25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

JIMAT (Kajian Jumat) BES : Konsekuensi Hukum Dari Republik Indonesia Sebagai Negara Tauhid

PPMI CENTRE – Bogor | Bahwa dalam kajian pada kamis 9 April 2020 lalu (KISMIS), sudah amat sangat jelas dan gamblang bahwa secara BES Theory : OST-JUBEDIL negara Indonesia adalah negara tauhid. Maksudnya, dengan mendasari dalam berbangsa dan bernegara di RI ini tidaklah boleh atau dengan kata lain dilarang keras segala bentuk peraturan dan perundang undangan yang ada, atau dtimbulkan atau dibuat kemudian tumbuh dan berkembang yang bertentangan dan atau melawan dan atau tidak sejalan dengan Syariat islam.

Hal ini didasari menurut Sila Pertama dari Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian dalam batang tubuh UUD 1945 ada Pasal 29 ayat 1, bahwa RI berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dan kemudian ditegaskan kembali dalam pasal 29 ayat 2 nya dari UUD45 negara menjamin WNI untuk menjalankan Agama yang diyakininya. Oleh karena itu sangat berkonsekuensi logis secara hukum atau yuridis, bahwa Presiden RI dan DPR RI untuk menjalankan amanat dan perintah dari Pancasila khususnya sila pertama tersebut dan UUD 1945 sebagaimana yang telah disebutkan dan juga diatur dalam pasal 5 ayat 1 JO pasal 20 ayat 1 dan pasal 21 UUD 45.

Dengan logika hukum secara Pancasila dan UUD 45 tersebut, harusnya dapat dimengerti juga dipahami bahkan harus disadari yaitu ALLAH lah yang mendasari negara Republik Indonesia ini. Konsekuensi yuridisnya harus menjadikan Indonesia negara tauhid, hal inilah poin terpenting dalam pemahaman konstitusi di negara Republik Indonesia yang kita cintai Bersama yaitu menempatkan ALLAH sebagai dasar negara republic Indonesia, itulah sebabnya dalam KISMIS kemarin BES mengatakan amat bergantung pada Presiden dan DPR sebagai pemangku amanat dari Pancasila dan UUD 45 untuk diterapkan/dijalankan dalam mengatur berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Dengan kata lain, konsekuensi yuridisnya, syariat Islamlah yang diterapkan di Negara Republik Indonesia ini. Bukan KUHP buatan Belanda negara penjajah itu

QS. 33. Al-‘Aĥzāb) Ayat 36 – Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

JO QS.6. Al-‘An`ām Ayat 70 – Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.
QS.6. Al-‘An`ām Ayat 71 – Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami”. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam,

JO QS.2 Al Baqarah Ayat 113 – Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.

JO QS.4. An-Nisā’ Ayat 113 – Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.

JO QS.5 Al Mā’idah Ayat 35, 38, 40, 41, 44, 45, -47, 48, 49, 54, 55, 56, 57 sebagai berikut :
JO QS.5. Al-Mā’idah Ayat 35 – Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 38 – Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 40 – Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 41 – Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 44 – Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 45 – Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 47 – Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 48 – Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 49 – dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 54 – Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 55 – Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 56 – Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.
QS.5. Al-Mā’idah Ayat 57 – Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.

JO QS.3. ‘Āli `Imrān ayat 160-164 sebagai berikut :
JO QS.3. ‘Āli `Imrān ayat 160 – Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.
QS.3. ‘Āli `Imrān ayat 161 – Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.
QS.3. ‘Āli `Imrān ayat 162 – Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
QS.3. ‘Āli `Imrān ayat 163 – (Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.
QS.3. ‘Āli `Imrān ayat 164 – Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

JO QS.66 At-Taĥrīm Ayat : 6 sd 10 sebagai berikut :
QS.66. At-Taĥrīm Ayat 6 – Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
QS.66. At-Taĥrīm Ayat 7 – Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.
QS.66. At-Taĥrīm Ayat 8 – Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
QS.66. At-Taĥrīm Ayat 9 – Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.
QS.66. At-Taĥrīm Ayat 10 – Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.

JO QS.6. Al-‘An`ām Ayat 56-57 sebagai berikut :
QS.6. Al-‘An`ām Ayat 56 – Katakanlah: “Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah”. Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.
QS.6. Al-‘An`ām Ayat 57 – Katakanlah: “Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”.

JO QS.22. Al-Ĥaj Ayat 52-55 sebagai berikut :
QS.22. Al-Ĥaj Ayat 52 – Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,
QS.22. Al-Ĥaj Ayat 53 – agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat,
QS.22. Al-Ĥaj Ayat 54 – dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.
QS.22. Al-Ĥaj Ayat 55 – Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Quran, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat.

Bahwa Konstruksi hukum berdasarkan Pancasila dan UUD45 yang sudah dijelaskan sebelumnya tersebut haruslah menjadi perhatian serius terutama bagi Presiden RI dan DPR RI dalam menjabat kedudukannya, oleh karena mereka disumpah dengan sumpahnya atas nama demi ALLAH sebagaimana yang disebutkan dalam, Pasal 9 UUD 45 : “Demi ALLAH , saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa.” Bahwa sumpah Presiden dan Wakil Presiden sebagaimana disebutkan dalam pasal 9 UUD 45 tersebut bukanlah mainan apalagi dengan mudah dilanggar dan diabaikan begitu saja karena itu bersumpah atas nama ALLAH  sehingga mengandung konsekuensi hukum yang berat baik di dunia maupun akhirat. Diantara konsekuensi di dunia nya ialah Presiden dapat di impeach karena inkar janji sekaligus menamai dirinya sebagai orang yang munafiq, sebagai orang yang berstatus munafiq maka hukumnya keras sebagaimana diatur atau diperintahkan dalam QS.66. At Tahrim ayat 9  : ”Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.”

Bahwa  dengan perintah ALLAH kepada Nabi Muhammad tersebut, tidak bisa tidak mestilah kita sebagai pengikut atau yang berkomitmen untuk berakidah kepada Allah dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW maka konsekuensi hukumnya bagi kita wajib memerangi orang munafiq tersebut, kecuali kita sendiri merupakan orang yang munafiq. Oleh karena itu pertanyaan seriusnya bagi anggota DPR, DPRD dan juga pimpinan-pimpinan partai politik yang mengaku beragama Islam baik di PDIP, Gerindra, PKS, PAN, PKB, Golkar, PPP, Demokrat dan Nasdem. Tentunya yang mengaku beragama Islam dan pimpinan partai tersebut, apakah mau untuk mengikuti perintah ALLAH ? apabila enggan maka bisa tergolong sebagai orang munafiq. Jadi intinya kita semua harus bertanggung jawab terhadap ALLAH dan Rasulullah Nabi Muhammad SAW serta bertanggung jawab secara hukum tata negara bagi yang memiliki integritas, kapasitas dan otoritas sebagaimana yang diatur oleh Allah dalam QS.22 Al Hajj Ayat 41 yang artinya ”(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Selanjutnya, perlu juga diketahui dan disadari Bersama oleh kita orang-orang  yang mengaku beriman kepada-NYA  bahwa ALLAH lah yang berhak membuat hukum. Dengan kata lain, hukum-hukum yang ada dan akan diberlakukan di RI tidak boleh bertentangan dengan kehendak ALLAH karena ALLAH lah pembuat hukum yang sesungguhnya. Hal ini dapat dilihat dalam QS.6 Al Anam ayat 57 : ”… Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”.

Bahwa dengan ketegasan sebagaimana disebut dalam Al Quran itu tentu berkonsekuensi logis secara yuridis orang-orang yang menentang ALLAH atau tidak mau mengikuti perintah ALLAH tersebut masuk ke dalam kategori orang-orang yang kafir, dzalim, fasiq, munafiq bahkan murtad sebagaimana yang pernah diterangkan oleh BES dalam kajian-kajian sebelumnya dengan dasar QS.5. Al Ma’idah ayat 44, 45, 47, 51, 52, 54 (baca diatas). Bahwa satu hal yang penting lagi yaitu penjelasannya baik secara filosofis maupun yuridis dalam hal memahami ALLAH yang berhak membuat dan menetapkan hukum yaitu filosofisnya dalam filsafat ilmu hukum yang intinya adalah hukum itu dibuat demi keselamatan manusia siapapun dan agama apapun (Islam sangat menjunjung tinggi kebebasan beragama). kemudian hukum itu outputnya adalah keadilan bagi siapapun dan apapun agamanya. Oleh karena itu secara filsafat hukum nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yaitu Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan sebagaimana yang sudah BES terangkan dalam OST-JUBEDIL.

Oleh karena itu nilai-nilai tersebut adalah bersifat mutlak tidak relatif karena nilai-nilai tersebut berlaku universal di seluruh dunia dan nilai-nilai tersebut adalah mutlak pula merupakan nilai-nilai yang diciptakan atau dibuat oleh ALLAH untuk mengatur sistem kehidupan seluruh manusia demi keselamatan, kesejahteraan, dan keadilannya. Jadi nilai-nilai yang sudah terangkum dalam wujud peraturan perundang-undanganlah yang dapat disebut sebagai hukum.

Selanjutnya tinjauan secara yuridis bahwa perspektif hukum Tata Negara Indonesia yaitu mengacu kepada apa yang sudah BES jelaskan yaitu menempatkan ALLAH  sebagai dasar negara RI ini yang selanjutnya berkonsekuensi secara yuridis sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. sekali lagi, seluruh manusia menurut pandangan Al Quran telah menempatkan ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA sebagai Raja dan Tuhannya seluruh manusia yang disebut di dalam QS.114. Al Ikhlas ayat 1-5 ; “1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia; 2. Raja manusia; 3. Sembahan manusia…”

Oleh karena itu pertanyaan seriusnya secara OST-JUBEDIL apabila penjelasan secara intelektual ilmiah tersebut masih saja ada orang yang tidak memahami pendekatan filosofis, historis, sosiologis, dan yuridis tersebut maka patut dipertanyakan IMAN dan AKAL SEHATNYA  …?????.

Bogor, 10 April 2020
Salam Takziem
BES (Eggi Sudjana)
Tlp/WA : 0816 3121 959

About Post Author