29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Masalah Buruh Indonesia Terhimpit Diantara Omnibus Law dan Virus Corona

PPMI CENTRE – JAKARTA | RUU Omnibus Law menjadi masalah bersama bagi buruh Indonesia, pada sisi lain Virus Corona pun menghantui. Dan akibatnya buruh jadi banyak yang harus dirumahkan oleh perusahaan. Soalnya pun tidak cuma segitu, ada buruh yang dibayar separo dari upah yang seharusnya diterima setiap bulan. Bahkan tak sedikit buruh yang di-PHK atau diputus dalam hubungan kerjanya.

Masalahnya kemudian menjadi rumit ketika pemerintah membuat kebijakan mau mengatasi itu semua tanpa aturan yang jelas.Berapa dan bagaimana cara mendapatkan bantuan itu belum juga ada kejelasannya. Sementara kebutuhan hidup harus dipenuhi setiap hari, agar tidak sampai menimbulkan masalah baru. Mungkin saja RUU Omnibus Law yang mengancam itu bisa diabaikan seperti anggota dewan yang tambeng terus membahas RUU Omnibus Law di tengah wabah virus ganas yang mematikan. Begitu juga buruh menjadi lebih khawatir mati kelaparan karena pembagian sembako sudah dua pekan ditunggu-tunggu tak juga tiba dan diterima..?

Padahal, kalau pun kelak .. entah sampai kapan .. buruh bisa menerima bantuan karena dirumahkan dan upahnya dibayar separo atau bahkan di PHK — bagaimana tata aturannya untuk buruh yang tinggal di luar DKI Jakarta tapi bekerja di perusahaan yang ada di Jakarta. Atau sebaliknya, bagi warga Jakarta yang bekerja di perusahaan yang berada di luar Jakarta.

Itulah sebabnya kerumitan buruh yang dihimpit oleh Omnibus Law dan sergapan virus corona perlu disikapi secara bijak. Pembahasan Omnibus Law di DPR hendaknya ditunda atau dibatalkan saja. Sebab kepanikan buruh yang disampaikan pada Atlantika Institut Nusantara maupun Komunitas Buruh Indonesia secara langsung maupun melalui media sosial sungguh amat sangat mencemaskan.

Umumnya buruh merasa gamang dan merasa harus berjuang sendiri hanya untuk menyelamatkan hidup dan kehidupan mereka sendiri. Buruh ingin sekali bisa hidup normal tanpa perhatian maupun bantuan dari pemerintah. Utamanya dari ancaman RUU Omnibus Law dan virus corona serta akibat dibawanya yang membahayakan itu.

Karenanya pada umumnya kaum buruh mengaku tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian bila Omnibus Law terus berlanjut dibahas DPR di tengah marak berkecamuknya wabah virus yang mematikan itu. Sementara untuk bertahan hidup tanpa pemasukan dan penghasilan di rumah, seperti menunda waktu kematian saja.

Sejujurnya kaum buruh mengaku sungguh merasa cemas. Apakah akan lebih baik berjibaku atau berdiam diri di rumah seperti menyerah kalah. Karena bergerak mati dan tidak bergerak pun pasti mati juga dalam arti hidup yang sebenarnya.

Begitulah buruh pun menanti kebijakan pemerintah yang mau menyatakan penundaan pembahasan Omnibus Law bersama DPR yang terkesan lebih bernafsu mengoalkan RUU Omnibus Law saat semua orang sibuk mengatasi sergapan Virus Corona.

Jakarta, 20 April 2020
Jacob Ereste

About Post Author