai kepada Nabi Isa AS.

Ad 2. Proses bertanya-tanya diketahui melalui proses pendekatan filsafat, oleh para filosof ternama saat itu seperti socrates, plato, aristoteles dan kawan-kawan sebaya dan atau setelahnya. Selanjutnya, ciri-ciri yang bisa dikenali ialah mereka bertanya secara kritis, misalnya : “mengapa terjadi sesuatu tersebut.? Atau terjadi objek tersebut”, Juga bertanya sekaligus gugatannya sampai kepada pertanyaan: “adakah tuhan itu.?” Atau bahkan menyatakan : “tuhan telah mati (God is dead).?”

Ad 3. Proses kepercayaan dan keyakinan lebih ditentukan oleh perjalanan hidup nenek moyangnya masing-masing. Jadi sangat bervariasi, misalnya Suku Indian di AS, Suku Aborigin di Australia, Kaum Bani di Timur Tengah dan berbagai suku di Indonesia seperti Sunda, Jawa, Bugis, Makassar, Oki, Melayu, Batak, Dayak, Ambon dan lain sebagainya yang bertebaran dari Sabang sampai Marauke. Bahwa dari ketiga ciri-ciri umum tersebut ada perjalanan hidup yang luar biasa, bahkan Michael Heart menempatkan Nabi Muhammad Saw orang berpengaruh Nomor 1 di dunia melalui riset selama 28 tahun dalam bukunya “100 tokoh paling berpengaruh di dunia”. Nabi Muhammad Saw menjalankan proses kehidupannya amat sangat mencerahkan dengan kondisi objektifnya adalah sebagai berikut :

1. Tidak ada pengaruh orang tua maupun sistem pendidikan pada masanya. Dengan kata lain, terjadi proses otodidak dalam perjalanan hidupnya.
2. Tidak ada pengaruh terhadap dirinya melalui lingkungan hidup, budaya, serta keadaan jahiliyah pada masanya tersebut.
3. Tidak adanya pengaruh global dunia internasional dengan segala sistem kehidupannya yang telah diterapkan pada masanya tersebut.

Bahwa nalar dan akal sehat kita yang beriman kepada-Nya dan Nabi Muhammad saw yang dimuliakan oleh Allah Subhanawata’ala mestilah sampai pada suatu kesimpulan betapa luar biasanya jati diri Nabi Muhammad saw tersebut dan pantaslah secar logis beliau menjadi utusan Allah Subhanawata’ala, luar biasanya dan kepantasannya bahwa beliau menjadi utusan Allah dapat kita kenali dari perjalanan hidupnya itu. Yakni, Nabi Muhammad Saw adalah Al Quran yang berjalan (The Walking Qur’an). Hal tersebut, dapat ditunjukkan melalui isi kandungan Al Quran yaitu :

1. Sistem penjelasan segala sesuatu.
2. Sistem pembeda antara haq dan bathil.
3. Sistem petunjuk dan pengobatan.
4. Sistem rahmatan lil ‘alamin.
5. Sistem contoh suri tauladan atau referensi kehidupan yang nyata dan riil tanpa utopia.

Bahwa, dalam kesempatan ini BES (Bang Eggi Sudjana) tidak ingin menjelaskan segala macam sistem tersebut. Juga tidak akan menjelaskan kehebatan dan dahsyatnya nilai-nilai Al Quran tersebut. Tetapi, BES ingin menjelaskan secara fokus terhadap Logika Al Quran yang pendekatannya, berpikir secara ilmiah dan komprehensif melalui Teori BES yaitu OST-JUBEDIL

Teori ini sudah lama BES gunakan, setidaknya sejak tahun 1980 ketika BES mulai berdakwah dari kampus ke kampus, melalui konsep pada saat itu Islamisasi Sains and Culture, yang penekanannya waktu bagaimana ajaran islam masuk dalam kurikulum di kampus-kampus serta MENGGUNAKAN JILBAB atau BUSANA MUSLIMNYA UNTUK PARA KOHATI HMI atau para WANITA pada umumnya , Gagasan Islamisasi Sains and Culture itu merupakan hasil diskusi panjang berbulan-bulan bahkan tahunan dengan nama Group MUSTIKA yang berdomisili di daerah Rawamangun, gagasan cemerlang tersebut berawal dari Almarhum Bang Erlangga, senior HMI sebagai Ketua Korkom HMI Universitas Jayabaya.

Selanjutnya, kondisional objektif pelaksanaan perjalanan dakwah BES tersebut dimulai sejak masuk HMI tahun 1979 yang waktu itu ada LK 1 di Cibadak Sukabumi Jawa Barat. Pada waktu itu BES seangkatan dengan MS Ka’ban, Sanusi, Willy (almarhum), Didi (almarhum) dan Ati Suprapti serta rekan-rekan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Bahwa Teori BES baru disempurnakan bersifat natural sejalan dengan proses dakwah melalui metode brainstorming yang di Ajarkan oleh instruktur terkenal saat itu oleh Bang Toni Ardi (guru pertama BES), yaitu materinya NDP (Nilai Dasar Perjuangan) juga Bang Syahroji yang mengajarkan Essensi ajaran Islam. Adapun seiring dengan berjalannya waktu, sampailah pada tanggal 20 Maret 2020, hari Jumat yang berkah, setelah BES Khotbah Jumat di Masjid Al Hikmah Vila Indah Pajajaran Bogor datanglah saudara Daeng Wahidin sebagai Presiden PPMI Periode 2017-2022 M, yang ditemani Sdr. DK ARief Kusnadi sebagai Ketua DPC PPMI Kab. Bogor dan Sdr. Ato Ketua DPC PPMI Karawang. Kami berdiskusi mulai ba’da Jum’at sampai dengan jam 19.00 menjelang sholat Isya, setelah Sholat isya Berjamaah maka lahirlah BES Teori tersebut, yakni OST JUBEDIL yang Insyaa Allah akan menjadi Pidato Ilmiah Bang Eggi Sudjana untuk meraih gelar Profesor di ASIAN UNIVERSITY MALAYSIA jadi tertunda karena Malaysia melakukan LOCK DOWN.

Penjelasannya, yang dimaksud BES Teori (OST JUBEDIL) : Bahwa Teori OST-JUBEDIL adalah akronim dari :
O : Objektif
S : Sistematis
T : Toleran
JU : Jujur
BE : Benar
DIL : Adil

Apabila disatukan menjadi objektif, sistematis, toleran, jujur, benar, adil. Kata-kata OST JUBEDIL itu sendiri semua orang sudah tahu dan paham maksudnya. Akan tetapi menjadi satu kesatuan yang dirangkum dalam satu kata untuk menjadi suatu teori dengan keperluannya menjelaskan logika Al-Quran secara Ilmiah, menurut hemat BES adalah sesuatu yang relatif baru, perlu diingat Teori OST JUBEDIL tersebut bukanlah untuk menafsirkan Al Quran. Tapi untuk menyampaikan hubungan antara satu ayat dengan ayat yang lain, kemudian diterangkan secara OST JUBEDIL sehingga nampak jelas ALUR LOGIKA  Al Quran yang Agung ini. Satu contoh, studi kasus tentang Virus Corona yang membuat gempar dunia, bahkan kegiatan keagamaan seperti Umroh dan kemungkinan Haji dibatalkan. Sholat jumat dan kumpul-kumpul di masjid untuk itikaf ditiadakan. Termasuk masjid di Indonesia. Lebih spesifik lagi di DKI, dan beberapa tempat di Jawa Barat yang BES ketahui, mungkin juga di luar jawa. Maka, bila Teori BES : OST JUBEDIL digunakan untuk menganalisis, sangat mungkin akan berbeda pandangan dengan sikap yang diambil oleh Raja Salman dari Saudi Arabia, MUI, OKI, dan Anies Baswedan (Gubernur DKI), serta Ridwan Kamil (Gubernur Jabar). Berbeda dengan Gubernur Sumatra Utara Edi Rahmayadi yang mengambil keputusan tentang membolehkan sholat di Masjid tanpa ada himbauan untuk tidak melakukan kegiatan di Masjid selama beberapa saat dan Juga Testimoni Via Instagram mantan Panglima TNI Jend (Purn) Gatot Nurmantyo yang memakmurkan masjid dalam kondisi saat ini, sejalan dengan Logika Alquran.

Bahwa, dalam keperluan perbedaan pendapat ini, juga pendapat para tokoh pendakwah yang terkenal seperti Aa Gym, UAS, dan HRS harusnya tetap menjaga sangka baik sesama muslim JANGANLAH DIPAHAMI atau dijadikan SALAH PAHAM dengan BES dan kawan-kawan serta Ulama-Ulama lainnya yang mendukung Logika Al Qur’an, yang kemudian dituding akan membuat perlawanan atau oposisi terhadap Fatwa MUI atau orang-orang yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini sebaiknya dimaknai sebagai pengkayaan intelektual saja dan pandangan yang berbeda ini tetap didasari dengan rujukan utama Al Quran dan hadis yang relevan untuk mendukung Logika Al Quran terhadap masuknya atau datangnya virus Corona tersebut.

Oleh karena itu, mestilah dipandang wajar saja sebagai perbedaan yang mendatangkan rahmat bukan malapetaka. Oleh karena itu, apabila BES Teori tersebut memiliki kekeliruan atau hal yang tidak tepat, dengan sangat senang hati akan diperbaiki serta toleran mengikuti hasil koreksi tersebut, kemudian akan ikut hasil koreksi tersebut. Namun, bisa saja BES TEORI: OST JUBEDIL tadi yang benar sebagai cara metode berfikir yang ilmiah sesuai dengan perintah Alqur’an juga secara toleran harus juga diterima oleh semua pihak. Maka sudikiranya, siapapun orangnya berkenan mengikuti TEORI BES tersebut, hal ini perlu diungkap pesan-pesan WhatsaApp pada tanggal 19, 20, 21 maret 2020 sebagai contoh diskusi melelaui WA yang dilansir oleh PPMI center dengan menggunakan TEORI BES OST JUBEDIL tersebut. Harapannya, terjadi pengkayaan intelektual di kalangan umat Islam, bukan untuk perpecahan tetapi sebagai kontribusi BES dalam rangka ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan umat Islam. semoga TEORI BES : OST JUBEDIL ini dapat menjadi solusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di masa sekarang dan yang akan datang di NKRI. Selanjutnya berikut ini ditampilkan  link-link berita yang beredar sekitar Tgl 19 Maret sd 21 Maret, yang menggambarkan perbedaan tersebut tapi Inshaa Allah terjadi pengkayaan inteluktual di kalangan umat Islam dan Rakyat Indonesia bagi yang mengikutinya dan berpikir berdasarkan Alqur’an dan Hadist Nabi Besar Muhammad SAW.

Bogor, 22 Maret 2020
Dr. H. Eggi Sudjana, SH. M.Si

berikut lampiran link-link berita sebagai referensi

Eggi Sudjana : Hadapi Covid 19, Fatwa MUI bertentangan dengan Logika Alquran

Eggi Sudjana : Takut karena Virus Corona bukan alasan Melarang Sholat di Mesjid

http://mediasatu.id/2020/03/19/eggi-sudjanatakut-terjangkit-virus-corona-bukan-alasan-melarang-sholat-di-masjid/

 

Berlindunglah ke Masjid Inilah Hadist yang mendukung Logika Alqur’an

http://ppmicentre.com/2020/03/21/berlindunglah-ke-masjid-inilah-hadist-yang-mendukung-logika-alquran/

 

Eggi Sudjana : Berikan Sugesti Positif agar Rakyat tidak panik menghadapi Corona

Jawaban Cerdas BES Menentang Pelarangan Umroh Karena Virus Corona

http://ppmicentre.com/2020/03/20/jawaban-cerdas-bes-menentang-pelarangan-umroh-karena-virus-corona/

 

Eggi Sudjana : Peringatan untuk MUI, Logika Qur’an tidak dapat dibantah oleh Hadist manapun

http://mediasatu.id/2020/03/17/eggi-sudjana-peringatan-untuk-muilogika-quran-tidak-dapat-dibantah-oleh-hadist-manapun/

Bang Eggi Sudjana : Tidak ada pro kontra jika semua dikembalikan kepada Alqur’an dan Hadist

Ikhtiar Mesjid Jogokariyan Menghadapi Isu Virus Corona

Menyikapi Kontroversi di Masyarakat, Eggi Sudjana : Takutlah Hanya Kepada Allah

https://www.suaraberkarya.com/2020/03/menyikapi-kontroversi-di-masyarakat.html

 

Antisipasi Virus Corona, Testimoni Gatot Nurmantyo dan Gubernur Sumut sejalan dengan Logika Qur’an

http://ppmicentre.com/2020/03/20/antisipasi-virus-corona-testimoni-gatot-nurmantyo-dan-gubernur-sumut-sejalan-dengan-logika-quran/

 

Eggi Sudjana : Hadapi Covid 19 dengan Sholat Wajib Berjamaah di Mesjid bukan dengan Lock Down

 

Eggi Sudjana : Waspadai Musyrik Nasional dan Internasional Gara – gara Virus Corona

Surat Terbuka Eggi Sudjana Kepada Raja Salman

http://mediasatu.id/2020/03/17/surat-terbuka-bang-eggi-sudjana-kepada-raja-salman/

Fatwa MUI terkait Wabah Covid-19 dalam Penyelenggaraan Ibadah http://nusantarakini.com/2020/03/17/fatwa-mui-terkait-wabah-covid-19-dalam-penyelenggaraan-ibadah/

Golongan Pembantah Fatwa

Habib Hanif Alatas: Menyikapi Covid-19, Antara Aqidah, Fiqih dan Adab

https://www.faktakini.net/2020/03/habib-hanif-alatas-menyikapi-covid-19.html

About Post Author