06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

BES – JISEL , Istilah Radikalisme dalam Perspektif Logika Al-Qur’an Dan Konstitusi

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
Istilah RADIKALISME dalam Perspektif Logika Al-Qur’an Dan Konstitusi NKRI
(Oleh : Betty HSA, Mantan KOHATI HMI TASIKMALAYA JAWA BARAT)

Dalam kesempatan Kajian Islam Selasa /JISEL , 28 April 2020 M/4 Ramadhan 1440 H. Saya Betty HSA, mantan KOHATI yang pernah di kader BES , mencoba menuliskankan VIDEO DEBAT DI ILC TV ONE yang menampilkan Senior Kami di HMI Bang Eggi Sudjana (BES), karena menurut saya perdebatan tersebut berkualitas, ilmiah , Objektif, Sistematis, simpel dan mencerahkan pemikiran banyak kadernya BES di HMI dan juga PPMI (Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia) yang diPimpinan oleh Daeng Wahidin sebagai Presiden PPMI, ini patut di tuliskan karena banyak kader tidak dapat melihat/menyimak Video tersebut, untuk lebih jelasnya saudara-saudaraku sekalian dapat melihat dan menyimak Tulisan ini. Saya beri judul sendiri yaitu ; Istilah Radikalisme dalam Perspektif Logika Al-Qur’an Dan Konstitusi, dikaji melalui BES THEORY OST- JUBEDIL, CARA BERFIKIR LOGIKA AL-QUR’AN dan PANCASILA – UUD ’45 , Tentang Istilah “RADIKALISME “

Kajian kali ini merupakan kajian intelektual, ilmiah atau study, yang berawal dari BES yang menanggapi dari sebuah hasil study/penelitian P3M oleh Sdr. M. Adrian dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di TV.One , Tahun lalu dalam mengangkat sebuah permasalahan tentang 41 Mesjid yang Terpapar Radikalisme.

Menurut BES THEORY OST- JUBEDIL cara pendekatan Al-qur’an, sikap pemikiran intelektual itu di dukung pada 3 hal :
1. Objektivitas, yaitu tidak memihak (lawannya subjektif)
2. Sistematis, dalam arti tahapan demi tahapan ( tidak loncat – loncat)
3. Toleran, yaitu dapat diterima menjadi kajian yang benar.
Kita mempercayai harus toleran untuk mengakui dan mengikutinya, sehingga menjadi sebuah kebenaran. Perspektif pemikiran intelektual yang sdr M. Adrian itu penelitiannya ngawur. Karena beberapa indikasi definisi radikal yang disebutkannya adalah satu ajaran atau gagasan yg dilaksanakan dengan mengabaikan 2 hal, yaitu :
1. Konstitusi
2. Kenolak kelompok lain.

Ini ngawur jika diartikan radikalisme. Kenapa saya sebur ngawur.?, karena pemahaman radikalisme itu didasari akar yaitu Radiks yaitu akar dasar pada ajarannya itu jadi prinsip-prinsip untuk ditaati. Jadi tidak ada kata negatif pada kata radikal, tapi sepertinya kita secara intelektual pada ketakutan disebut radikal itu tandanya ngawur karena tidak mengerti untuk mendefinisikan radikal itu atau tidak pas.
Jika kita mengaitkan dengan ajaran islam, Syahadat itu radikal karena dia artinya menolak, menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Karena dalam makna “LAA ILAAHA ILLALLOOH” , dalam pemahaman saya yang saya kaji serius dalam pemahaman Islam “Laa” itu mengandung 3 makna;
1. Menolak sesuatu yang bertentangan dengan Islam,
2. Dalam perspektif kesetiaan hanya kepada Alloh Subhanahu Wata’ala saja kita setia dan komitmen
3.Berusaha menjalankan ajaran Islam itu

“LAA ILAAHA ILALLOOH” ini radikal karena ini prinsip dan sebagai akar ajaran Islam. Jadi patut kita curigai pengertian ngawur sdr. M. Adrian tersebut hanya untuk mendangkalkan aqidah, yang mana dipakailah istilah-istilah radikal untuk dianggap mengerikan, apalagi dikaitkan dengan setuju sama ISIS dan yang lainnya. itu kalau dibilang cacat nalar pantas. Dan kalau bung Rocky Gerung bilang itu “dungu”.
Untuk itu dalam pengertian ini saya akan tegaskan secara intelektual berdasar pada BES THEORY OST- JUBEDIL bukan karena emosi, Paham yang anda kembangkan sebagai satu penelitian ini bukan kerjaan sebagai seorang intelektual.

Anda berlindung dari situasi mestinya anda istighfar, karena ini sudah mendangkalkan aqidah. Aqidah Islam kita jadi dangkal, orang jadi takut disebut radikal padahal itu sangat bagus. Kita semua yang hadir diruang publik banyak yang intelektual (mahasiswa dll) saya bangga menyebut radikal karena memegang prinsip saya yang berdasar pada akarnya jika saya mau berusaha taat sebisa saya memegang teguh setia, komitmen karena ada dasarnya, yaitu QS Al-anfal ayat 60, yang artinya : “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggetarkan musuh Alloh, musuhmu dan orang- orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya tetapi Alloh mengetahuinya. Apa saja yang kamu infaqan di jalan Alloh, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu, dan kamu tidak akan dizolimi (dirugikan)”

Itu radikal dan sangat jelas dasarnya. Maka dari itu di dalam pengertian selanjutnya, dikaitkan dengan Pancasila ini yang disebut dengan ideologi. Itu juga harus mengerti definisi ideologi itu apa, jangan kemudian kita nanti malah dituduh anti Pancasila, atau kemudian ada yang bicara, bahkan mohon maaf Presiden Jokowi bilang “Saya Pancasila”. Itu menandakan tidak mengerti Pancasila, karena saya melihat sebagai ideologi. Dalam kajian intelektual tentang ideologi itu ada 6 unsur untuk bisa disebut ideologi, yaitu : berupa gagasan atau ajaran, menyangkut untuk dijadikan pandangan hidup, mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara beserta segi- seginya, diatur dalam satu sistem berikut aturan operasionalnya.

Itulah ideologi, jelas, konkrit dan batasannya konkrit. Nah kalo bicara intelektual, ansih Pancasila saja dia belum lengkap dalam 6 unsur ini. Belum memenuhi unsur tentang sistem, tentang aturan operasional, maka ini gak bisa. Misalnya, ” apakah dia bisa disebut Pancasila jika dia tidak sholat.? “, Kan tidak bisa, karena dia bukan muslim. Tetapi ini ideologi negara dan tidak bisa kalo tidak digandeng nilai-nilai agama. Sebab, kalo ansih dengan Pancasila itu sendiri, misalnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, yang berhak mengklaim itu hanyalah Islam. Karena Islam itu doktrinnya monotheisme/Tauhid. Tapi kenapa kita masih tetap bisa menerima orang lain (non muslim/agama lain)?, karena Allah yang mengajarkan dalam QS Al-Kafirun, jelas judulnya, yang artinya ” 1). Katakanlah (Muhammad), Wahai orang- orang kafir, 2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, 3). Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, 4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah, 6). Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”

Perspektif yg dimaksud itu jelas, toleransinya yang paling TOP dalam ajaran Islam sangat menjunjung nilai-nilai hak asasi manusia. Oleh karena itu jika dikaitkan dengan yang anda teliti, saya berani mengatakan secara intelektual, Anda ngawur dari segi dua hal, yaitu metodenya, (metode cuma merekam saja) dan menjustifikasi radikal.
Benar yang dikatakan Bung Fitra, mesjid itu untuk benda hidup. Bagaimana bisa mesjid disebut radikal? Ia tidak berinteraksi dengan nilal, yang mana nilai-nilai itu ada pada manusia. Dalam perspektif untuk pengertian yang kita maksud ngawurnya itu adalah metodenya. Kalau yang disebut mesjid itu minimal ada memiliki 3 elemen, yaitu :
1. DKM / Pengurusnya
2. Penceramahnya
3. Jama’ahnya
Sekarang yang jadi pertanyaan saya dari 3 hal tersebut, “Bagaimana kalau jama’ah dan pengurus mesjidnya setuju dengan penceramahnya?” Padahal dia (penceramah) mengajarkan hal yang benar, tidak ada yang anda maksud tadi, gak ada dia menolak kelompok lain, gak ada menolak konstitusi, dia menjalankan yang dimaksud Pancasila, sebagai dasar Negara kita dalam Undang- undang Tuhan Pasal 29 ayat 1, Negara Republik Indonesia berdasar pada Ketuhanan Yang Maha Esa, yang dimaksud dengan Tuhan dalam Pancasila adalah “Berkat Rahmat Alloh Subhahanu wata’ala dinyatakan Kemerdekaan. Oleh karena itu semestinya kita mengerti Alloh mempunyai Hukum, namanya Hukum Islam. Dan seharusnya berlaku Hukum Islam tersebut di negara kita. Lalu siapa yang akan memberlakukannya?, Yaitu Presiden dan DPR, yang sudah di atur dan diberlakukan pada pasal 5 ayat 1 JO PASAL 20 dan Pasal 21 UUD 45. Jadi sangat mungkin untuk memberlakukan nilai- nilai Islam itu, dan itu konstitusi, KOK DIBILANG RADIKAL..??’ bahkan tadi dibilang menentang Konstitusi???. Maka disinilah dibilang NGAWURISME nya.

Fastaghfir Billaah, limpahan Rahmat dan Berkah semoga Alloh senantiasa untuk Bangsa dan Negara kita tercinta atas kesadaran UmatNYA dalam menyikapi segala Ujian/Musibah yang kini tengah kita rasakan bersama, semoga Bulan Penuh Rahmat dan ampunan ini akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. “Fastabiqulkhoerot.! Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofuur “, Mari kita selamatkan bersama, bersatu padu untuk mencapai Bangsa dan Negara Yang di Ridhoi ALLOH Subhanahu Wata’ala”, dengan lebih meningkatkan Iman dan Taqwa kita.
Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.

“WASSALAAMU’ALAIKUM Wr. Wb.”

Tasik, 28 April 2020
SALAM TA’ZIEM ,
Betty HSA
Ketua Umum DPC PPMI Tasikmalaya Raya

About Post Author