06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Hasbi, S.Pd ; Pemimpin Buzzer Atau Pajangan

PPMI CENTRE – PRABUMULIH-SUMSEL | Masa pandemi covid-19, durasi waktunya pendek. Mendadak dan tiba-tiba. Semua orang gagap dan panik. Di sinilah kualitas seorang pemimpin akan diuji. Sejauh mana ia punya kompetensi dan narasi dalam menggunakan kapasitas dan otoritasnya menghadapi situasi seperti ini.

Karakter dan kompetensi seorang pemimpin akan terlihat secara terang benderang ketika ia dihadapkan pada masalah. Covid-19 adalah masalah yang sangat serius, Penyebarannya luar biasa cepat serta Tingkat kematiannya cukup tinggi. Dengan Rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang terbatas dapat mengakibatkan Keuangan negara terancam dan atau APBN-APBD megap-megap, menyusul Dampak sosial-ekonominya sangat dahsyat. Ini akan dapat mengukur kepemimpinan seseorang dengan melihat cara ia menghadapinya.

Waktunya teramat singkat, tidak sempat lagi pemimpin bersolek. Buzzer terbatas ruang geraknya. Isu covid-19 begitu cepat dan massif. Tidak akan tertandingi oleh isu lain. Semua akan fokus melihat isu ini. Juga melihat bagaimana pemimpin mereka menyelesaikannya.
Dari kasus covid-19, akan terlihat mana pemimpin yang berkompeten dan mana yang tidak berkompeten. Ia eksepsional person atau holder of eksepsional position. Ia pemimpin asli atau hanya boneka. Ini berlaku di semua negara.
Dari mana melihatnya?

Pertama, sejauhmana seorang pemimpin memahami masalah. Ini hal yang paling mendasar dan prinsip. Kalau gak tahu masalah, bagaimana mungkin ia bisa menyelesaikan? Salah satunya bisa dilihat dari informasi dan narasinya. Sesuai fakta atau bertentangan dalam hal ini untuk mengukur kebenarannya haruslah tercipta Persesuaian antara Pernyataan dengan Kenyataan.

Kedua, bagaimana perencanaan dan langkah antisipasi yang disiapkan pemimpin itu. Cenderung cepat atau lambat. Serius, atau sekedarnya saja. Ini soal komitmen. Rakyat pasti membacanya dengan cermat karena Rakyatlah yang paling merasakan.

Ketiga, terukur tidak program dan tindakan apa yang dilakukan pemimpin itu. Baik proses maupun hasilnya. Berapa perhari bisa menekan angka terinfeksi, berapa penambah angka orang yang sembuh dan berapa tingkat kematian. Semua mesti terkalkulasi. Dengan upaya mitigasi, kapan pandemi ini akan berakhir. Ini juga mesti terprediksi. Sehingga ada kepastian masa depan.

Keempat, bagaimana kemampuan pemimpin menggerakkan dan mengkonsolidasikan semua kekuatan dan potensi di bawah otoritasnya. Sinergi diantara bawahan ada di tangan pemimpin. Kalau bawahannya jalan sendiri-sendiri, bahkan malah saling bertabrakan, ini indikator bahwa kepemimpinan tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Kelima, bagaimana seorang pemimpin itu bisa ikut merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Ada empati dan simpati yang bisa dirasakan oleh mereka yang kehilangan keluarganya. Ada emosi yang menyentuh perasaan para dokter yang koleganya berguguran.
Lima hal ini akan menjadi seleksi alam, apakah para pemimpin itu eksepsional person, sungguh-sungguh seorang pemimpin, atau holder of eksepsional position hanya pemimpin pajangan. Wallahu A’lam Bisshowab

Prabumulih, 15 April 2020

Hasbi, Spd.
Ketua Umum
Dewan Pengurus Cabang
Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia
Kotamadya Prabumulih
Periode 2020 – 2025

About Post Author