04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

BES : KISMIS (Kajian ISlam KaMIS) Ketatanegaraan Dalam Logika AlQur’an

PPMI CENTRE – Bogor |Bahwa BES Theory sudah menjelaskan berdasarkan OST-JUBEDILnya bagaimana dapat tegaknya ESENSI AJARAN ISLAM yaitu dimulai dari kuatnya AQIDAH, kemudian berjalannya/tegaknya SYARIAT ISLAM dan selanjutnya terkondisilah AKHLAKUL KARIMAHNYA, proses itu kemudian lebih jelas dan gamblang bila tiap-tiap ayat Al Quran yang BES kutip pada kajian kalbu hari rabu kemarin dibaca dengan serius ;

QS.7. Al-‘A`rāf Ayat 204 – Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

melalui pendekatan OST-JUBEDIL tersebut sehingga orisinalitas penegakan ajaran Islam atau berjalannya syariat Islam tentu dengan bimbingan langsung melalui wahyu Allah yang sudah amat jelas tanpa memerlukan penjelasan lain dari berbagai sumber karena ayat-ayat Al Quran tersebut yang BES kutip bukanlah ayat-ayat yang menimbulkan multitafsir, apalagi dapat dilihat pelaksanaan konkritnya melalui sejarah hidup Rasulullah MUHAMMAD SAW, sebagai THE WALKING QURAN  atau Quran yang berjalan. Hal ini jangan disalahpahami atau dijadikan titik perdebatan bahwa BES tidak perlu penjelasan sumber-sumber lainnya tersebut, tetapi BES cukup dengan teori OST JUBEDIL nya sendiri sudah amat sangat jelas, hanya perlu dilaksanakan saja. Hanya saja BES juga menyadari bagi yang meminati KISMIS ini perlu disadari untuk melaksanakan penegakan syariat Islam, mestilah ajaran Islam itu sendiri yang difungsikan atau dengan kata lain terjadi proses Islam fungsional yaitu kondisional objektifnya umat Islam mestilah dalam keadaan merdeka, punya kekuatan dan atau berkuasa bahkan berdaulat menjadi pemimpin di Negeri yang  mayoritas beragama Islam seperti Indonesia ini adalah MUTLAK sulit untuk ditawar oleh karena tanpa proses penegakan Islam fungsional tersebut tidaklah mungkin terlaksananya/tegaknya hukum-hukum Islam, terutama dalam dimensi hukum pidana dan tata negaranya, kalau yang bersifat hukum perdata, individual dan muamalat secarfa syariat untuk bersifat seperti perbankan itu semua tidak ada masalah, hanya penyempurnaan dan lain sebagainya saja. Akan tetapi yang BES maksud disini adalah pendekatan hukum pidana dan tata negara yang bahkan kita masih mengadopsi hukum buatan Belanda penjajah negara yang kita cintai.

Bahwa, sesungguhnya kondisional objektif untuk penegakan syariat hukum Islam di Indonesia sangatlah kondusif atau sangat memungkinkan untuk dapat tegaknya hukum Islam tersebut, yaitu dengan pendekatan secara BES Theory mulai dari FILOSOFIS, HISTORIS, SOSIOLOGIS, dan YURIDISnya dapat dikaji secara mendetail maupun singkat (dalam KISMIS ini singkat, dapat lebih detail pada kesempatan lain) yaitu secara FILOSOFIS, nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang jauh sebelum ada Indonesia atau disebut Republik Indonesia, nilai yang berlaku adalah Animisme dan Politeisme kemudian berubah melalui proses waktu yang panjang hingga memakan ratusan bahkan ribuan tahun menjadi teokrasi atau dapat disebut Tauhidillah dengan kata lain berlakunya ajaran Tauhid. Hal ini dapat diterangkan secara OBYEKTIF melalui HISTORISnya bangsa Indonesia, semua rakyat tahu bagi yang punya pengetahuannya bahwa perjalanan sampai dengan terbentuknya Republik Indonesia sangat didominasi oleh tokoh-tokoh pendiri republik ini semuanya beragama Islam. Hal tersebut dapat diceritakan melalui historisnya yakni pernah berlaku sistem kerajaan atau raja-rajanya saat itu menjalankan ajaran Islam hingga disebut kerajaan Islam juga terus berkembang secara historis munculnya Walisongo (9 wali) yang legendaris di Indonesia. Selanjutnya, muncul pula tokoh-tokoh pahlawan revolusi mewujudkan Indonesia merdeka bisa dilihat bagaimana sejarahnya pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Hasanudin, Cuk Nya Dien, Tengku Umar, hingga tahun-tahun kemerdekaan seperti Muhammad Natsir (ketua umum MASYUMI), H.Agus Salim, KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Safruddin Prawiranegara, Prawoto, Muhammad Rum, dan tidak lupa Bung Hatta dan Ir Soekarno. Mereka sudah jelas merupakan tokoh-tokoh yang beragama Islam. Kemudian secara SOSIOLOGIS apabila dilihat melalui perkembangan demografi rakyat Indonesia mayoritas beragama Islam. Sehingga tata nilai yang hidup dan berkembang di Republik Indonesia yang kita cintai Bersama ini sampai detik ini bulan April 2020 adalah nilai-nilai atau berupa syariat Islam, KECUALI dalam hal HUKUM PIDANA dan TATA NEGARA . Oleh karena itu, tidak dapat dibantah secara ilmiah oleh pendekatan apapun untuk mengatakan INDONESIA ADALAH NEGARA TAUHID . Hal ini dapat dibuktikan secara konkret melalui BES Theory : OST-JUBEDIL yaitu pendekatan Yuridisnya dengan 3 pendekatan penting :

  1. Bahwa, dasar negara Republik Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa hal ini termaktub didalam sila Pertama Pancasila dana Pasal 29 ayat 1.
  2. Bahwa, Ketuhanan Yang Maha Esa yang dmaksud dalam poin pertama tersebut telah amat jelas disebutkan dalam Mukadimah UUD 45 pada alinea ke-3 “Atas berkat rahmat ALLAH Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Hal ini sangatlah jelas merupakan KONSEKWENSI LOGIS dari hubungan antara MUKADIMAH UUD 45 tersebut dengan batang tubuh yaitu pasal 29 ayat 1 UUD 45 menjelaskan secara hubungan hukumnya atau dengan kata lain secara yuridis bahwa yang dimakusd dengan Tuhan yang MAHA ESA yaitu adalah ALLAH yang Maha Kuasa. Sementara itu, semua umat rakyat Indonesia yang beragama Islam tahu bahwa Allah memiliki hukum yang bernama Hukum Islam. Dengan demikian, seharusnya hukum Islam dapat berlaku di Republik Indonesia. Di sisi lain, penjelasan yuridis formal dengan jelas dan gamblang tersebut tentu ditolak, dibantah, dan diperangi dengan segala caranya oleh orang-orang kafir, munafiq, fasiq, dzalim atau sekuler yang ada di Indonesia. Jadi, dengan pendekatan itu, harus OST-JUBEDIL cara pandangnya SIAPAKAH yang benar-benar serius MENENTANG UUD 45 ?
  3. Bahwa, pembuatan dan penegakan hukum di Republik Indonesia menurut keterangan konstruksi hukum atau secara yuridisnya berdasarkan UUD 45 tepatnya pasal 5 ayat 1 JO pasal 20 dan 21 UUD45 yang sangat jelas telah disebutkan yaitu Presiden memegang kekuasaan tertinggi dalam membentuk hukum di Indonesia dengan pesetujuan dewan perwakilan rakyat(DPR). Pasal 5 ayat 1 tersebut telah diamandemenkan yang mana hanya menjadi kewenangan Presiden, tetapi setelah amandemen DPR memiliki kewenagan dalam pasal 20 dan pasal 21.

UUD 45 Pasal 5 ayat 1 : “Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat”

UUD 45 Pasal 20 ayat 1 : “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang.”

UUD 45 Pasal 20 ayat 1 : “Anggota-anggota Dewan Perwakilan rakyat berhak memajukan rancangan undang-undang.”

Selanjutnya, setelah dimengerti dengan sebaiknya Pancasila SILA PERTAMA  dan pasal 29 ayat 1 JO pasal 5 ayat 1 JO pasal 20 ayat 1 JO pasal 21 dari UUD 45 tsb ,  amatlah SANGAT JELAS  bahwa PRESIDEN dan DPR lah merupakan pihak penentu yang membuat dan menegakan hukum di Indonesia. Oleh karena itu dapat dipikirkan secara serius, yaitu apabila Presiden dan DPR nya memiliki atau mempunyai keimanan dan ketaqwaan yang sangat patut dibanggakan atau dengan kata lain tinggi atau benar-benar taat pada ALLAH dan Rasul-NYA MUHAMMAD SAW , maka dapat dipastikan hukum Islam dengan mudah dapat berlaku di Indonesia

QS.22. Al-Hajj ayat 41 : orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

PENEKANAN AYAT  tersebut dapat dilihat mulai dari kalimat “…jika kami berikan kedudukan di bumi… ” hal ini menunjukkan Islam fungsional yaitu dengan berlakunya hukum Islam oleh PRESIDEN dan DPR. Logika OST-JUBEDIL nya secara TERBALIK  yaitu apabila yang menjabat sebagai Presiden dan DPR RI nya tidak dapat dibanggakan Iman dan Taqwanya kepada ALLAH dan Rasul-NYA MUHAMMAD SAW, memiliki keimanan yang LEMAH bahkan dapat dikatakan SECARA SUBTANSI nya TIDAK BERIMAN , maka dapat DIPASTIKAN TIDAK akan tegak hukum Islam di Republik Indonesia. Oleh karena itu, untuk seluruh Rakyat Indonesia yang beragama Islam agar senantiasa mentaati perintah Allah dalam

QS.5 Al Maidah Ayat : 51,52,54 ;
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 51
– Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 52 – Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 54 – Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

JO QS.9. At Taubah Ayat : 23, 24, 105, 111;
QS.9. At-Tawbah Ayat : 23
– Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
QS.9. At-Tawbah Ayat : 24 – Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
QS.9. At-Tawbah Ayat : 105 – Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
QS.9. At-Tawbah Ayat : 111 – Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

JO QS.66 At Tahrim ayat 9 – Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

JO QS.9. At Taubah Ayat 14 dan 73 ; yang menjelaskan dan menegaskan untuk Pemilu dan Pilpres nya
QS.9. At-Tawbah Ayat : 14 – Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.

QS.9. At-Tawbah Ayat : 73 – Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.

Lalu, pertanyaan seriusnya adalah bagaimana dengan 7 Presiden yang telah lalu hingga sekarang bila ditinjau keimanan dan ketaqwaannya kepada ALLAH dan Rasul-NYA MUHAMMAD SAW, karena mereka semua itu beragama Islam tapi apakah Islamnya fungsional? Apabila Islamnya fungsional mengapa sudah 74 tahun 8 bulan hingga hari ini belum juga tegak ajaran Islam dalam dimensi hukum pidana dan tata negaranya tersebut? sudikiranya untuk dapat diikuti kajian Islam ini besok Insya Allah yaitu JIMAT(Kajian Jumat) tanggal 10 April 2020, semoga bermanfaat.

Bogor, 9 April 2020
Salam Ta’ziem
BES = Bang Eggi Sudjana .

About Post Author