06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

BES = Kajian Islam Selasa (KISAS), HIJRAH dalam Perspektif Logika Qur’an

PPMI CENTRE – BOGOR | Bahwa setelah Kajian Islam Ahad (Jihad) kemarin yang membahas mengenai MUKZIJAT dan BERSYUKUR kepada Allah SWT, maka kali ini lanjutannya berdasarkan logika Al Quran berikutnya adalah membahas mengenai HIJRAH.

Hijrah sebagaimana disampaikan dalam Al Quran Surah Al Baqarah 218 ; “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan ALLAH, mereka itulah yang mengharapkan rahmat ALLAH . ALLAH Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Bahwa dalam pemahamannya, inti dari apa yang disampaikan QS.2 Al Baqarah ayat 218 diatas, yaitu setelah kita beriman kepada ALLAH SUBHANNAHU , maka perlu melakukan tindakan yang konkret yaitu berupa HIJRAH . Setelah hijrah ALLAH menghendakinya kita berjihad fii sabilillah (berjuang di jalan Allah). Kiranya dalam kesempatan ini, yang perlu dibahas adalah mengenai Hijrah . Jadi dalam kajian sekarang fokus kepada masalah Hijrah.

Hijrah adalah berpindahnya tempat dari satu tempat kepada tempat yang lain. Sebagaiman zaman Rasulullah berpindah tempat dari Mekah ke Madinah yang kurang lebih berjarak 600 km yang bila ditempuh dengan mengendarai Unta bisa 1 bulan perjalanan. Namun kini, bagi mereka yang pernah umrah atau haji bisa ditempuh 4 jam sampai dengan 5 jam perjalanan. Bahwa untuk kajian Hijrah saat ini, BES maksudkan adalah membahas Hijrah dalam pengertian Perpindahan Nilai, seperti perpindahan nilai dari suasana gelap kepada terang benderang; atau dari kekafiran kepada keimanan; atau dari Ketidakjujuran kepada Kejujuran; atau Ketidakbenaran menjadi Benar; atau dari Ketidakadilan menjadi adil. Perpindahan nilai ini mestilah didasari oleh pendekatan logika Al Quran diformulasikan melalui BES Theory – OST JUBEDIL. TANPA logika Al Quran tidak bisa diterangkan bagaimana perpindahan nilainya atau HIJRAH NILAI nya ???

Oleh karena itu, logika Quran yang BES maksud adalah mencermati satu surat dan ayatnya yang ada dihubungkan (Juncto/Jo) kepada Surat dan ayat Quran yang lain dengan apa yang terkandung di dalamnya, tentu cara berfikirnya Objektif , Sistematis, serta Toleran dapat saling meneguhkan konsistensi penjelasannya, sehingga menurut BES ini BUKANLAH PENAFSIRAN AL QUR’AN tetapi merupakan petunjuk, penjelasan dan informasi yang menerangkan sesuatu tersebut, dengan demikian, tidak ada keinginan dan pemikiran BES yang mencoba menafsirkannya, dari satu surat dan ayat tetentu kepada satu surat dan ayat tertentu lainnya. Posisi BES hanya MEMFORMULASIKAN antara surat dan ayat yang satu dengan surat dan ayat yang lain dari Al Quran tersebut.
Selanjutnya sebagai orang-orang yang beriman, dengan kata lain orang-orang yang mempercayai bahkan mengagumi Al Quran sebagai wahyu dari ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA , yang tentunya sudah tidak ada keraguan dalam dirinya untuk benar-benar menjadikan Al Quran sebagai pedoman dan referensi yang utama dalam menjalankan kehidupannya ini, sebagaimana QS.2. Al Baqarah ayat 4 ; “dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.”

Bahwa, bagi orang-orang yang beriman sudah tidak ada keraguannya lagi terhadap nilai-nilai Al Quran. Logika terbaliknya, jika ada orang beriman tapi masih ragu terhadap ayat-ayat Al Quran sudah dapat dipastikan orang itu sesungguhnya bukanlah orang-orang yang beriman. Karena sesungguhnya mereka itu adalah PENIPU , maksudnya ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA yang ABSOLUTE, DISTHINC, & UNIQUE (tidak bisa berubah wujud, berbeda sendiri, dan tidak ada yang menyerupai-NYA). Padahal orang itu tidak menyadari jika DITIPU oleh Syaitan yang terkutuk, bahwa tidak mungkin ALLAH itu dapat ditipu atau menipu. Mereka ini oleh ALLAH disebut sebagai orang-orang yang berdusta dan tentu akan mendapat azab yang berat dari ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA .
Dijelaskan dalam QS.2. Al Baqarah ayat ; 6, 7, 8, 9, dan 10 yang artinya ; 6 – Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.; 7 – Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.; 8 – Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.; 9 – Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.; 10 – Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

Bahwa logika Al Quran yang kiranya patut disampaikan dalam kesempatan ini yaitu antara lain dijelaskan dalam QS.16. An Nahl ; Jo QS.32 As Sajadah ; Jo QS.22. Al Hajj ; Jo QS.17. Al Isra ; Jo QS.7. Al A’raf ; Jo QS.5. Al Maidah ; Jo QS.2 . Al Baqarah ; Jo QS.45 Az Zatsiyah ; Jo QS.4. An Nisa ; Jo QS.6. Al An’am ; Jo QS.8. Al Anfal ; Jo QS.66. At Tahrim .

Berdasarkan kajian secara OST – JUBEDIL dapatlah diformulasikan dari kaitan surat dan ayat tersebut dengan surat dan ayat lainnya menjadi satu konklusi pemahaman yang utuh dan tidak meragukan karena sumbernya Al Quran itu sendiri, dimana kita menyadari dan tahu persis bahwa Al Quran adalah wahyu dari ALLAH yang diturunkan kepada Nabi MUHAMMAD SAW melalui malaikat Jibril. Yang dijelaskan dalam QS.2. Al-Baqarah Ayat 97 – Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.; 98 – Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.; 99 – Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.

JO QS.66. At-Taĥrīm Ayat 4 – Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.

QS.2. Al-Baqarah Ayat 97 : “Katakanlah (Muhammad), “Barang siapa menjadi musuh Jibril maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin ALLAH , membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman”.

Bahwa ketidakpercayaan mereka pada umumnya kepada Al Quran dikarenakan kebodohan dan kesombongannya. Kebodohan yang dimaksud, tidak mengerti FUNGSI Al Quran yaitu sebagai petunjuk, pernyataan yang ALLAH inginkan, dan sebagai nilai kebenaran yang wajib diikutinya juga sebagai penjelasan yang mencerahkan bahkan sebagai PEMBEDA/FURQON, maka konsekuensi logis dari orang tersebut benar-benar telah berfikir, bahwa TIDAK ADA yang BERHAK dan PANTAS disebut Tuhan selain ALLAH , sebagaimana yang telah diterangkan tentang konsep Tuhan yang bersifat Absolut, Distinct dan Unik. Yang dijelaskan dalam QS.32. As-Sajdah ayat 2 sd 9 yang artinya ; 2 – Turunnya Al-Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya, (adalah) dari Tuhan semesta alam.; 3 – Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakannya”. Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.; 4 – Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan ?; 5 – Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.; 6 – Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.; 7 – Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.; 8 – Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.; 9 – Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Jo QS.57. Al-Ĥadīd ayat : 3 – Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. ; 4 – Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Jo QS.6. Al-‘An`ām Ayat : 59 – Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Pertanyaanya, mengapa orang-orang tersebut masih saja mengingkari kebenaran eksistensi ALLAH yang absolut, distinct & unik tersebut, kiranya dapat dijawab di hati mereka ada penyakit, bisa berupa iri hati dan kedengkian bahkan sifat-sifat munafik, sebagaimana QS.2. Al-Baqarah Ayat 7 – Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.; 10 – Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

Jo. QS.5. Al-Mā’idah ayat ; 51 – Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.; 52 – Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

Adapun mengenai KESOMBONGAN nya merupakan satu bentuk konkret dari jati dirinya sebagai orang-orang yang kafir sebagaimana ALLAH terangkan dalam QS 2 : 13 dan kemudian orang-orang kafir tersebut logika turunan berikutnya secara tinjauan Al Quran menjadi orang-orang yang zalim, fasik, musyrik, munafik, dan murtad dalam QS.2. Al-Baqarah Ayat ; 13 – Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.; 14 – Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.; 16 – Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

Jo QS.5. Al-Mā’idah ayat 44 – Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.; 45 – Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.; 47 – Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.

Jo QS.45. Al-Jāsiyah ayat ; 23 – Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?.; 24 – Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

JO QS.5. Al-Mā’idah ayat 54 – Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

Bahwa ada hal yang menarik untuk dicermati dalam kajian Hijrah ini, yaitu statement dari ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA QS.2. Al-Baqarah Ayat 16 – Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

Bahwa orang-orang kafir dengan segala turunannya tersebut itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka, perdagangan mereka tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.

Menariknya dalam tinjauan BES adalah di dataran fakta, bahwa orang-orang kafir dengan segala turunannya tersebut justru perdagangan Mereka banyak yang untung, Pertanyaan seriusnya, apakah statement ALLAH menjadi KELIRU di dalam pemahaman kita,maka untuk itulah kiranya sangat diperlukan pembahasan secara Ost-Jubedil dengan pendekatan logika Al Quran.
Bahwa kesuksesan mereka adalah justru cara ALLAH untuk memperolok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan bahkan ketika mereka MELUPAKAN PERINGATAN dari ALLAH dan HATI MEREKA JADI KERAS , disitulah Setan masuk menggoda dengan pandangan yang indah walaupun sebenarnya tidak benar dan sesat dijelaskan dalam QS.6. Al-‘An`ām Ayat 43 – Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.; 44 – Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

Jo. QS.2. Al-Baqarah ayat 15 – Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

Jo QS.5. Al-Mā’idah ayat 41 – Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.; 49 – dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.; 50 – Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?; 75 – Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).; 77 – Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.

Jo QS.22. Al-Ĥaj ayat 52 – Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,; 53 – agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat,

Jo QS.7. Al-‘A`rāf Ayat 175 – Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.; 176 – Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

Selanjutnya Allah SWT menerangkan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan kekafiran mereka tapi mereka merasa terlihat secara fakta banyak menguntungkan dari segi materialistiknya, namun sesungguhnya mereka itu tidak memiliki pegangan hidup atau dengan kata lain nilai-nilai yang berkaitan dengan ideologis dan nilai-nilai yang dapat dijadikan referensi dalam menjalankan kehidupan ini, sebagaimana Allah terangkan dalam QS.2. Al Baqarah : 102, 105, 107,109, 111 sd 119 sebagai berikut yang artinya : 102 – Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.; 105 – Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.; 107 – Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.; 109 – Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.; 111 – Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.; 112 – (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.; 113 – Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.; 114 – Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.; 115 – Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.; 116 – Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.; 117 – Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.; 118 – Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.; 119 – Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

Selanjutnya ALLAH menerangkan pula bahwa mereka itu yang didapatnya atau keuntungan secara materialistisnya di dunia ini adalah diperumpamakan oleh Allah seperti api, maksudnya orang-orang yang menyalakan API setelah menerangi sekelilingnya ALLAH melenyapkan CAHAYA yang menyinari mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat. Juga mereka dikategorikan oleh ALLAH sesungguhnya orang-orang yang tuli, bisu dan buta sehingga mereka tidak dapat kembali atau mengerti hakikat dalam menjalani kehidupan ini, yaitu bertakwa kepada Allah jika mau beruntung bukanlah keuntungan yang semu. Bahkan lebih jauh Allah memberi perumpamaan, orang-orang itu seperti itu orang yang ditimpa hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat.

Maka, dalam kondisional objektif tersebut sekiranya ALLAH kehendaki, DIA hilangkan pendengaran (tuli), penglihatan (buta), dan tidak bicara yang sebenarnya (bisu). Hal itu semuanya mudah bagi ALLAH dan seketika bisa terjadi sebagaimana yang kita alami saat ini adanya virus Corona. Seperti yang dijelaskan dalam QS.2. Al Baqarah ayat 17, 18, 19, 20, 21, 22, dan 165 sebagai berikut : Sapi Betina (Al-Baqarah):17 – Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.; 18 – Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),; 19 – atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.; 20 – Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.; 21 – Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,; 22 – Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.; 165 – Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Selanjutnya ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA secara intelektual menantang mereka itu untuk membuat satu contoh surat seperti yang ada dalam Al Quran. Bahkan Allah membolehkan orang-orang tersebut mengajak penolong-penolongnya, koalisinya, dan siapapun yang mengajak mereka itu untuk membuat satu surat yang semisal dalam Al Quran. Misalnya yang pendek saja QS.112. Al Ikhlas yang artinya 1 – Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.; 2 – Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.; 3 – Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,; 4 – dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

Allah menggaransi mereka itu tidak akan dapat atau dengan kata lain pasti tidak mampu untuk membuat contoh satu surat tersebut. Bahkan, lebih yang bersifat fisik ALLAH menantang untuk membuat seekor nyamuk sebagai contoh perumpamaannya, atau yang lebih kecil daripada itu seperti virus Corona. QS.2. Al Baqarah ayat 22 sd 30 sebagai berikut yang artinya ; 22 – Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.; 23 – Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.; 24 – Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) — dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.; 25 – Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.; 26 – Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,; 27 – (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.; 28 – Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?; 29 – Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.; 30 – Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Bahwa secara intelektual dengan pendekatan ilmiah berdasarkan BES teori Ost-Jubedil pembahasan perpindahan nilai / hijrah nilai adalah untuk keperluan yang sangat diperlukan untuk manusia yang berpikir dan beradab karena banyak orang yang bergelar Profesor Doktor, sesungguhnya mereka tidak berpikir kecuali hanya secara administrasi pernah terdaftar di salah satu kuliah tertentu atau dengan membeli ijazahnya. Karena mereka sungguh tidak memahami nilai-nilai kehidupan yang jujur, benar dan adil yang harus diyakini dan dijalankannya. Mereka memang mempunya telinga tapi tidak untuk mendengarkan, mereka mempunyai mata tapi tidak untuk melihat, mereka mempunya hati tapi tidak untuk merasakan dan menilai tentang kejujuran, kebenaran, dan keadilan yang harus dijalankannya. Sebagaimana firman Allah SWT QS.7. Al A’raf Ayat 179 : “Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”

Bahwa Perlu diketahui dan disadari bersama, orang-orang kafir dan turunannya, mereka itu diibaratkan oleh Allah seperti anjing karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah. Memang sangat buruk perumpamaan itu, tapi itulah yang pantas untuk orang-orang yang menzalimi dirinya sendiri. Oleh karena itu, siapa yang diberi petunjuk oleh Allah makalah dialah yang mendapat petunjuk atau keberuntungan, dan sebaliknya siapa yang disesatkan oleh Allah maka merekalah orang-orang yang rugi atau tidak beruntung dijelaskan dalam QS.7. Al-‘A`rāf ayat :175 – Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.; 176 – Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.; 177 – Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.; 178 – Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.

Bahwa selanjutnya dalam pengertian perpindahan nilai atau hijrah secara nilai yaitu perpindahan dari nilai-nilai kekafiran dan sekularisme kepada nilai ajaran Islam yang komprehensif dan sempurna. Untuk keperluan itu ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA mengingatkan bagi seluruh manusia untuk tidak membuat tandingan-tandingan secara nilai itu sendiri yaitu hukum-hukum ALLAH ditandingi dengan hukum-hukum yang dibuat sendiri oleh manusia, karena sesungguhnya manusia itu lemah dan tak mampu membuat satupun konsep dasar hidup dalam kehidupan totalitas di alam semesta dan jagat raya ini. Kalaupun ada manusia membuat tata nilai kehidupan seperti yang disebut sebagai ideologi, apakah itu liberalis-kapitalis dan ataupun sosialis-komunis juga fasis dan isme-isme lainnya yang sudah pasti menyesatkan dan tidak membawa orang-orang yang dipimpinnya ke jalan takwa. Sebaliknya, kalau tidak hijrah nilai sebagaimana BES maksudkan, maka dapat dipastikan orang tersebut masuk dalam kategori kafir dengan segala turunannya.

Adapun tandingan-tandingan nilai yang dimaksud oleh Allah SWT ada disebutkan dalam QS.45 Al Jasiyah ayat ; 23 – Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?; 24 – Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

Yang pada intinya dari ayat 23 diatas menjelaskan mengenai paham ideologi liberalis-kapitalis yang berakar dari paham indvidualisme yaitu mereka menjadikan hawa nafsunya seperti Tuhannya. Dengan kata lain, keinginan-keinginan atau syahwatnya itulah yang paling dipentingkan, digandrungi, diikuti, tunduk patuh kepada syahwat/keingingannya tersebut yang dijelaskan dalam QS. 22 Al-Ĥajj Ayat 52 – Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,.
Hal ini dapat dimengerti adalah dalam konteks politik menganut Paham liberalisme, dalam konteks ekonomi menganut paham kapitalisme.

Adapun ayat 24 lanjutan ayat diatas, menggambarkan satu kondisi objektif mengenai ideologi sosialis-komunis dilihat dari sudut pandang , basis dari sosialis komunis itu adalah materailisme, yaitu paham kebendaan atau berupa materi ada dengan sendirinya tanpa perlu campur tangan Tuhan atau mereka menolak eksistensi Tuhan , seperti kematian manusia itu hanya proses melalui waktu. Semua manusia akan mati melalui proses waktu, bukan karena adanya Tuhan atau ALLAH yang kita yakini. Sehingga doktrin komunis dalam hal ini anti kepada agama atau nilai-nilai yang diajarkan kepada ALLAH . Secara politik, mereka menganut menjadi paham komunisme yang jika dipisahkan secara ekonominya menjadi menganut sosialisme yang menekankan kepada tidak adanya hak milik, tidak ada kepemilikan individual, semuanya dimiliki oleh negara, yang ada adalah sama rata sama rasa, seandainya Karl Marx mempelajari Surah Al Jasiyah ini bisa jadi tidak ada komunisme di dunia ini.

Bahwa secara Ost-Jubedil seharusnya seluruh Manusia khususnya Orang Indonesia menyadari akan keadaan nyatanya yaitu kehidupan ini berlangsung sampai akhir kiamat nanti, karena adanya karunia yang besar dan rahmat dari ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA , sebagaimana Mukadimah aline ke-3 UUD 1945 “ Atas berkat rahmat ALLAH Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya.”

Berdasarkan penjelasan secara filosofis, historis, dan sosiologis dapat dijelaskan bahwa tertulisnya nama ALLAH dalam alinea ke-3 Pembukaan UUD 1945 tersebut, merupakan perjuangan yang serius dan panjang, dari secara historisnya bangsa Indonesia yaitu sebelum adanya kemerdekaan bangsa Indonesia, nilai-nilai kehidupan yang berlaku dan berkembang terutama kaitannya dengan keyakinannya kepada yang dianggap Tuhan yaitu melalui pendekatan animisme, politeisme dan berakhir dengan monoteisme sebagaimana sudah dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-3 tersebut. Adapun penjabaran secara filosofis ada HIJRAH atau perpindahan nilai dari animisme ke politeisme ke monoteisme atau nilai-nilai tauhid. Dikarenakan nilai-niali Tauhid atau yang disebut ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA menjadi dasar bagi NKRI dimana ditegaskan dalam sila Pertama Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa dan dikokohkan dalam Batang UUD 1945 Pasal 29 ayat 1 dan 2 ;
1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Oleh karena itu, melalui konstruksi intelektual yang ilmiah, bahwa hijrah dalam konteks nilai-nilainya tersebut telah terjadi di Indonesia, yang menjadikan RI sesungguhnya adalah NEGARA TAUHID . Dengan kata lain, Republik Indonesia secara sadar dan sengaja menempatkan ALLAH menjadi dasar negara Republik Indonesia. Konsekuensi yuridis (atau hukumnya) mestilah menempatkan atau menjadikan syariat Islam menjadi tatanan nilai yang mengatur seluruh kehidupan bangsa dan negara RI. Hal ini tidak dapat dibantah oleh siapapun dan bergelar intelektual apapun karena nilai-nilai ini sudah dinyatakan secara sah menjadi dasar hukum di RI , setidaknya mulai 18 Agustus 1945 karena itulah rumusan Pancasila sebenarnya, bukan susunan Pancasila 1 Juni 1945 yang disampaikan Soekarno. Tapi yang menjadi rujukan Pancasila sekarang ini hasil kompromi sidang konstituante tanggal 22 juni 1945 yang dikenal menjadi Piagam Jakarta, yaitu Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

Dengan Piagam Jakarta tersebut tentulah membuat berang/sewot/ belingsatan dari orang-orang yang kafir, zalim, fasik, musyrik, munafik dan murtad. Mereka berupaya untuk menggagalkan nilai-nilai luhur yang ada dalam Piagam Jakarta itu untuk diberlakukan. Ditentang keras nilai-nilai yang ada dalam Piagam Jakarta tersebut. Namun Alhamdulillah upaya penentangan mereka itu untuk mengganti tujuh kata yang tersebut pada Piagam Jakarta itu dapat perlawanan yang serius dan cerdas oleh kemampuan berpikir secara intelektual dari tokoh-tokoh Islam yang tergabung dalam Parpol Masyumi saat itu, antara lain Ki Bagus Hadikusumo Ketua Umum Muhammadiyah dan Ketua Umum PB NU Kiayi Haji Wahid Hasyim. Adapun rumusan yang ditawarkan ini, khususnya Ki Bagus Hadikusumo, menjadikan penggantian tujuh kata Piagam Jakarta itu cukup sederhana yaitu menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Sumber Dalil yang dipakai oleh Ki Bagus adalah mereferensikan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ada pada QS.112 Al Ikhlas ayat 1-4 yang artinya ;
1. Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa.
2. Allah tempat meminta segala sesuatu
3. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
4. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.

Bahwa secara filosofis, historis, dan sosiologis dari masyarakat yang beragama Islam seyogyanya secara intelektual hukum berlakulah hukum Islam karena Allah mempunyai hukum namanya hukum Islam atau lebih dikenal Syariat Islam. Kiranya, siapa yang berwenang memberlakukan hukum Islam. Jawabnya ada dalan Pasal 5 ayat 1 yang berbunyi sebelum diamandemen Presiden memegang kekuasaan tertinggi dalam membentuk UU dengan persetujuan DPR. Setelah diamandemen Pasal 5 ini hanya menegaskan kewenangan Presiden dalam membuat UU atau mengajukan rancangan UU. Adapun peran DPR dipindah ke Pasal 20 dan 21 UUD 1945 yang pada prinsipnya sama dengan Pasal 5 ayat 1 sebelum amandemen.

Sebagai penegasan secara yuridis yang berwenang dan berhak mengajukan rancangan UU dan kemudian memproses membuatnya menjadi UU atau hukum yang berlaku di Indoensia adalah pada Presiden dan DPR RI. Sehingga secara OST-JUBEDIL tidak dapat mengelak, siapapun Presiden itu mulai dari Sukarno sampai Joko Widodo hari ini dan ribuan anggota DPR RI yang silih berganti sejak Pemilu 1955 merekalah yang mestinya diminta pertanggungjawabannya terhadap amanat yang diberikan rakyat untuk merancang dan membuat hukum di NKRI ini, amanat itu ada pada mereka. Seyogyanya sejak tahun 1945 hingga hari ini 2020, kurang lebih 74 tahun Indonesia merdeka , Indonesia berdaulat dalam berbangsa bernegara seharusnya konsekuensi logis yuridisnya memberlakukan syariat Islam.

Pertanyaan seriusnya, sudah 7 kali presiden dan ribuan Orang sudah gonta-ganti anggota DPR RI dan Ketua, wakil ketuanya serta fraksi-fraksinya, kita semua menjadi saksi sampai hari ini tidak berlaku syariat Islam. Padahal peluang sejarah sudah diciptakan oleh Presiden Sukarno yaitu pernah 10 tahun Pancasila dan UUD 1945 TIDAK berlaku, yang berlaku adalah UUD Sementara tahun 1950. Kemudian melalui kesadaran penuh dari Presiden Sukarno memberlakukan Dekrit Presiden Tanggal 5 Juli 1959 yang inti pokoknya adalah kembali kepada UUD 1945 dengan dijiwai semangat Piagam Jakarta.

Bahwa sesungguhnya arti penting dari peluang sejarah yang dibuat oleh Presiden Soekarno adalah peluang emas untuk sesungguhnya bisa memberlakukan syariat Islam, asal dengan catatan Presiden RI dan DPR RI nya memiliki kualitas keimanan yang prima hanya takut tunduk patuh kepada ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA dan mau dengan ikhlas pula mengikuti sunah Rasul MUHAMMAD SAW tentulah lewat tangan mereka , Presiden dan DPR itu DAPAT BERLAKUKAN SYARIAT ISLAM . Namun sayangnya hingga hari ini sudah berjalan 74 tahun lebih 8 bulan ternyata belum berlaku juga syariat Islam. Mengapa , mengapa terjadi PENGHIANATAN KONTISTUSI pada hal, bukankah semua yang pernah jadi Presiden RI itu agamanya Islam semua dan mayoritas Ketua , Wakil ketua MPR RI dan DPR RI, Mayoritas Muslim.?

Demikianlah kajian Islam, Senin 20 April 2020 sebagai satu kajian yang IN SHAA ALLAH dapat menggerakan pemikiran dan kesadaran kita taat kepada ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA dan mengikuti Nabi MUHAMMAD SAW.
Untuk keperluan menjawab pertanyaan : “mengapa” tersebut perlu dikaji secara khusus lanjutan besok dari hijrah ini yaitu berjihad fii sabilillah.

Bogor – Selasa, 21 April 2020
Salam Takziem
BES = Bang Eggi Sudjana.
Koresponden Tlp/WA : 0816 3121 959

About Post Author