04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Menakar Kualitas Kepemimpinan Di Tengah Wabah Pandemi Global Covid-19.

PPMI CENTRE – Prabumulih, Sumsel | Dalam KBBI, Kualitas atau mutu adalah tingkat baik buruknya atau taraf atau derajat sesuatu. Bila kita kurang yakin watak asli seseorang atau pemimpin atau suatu bangsa, tunggulah hingga gelap menyergap: di sana bisa kita kenali kualitas dan watak sesungguhnya.
Demikianlah, di balik ancaman kematian dan kepanikan global akibat pandemik korona, bisa kita kenali sisi gelap dan sisi terang dari kehidupan ini dan gaya pemimpin kita.
Kualitas seorang pemimpin akan terlihat kompetensi dan pengalamanya dalam sikap maupun tindakannya dalam terang gelapnya kehidupan dunia. Oleh karena itu seorang pemimpin jangan sampai lelet atau lambat bertindak dalam menghadapi sebuah masalah yang bersifat makro atau global atau pandemi.

Menjadi seorang pemimpin, apalagi menjadi pemimpin wilayah maupun negara dibutuhkan empati rasa berbangsa dan bernegara yang tinggi menempatkan kepentingan umum dan negara diatas segalanya. Karena keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

Thomas Carlyle membuat teori herois. Dia bilang: di tangan pemimpin perubahan bangsa itu terjadi. Betapa besar pengaruh seorang pemimpin sehingga takdir bangsa ada di genggaman tangannya.

Ada tiga kelompok manusia.

Pertama, ordinary people. Masyarakat biasa. Orang awam. Kelas rakyat. Di semua negara, kelompok ini paling banyak jumlahnya. “sak karepmu dewe urus negoro, sing penting kerjoku lancar, anak bojoku isih iso mangan sego”. Nah, ini ordinary people.

Kedua, eksepsional person. Manusia istimewa. Beda dari yang lain. Kompetensi dan literasinya membuat ia layak menempati posisi sebagai pemimpin. Ia memengaruhi, bukan dipengaruhi. Ia leader, bukan boneka. Dari kata “lead” yang artinya memimpin. Berada di depan. Jadi imam.

Ketiga, holder of eksepsional position. Manusia biasa. Tapi karena faktor “x” ia terpilih jadi pemimpin. Mewarisi atau mengambil secara “tidak etis” dari posisi orang yang lebih layak dan memenuhi persyaratan sebagai pemimpin. Anak raja dalam sistem monarki, misalnya. Atau ia pandai bersolek di era demokrasi. “petruk dadi ratu”, kata dunia pewayangan.

Menangani penyebaran virus korona, tidak cukup, jika kita hanya bermodalkan, planga-plongo, modal gerot, modal ini dadaku mana dadamu atau ilmu coba-coba, dan lain sebagainya.
Pandemi global COVID-19 atau Virus Corona ini harus dihadapi dengan pendekatan sains, ilmu pengetahuan, pendekatan agama, sosial dan komunikasi publik. Tentu dengan kajian dan strategi yang komprehensif berbasis data.
Disinilah kita akan melihat leadership seorang pemimpin dalam menghadapi situasi tersulit sekalipun untuk mengambil langkah taktis dan kebijakan strategis mengatasi situasi dan permasalahan yang ada. Sehingga dapat menjadi jalan keluar terbaik dan dapat memberikan rasa nyaman, aman serta dapat mengendalikan situasi secara baik dengan membangun kerjasama semua elemen bangsa dan negara.

Saat pandemi covid-19 melanda dunia, para pemimpin akan terseleksi. Dari pemimpin kecil, sampai pemimpin dengan wilayah dan otoritas yang luas. Termasuk pemimpin bangsa dan pemimpin daerah.
Dalam situasi normal, seorang pemimpin biasanya baru akan terkoreksi setelah berhenti berkuasa. Saat berkuasa, durasi waktu yang panjang (5-10 tahun), para pemimpin masih bisa menggunakan fasilitas dan kekuasaannya untuk menutup-nutupi karakter dan kapasitas asli dirinya. Mereka bisa menekan dan mengancam orang yang kritis dan ingin membongkar kebobrokan dirinya. Mereka juga bisa sewa buzzer untuk membuat opini “selalu baik” tentangnya.
Setelah pemimpin itu turun dan tak berkuasa lagi, fasilitas otomatis berhenti. Semua akan terlihat “apa adanya”.

Termasuk hasil kerjanya terkoreksi secara terbuka. Akan terlihat ia pahlawan, atau pecundang. Ia pemimpin atau maling. Para buzzer pensiun, karena tak ada lagi yang bisa dipoles.
Masa pandemi Covid-19, durasi waktunya pendek. Mendadak dan tiba-tiba. Semua orang gagap dan panik. Di sinilah kualitas seorang pemimpin akan diuji. Sejauh mana ia punya kompetensi dan narasi dalam menghadapi situasi ini.
“Ini dadaku, mana dadamu?” kata Soekarno. Ini namanya pemimpin. Paling tidak “berjiwa pemimpin”. Dengan segala kekurangannya, Soekarno adalah seorang pemimpin yang berkarakter.

Selain karakter, pemimpin juga harus berkompeten. Karakter dan kompetensi adalah dua hal yang saling mempengaruhi. Karakter seorang pemimpin dipengaruhi oleh kempetensinya. Gak kompeten kok jadi pemimpin, berarti gak berkarakter.
Karakter dan kompetensi seorang pemimpin akan terlihat secara terang benderang ketika ia dihadapkan pada masalah. Covid-19 adalah masalah yang sangat serius. Penyebarannya luar biasa cepat. Tingkat kematiannya tinggi. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan terbatas. Keuangan negara terancam. APBN-APBD megap-megap. Dampak sosial-ekonominya dahsyat. Ini akan dapat mengukur seorang pemimpin dengan melihat cara ia menghadapinya.
Waktunya teramat singkat, tak sempat lagi pemimpin bersolek. Buzzer terbatas ruang geraknya. Isu covid-19 begitu cepat dan masif. Dari waktu ke waktu tidak akan tertandingi oleh isu lain. Semua akan fokus melihat isu ini. Juga melihat bagaimana pemimpin mereka menyelesaikannya.
Dari kasus covid-19, akan terlihat mana pemimpin yang berkompeten, dan mana yang tak berkompeten. Ia eksepsional person atau holder of eksepsional position. Ia pemimpin asli, atau hanya boneka. Ini berlaku di semua negara.
Dari mana melihatnya?

Pertama, sejauhmana seorang pemimpin memahami masalah. Ini hal yang paling mendasar dan prinsip. Kalau gak tahu masalah, bagaimana mungkin ia bisa menyelesaikan? Salah satunya bisa dilihat dari informasi dan narasinya. Artinya kebenarannya harus diukur melalui Persesuaian antara Pernyataan dengan Kenyataan.

Kedua, bagaimana perencanaan dan langkah antisipasi yang disiapkan pemimpin itu. Cenderung cepat atau lambat. Serius, atau sekedarnya saja. Ini soal komitmen. Rakyat pasti membacanya.

Ketiga, terukur tidak program dan tindakan yang dilakukan pemimpin itu. Baik proses maupun hasilnya. Berapa perhari bisa menekan angka terinveksi, menambah angka orang yang sembuh dan memperkecil tingkat kematian. Semua mesti terkalkulasi. Dengan upaya mitigasi, kapan pandemi ini akan berakhir. Ini juga mesti terprediksi. Sehingga ada kepastian masa depan.

Keempat, bagaimana kemampuan pemimpin menggerakkan dan mengkonsolidasikan semua kekuatan dan potensi di bawah otoritasnya. Sinergi bawahan ada di tangan pemimpin. Kalau bawahan jalan sendiri-sendiri, bahkan malah bertabrakan, ini indikator bahwa kepemimpinannya gak jalan.

Kelima, bagaimana seorang pemimpin itu bisa ikut merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Ada empati dan simpati yang bisa dirasakan oleh mereka yang kehilangan keluarganya. Ada emosi yang menyentuh perasaan para Tim Medis atau Dokter yang koleganya berguguran.
Lima hal ini akan menjadi seleksi alam, apakah para pemimpin itu eksepsional person, sungguh-sungguh seorang pemimpin, atau holder of eksepsional position, para pemimpin pajangan.
Oleh karena itu, kegotong-royongan yang ditekankan Pancasila jangan sampai dirobek oleh nafsu dan syahwat kekuasaan. Moral politik tidak boleh jatuh ke titik nadir. Wabah pandemi global COVID-19 tidak boleh menjadi ajang pencitraan dan mengail di air keruh.
Alhamdulillah kita patut bersyukur, sisi terang masih muncul dari kepahlawanan lembaga filantropi, tenaga medis dan ormas keagamaan dan berbagai elemen bangsa, atas aksi-aksi pencegahan dan pelayanan dalam menghadapi situasi darurat wabah pandemi global COVID-19.
Saatnya bangsa ini bersatu bangkit membangun negeri, dengan musibah Corona ini mari kita jadikan momen menjahit persatuan dan kegotongroyongan yang telah tercabik-cabik. Semoga kita semuanya dapat menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas segalanya. Sehingga ujian dan musibah Corona dapat kita lalui bersama.
Mari kita memberikan apresiasi dan dukungan kepada mereka yang mendedikasikan diri sebagai garda terdepan dalam menghadapi pandemik global virus korona. Mari kita semuanya menadahkan tangan memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT dalam menghadapi masa-masa sulit ini dan tetap ikhtiar semaksimal mungkin melakukan upaya bersama, untuk keluar dari musibah virus Corona… Aamiin.. Aamiin ya Rabbal Alaamiin

Prabumulih, 17 April 2020

Hasbi, Spd.
Ketua Umum
Dewan Pengurus Cabang
Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia
Kotamadya Prabumulih
Periode 2020 – 2025

About Post Author