26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Dalam kondisi LOCKDOWN berlarilah kepada Allah

PPMI CENTRE | Apa yang di lakukan manusia beriman saat dia berada pada situasi sulit, berat, takut, kwatir, kecewa dan putus asa atau singkatnya sudah buntu?.

Ya jawabannya, kembali kepada Rabb nya Allah Azza Wajalla. Itu dimensi keimanan yang tak bisa anda tawar tawar.

Kita merasa terbatas, rendah tak berdaya, maka kembalikan pada Pemilik Kekuasaan karena kita bukan seorang nabi yang dibekali mukjizat.

Ibarat situasi yang di hadapi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam di dalam Gua Tsur bersama Abubakar itu.

Saat Abubakar RA mengatakan kita BERDUA akan ketangkap, tapi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mengatakan, kita tidak berdua wahai Abu Bakar tapi kita bertiga yang ke 3 ada Allah SWT sedang bersama kita.

Masa lockdown yang menentukan di dalam gua sempit itu berlalu oleh sebuah keyakinan yang kuat bahwa Sang Pencipta itu saat kita butuh.

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS Surah 9 : 24)

Begitu juga yang di alami Nabi Musa AS bersama para pengikutnya kebuntuan setelah ikhtiar maksimal itu tetap diberikan solusi oleh Allah SWT karena sebuah keyakinan pula. Di belakang Firaun yang mengejar sudah mendekat di depan laut, di tengah kebuntuan itu maka keyakinan pada Pemilik Segala kekuasaan itu hadir.

Saat para pengikut Nabi Musa AS mengatakan kita sebentar lagi ketangkap. Nabi Musa meyakinkan Tuhanku pasti akan menolongku.

Lalu datang perintah agar memukulkan tongkat itu maka terjadilah laut terbelah dan hamparan jalan terbentang.

Rasullah mengajarkan kepada para sahabat ada doa yang di ucapkan Nabi Musa yang mengundang pertolongan itu datang.

Baginda berkata “Maukah kamu kuajari tentang kaliamat-kalimat yang dibaca oleh Musa ﷺ ketika ia melintasi lautan bersama Bani Israil?” Kami menjawab, tentu, ya Rasulallah.” Kemudian Rasul menjawab, “Bacalah allâhumma lakal hamdu wailaikal musytaka, wa antal musta’ân, wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil adzîmi” (ya Allah, hanya milik-Mu segala puji, hanya kepada-Mu Dzat yang dimintai pertolongan. Tidak ada kekuatan untuk menjalankan sebuah ketaatan dan menghindari kemaksiatan kecuali pertolongan Allah yang maha Agung).

Hal yang sama di lakukan Nabi Yakub AS ditengah ketidak berdayaan “tipu daya” anak anaknya, beliau berkata,

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Dia (Ya’qub) menjawab ‘Hanya kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.’.” (QS Yusuf: 86).

Saya teringat pada undangan ceramah di sebuah penjara, saya memandang haru orang orang yang ada di depan saya disebuah aula. Saya berkomunikasi antara hati dengan hati.

“Apakah Bapak Bapak pernah mendengar cerita di dalam Al Quran tentang Kisah Ashabul Kahfi? Itu yang saya tanyakan sekaligus menghibur mereka.

Dari kisah ini saya memberikan semangat bahwa banyak cara Allah Subhanahuwataala jika ingin menyelamatkan kita atau menaikan derajad kita.

Salah satunya ya pastinya kita bakal di uji. Ragam ujiannya berbeda beda bergantung kapasitas masing masing orang . Tujuannya ya untuk naik kelas itu salah satunya.
Agar kita juga ingat bahwa banyak nikmat yang Allah Subhanahuwataala berikan kepada kita tapi kita abai dan lalai.

Abu Dzar berkata,

أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي

“Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): [1] Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, [2] beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. …” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hasan Al Basri menasihati kita,

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة
“Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”

Melihat ke bawah itu sangat penting agar kita tidak kufur nikmat.

Banyak orang jatuh karena tersandung karena jalannya melihat ke atas terus. Ini filosofis.

Di tempat yang berbeda, di pojok ruangan tahanan saya berdiri didekatnya, ada seorang dengan pangkat dan jabatan tinggi dihinakan oleh hilangnya sikap look down ( baca : bersyukur)

Mereka yang di penjara itu ( di lock down) tampak yang berat adalah pikirannya yang terpenjara karena fisik fine saja sebagaimana layaknya saat kita sekarang menjalani masa lock down oleh corona. Mereka di lock down oleh prilakunya sendiri.

Apakah kita berada di masa lock down oleh virus covid 19 maupun saudara kita yang di lock down oleh prilakunya sendiri kita sama sama perlu menjawab satu bertanyaan.

Mumgkikah kita semua mengalami sanksi lock down karena kita tidak pernah lagi melakukan look down (bersyukur).

Kita telah semua telah melawan hukum yang mengikat diri kita sehingga kita layak disebut hamba itu?.

Apapun telah dan akan terus terjadi kembali, kisah ashabul kahfi itu adalah pelajaran lock down terberat dan terlama yang menghasilkan kemulian yang bertathta di atas singgasana iman akhirnya mereka terselamatkan.

Maka mereka berdoa,

Penghuni-penghuni gua (Al-Kahf):10 – (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

Doa inilah yang harus kita juga hayati dan resapi secara mendalam oleh semua pribadi muslim saat ini ditengah kita tidak mengerti tentang apa yang sedang dan akan terjadi kedepan terkait pemberlakuan lock down.

Ada Rahasia Yang Allah mau di tunjukan kepada kita.

Mungkin itu yang dimaksud salah satu dari baid puisi sakral Mustofa Bisri, jangan2 kita hanya menjadikan masjid dan geraja serta quil itu sebagai tempat ritual dengan topeng atas nama Tuhan bukan meminta pertolongan tapi hanya Simbol Ritual yang menipu.

Lalu kita Ragu dan curiga jangan jangan Tuhan Tak ada.

Mari kita baca do’a dengan cara yang dituntun oleh syariah yang agung ini setelah ikhtiar dan tawakal maka kita sempurnakan dengan do’a.

Terakhir saya merenung pagi ini,

Pertama, sepertinya kita butuh pribadi pribadi yang memiliki keyakinan untuk menguatkan diri dan kekuarganya bahwa kita akan ditolong selama keyakinan kita tidak setengah setengah apalagi sambil nyleneh bahwa Allah SWT akan menolong hambaNya selama dia mau berlindung dan berserah diri secara total.

Kedua, apakah kita butuh ulama ulama yang pemimpin ditengah kita memiliki pemimpin yang tidak memiliki jiwa ulama dalam menghadapi saat ujian besar seperti saat ini?.

Ketiga apakah kita butuh figur mulai dari keluarga kita yang mampu mengambil peran menguatkan keyakinan yang memapu meyakinkan bahwa kita akan selamat jika kita yakin pada pertolongan Allah SWT.

Jika kita tidak mampu mengambil tiga fungsi itu maka minimal pimpinlah dirimu untuk menahan diri dallam suasana lock down.

Jika tak sanggup juga lakukan ini di dalan kesindirianmu dalam do’a :

look down atas dirimu karena di sana ada janji AllahSubhanahuwataala yang pasti. Perhatikan ini.

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 7-8)

Salam Hangat NKRi Salam
Salam Fastabiqul Khairaat

Jangan lupa tetap tetap Senyum Look Down agar tetap berkah dimasa Lock down. Di saat Iktiar Berjemur Menikmati Nimat Sinar matahari milik Nya.

Cikarang, 28 Maret 2020
Dr. Salahuddin Gaffar, SH.MH
Ketua Tim Advokasi Masjid dan Mushalla Bekasi Raya

About Post Author