25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Ketika Tuan Guru “berkomunikasi” dengan Tuan Covi

Apakabar Tuan #Covi?
Aku mengetukmu dari bilik mihrabku yang masih sepi dan gelap.
Engkau sungguh luar biasa.
Itu yang aku dengar.
Aku belum mengenalmu, aku bukan siapa siapa.

Panggil saja aku #Tuan #Guru agar kita bisa saling memuliakan.
Aku hanya menduga engkau sosok lembut dan bersahaja layaknya Nabi Yusuf. Aku hanya menebak dari namamu. Aku tidak mengenalmu dengan cukup.

Maafkan jika aku salah menebak.
Engkau sungguh menakjubkan,  tiba-tiba hebat dalam sekejab di jagat.

Tuan Covi, Berapa umurmu? Yang aku tahu,  19 . Hingga engkau di kenal dengan Sandi Covi 19. Sandi Misterius bagiku.

Kabarkan padaku siapa engkau sesungguhnya ?
Engkau wakil Tuhan?
Atau engkau justru “Tuhan”?

Aku bertanya kepadamu tentang hal ini sangat penting di saat orang-orang teramat sangat takut kepadamu melebihi takut nya pada Tuhanmu.

Tuan Covi,
Umurmu 19 itu seharusnya adalah masa kelembutan.
Masa -masa umur untuk menebar kebaikan kebaikan kepada Alam Semesta.

Tapi mengapa Engkau seperti sedang marah bahkan sangat marah?
Menyesakkan napas para hamba.
Menjemput “jiwa jiwa tak bersalah” tanpa bisik.

Tuan Covi,
Engkau telah mematahkan logika para cerdik pandai.
Engkau telah melumpuhkan pusat pusat kepongahan kekuasan.
Menjadi teror di rumah sakit, penjara dan panti jompo, bahkan ditempat tempat ibadah.

Tuan Covi,
Aku menduga engkau utusanNya,  yang di titipkan lewat “tangan tanganNya” mendatangi dan menegur manusia manusia pongah.
Tapi aku yakin Engkau Bukan Tuhan.
Maka Tuan Guru hanya akan tunduk  kpd. Rabb Semesta Alam, Tuhanmu bukan kepadamu.

Tuan Covi,
Aku ingin berkabar tentang “makna” kehadiranmu.
Kehadirannmu, Menjadikan  orang renggang
Dalam Barisan Barisan Sahalat Berjamaah bahkan tidak mendatangi masjid. Menjadikan gereja gereja, quil, sinagog, wihara tiba tiba sunyi dan kosong tak berpenghuni.
Menjadikan Pasar pasar dan KQ5 menjadi lesu.
Menjadikan orang beselisih di medsos

Menjadikan air wudhu, kitab suci dan doa menjadi jimat semata bukan untuk ketaatan.
Bahkan menjadikan raja raja risau dari singgasana kekuasaannya.
Menjadikan para politisi meminta dimaaafkan atas kejahatannya
Menjadikan orang kwatir dan cemas dalam bersilaturrahim.
Menjadikan orang saling curiga saat bertatap rapat, Dalam uluran tangan bersalamaan, Bersentuhan, dan Berkumpul Sekedar Bertakziyah.

Bahkan menjadikan seorang, isteri curiga pada suaminya,
seorang kiyai curiga pada santrinya,
Menjadikan menteri curiga pada rajanya,
Menjadikan para penegak hukum takut bertemu dengan penjahat.

Menjadikan orang kaya menuduh dan curiga pada orang lemah dan miskin.
Menjadikan orang tak berdaya kehilangan harapannya.
Menjadikan obat obat paten terkuak kedoknya, ternyata itu muslihat semata.
Menjadikan ahli ahli, lumpuh keahliannya.

Tuan Covi,
Tapi aku melihat sekarang engkau tengah duduk di kursi pesakitan yang amat mengerikan, seolah tiang gantung menunggumu.
Tapi aku tak sanggup membelamu.
Tiba-tiba engkau di anggap PENJAHAT.

Mereka menuding engkau sebagai penyebab kebangkrutan ekonomi
Mereka menuding engkau sebagai biang kosongnya masjid.
Mereka menuduh engkau sebagai tutupnya pabrik pabrik.
Menuduh engkau pengganti malaikat mencabut nyawa.
Menuduhmu sebagai bebasnya para penjahat dan koruptor dari penjara – penjara elit.
Menuduhmu sebagai biang rusaknya ekonomi, tingginya inflasi, rendahnya daya beli, tidak tumbuhnya ekinomi.

Tuan Covi,
Siapa engkau sesungguhnya?
Jika engkau Raja di mana singgasanamu?
Dengan siapa kekuasaanmu bersekutu.

Tuan Covi,
Tuan Guru juga hendak berkabar
Jika engkau di utus membawa pesan amar makruf nahyi munkar Tuan Guru akan bersamamu membantu.

Jika engkau diutus menegur para penguasa dzolim Tuan Guru akan mengajak sahabat, kerabat karib, orang – orang soleh untuk bermakmun di belakangmu.

Atau engkau diutus secara khusus,
Menampar para politisi zahat.
Mendidik para pemimpin dusta.
Tuan Guru mendukungmu, akukan karena itu perintah Rabb mu dan Rabbku.
Karena mereka manusia manusia pongah.

Tuan Covi,
Maafkan aku karena aku menggambarkan dirimu sebagai Sosok Raja.
Karena aku melihat sudah amat sedikit manusia memuliakan Sang Raja. Suara adzan dibaikan, waktu shalat telah dilewatkan.
Padahal dia Sang Maha Raja
Ya Raja Yang menggenggam Alam Semesta, Al Malik, Raja DiRaja sedang memanggil.
Mereka juga meremehkan raja  bernama keadilan.
Raja yang bernama kejujuran.

Tuan Covi,
Ijinkan Tuan Guru berterima kasih.
Kehadiranmu telah membuat sebagian manusia sadar bahwa mereka rapuh.
Kehadiranmu membuat sebagian mereka berlari kepada perlindungan Rabbnya.

Tuan Covi,
Aku Titip satu kalimat penting dari Rabbku dan juga Rabbmu.
Jangan Engkau Jadikan Manusia “Menyembah” Dirimu.
Tuan Guru Sedang Resah Soal Hal ini. Karena manusia sedang pada suasana kebathinan yang goyang seolah engkau Tuhan Yang Mematikan.

Salam Hangat dari Tuan Guru
Jangan sampaikan kepada siapapun nama panggilanku.
Kita akan dipertemukan disatu titik yang sama.
Yaitu kelak, Bersimpuh di hadapan Singgasana Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan.

Rabb Semesta Alam

 راضيت و بالله ربا و بالاسلام دينا وابي محمدين صلى الله عليه وسلم نبيا ورسوله

 حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير لاحول ولكن قوه الا بالله

Mihrab Di Waktu Subuh,
Bekasi, 11 Sya’ban 1441 H/ 5 April 2020
Dr. Salahuddin Gaffar, SH.MH
Ketua Tim Advokasi DKM dan Mushollah Bekasi raya

About Post Author