04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Komitmen Kemanusiaan Kita Yang Teruji Dalam Sergapan Virus Corona

PPMI CENTRE – BOGOR | Masalah wabah Covid-19 yang disikapi pemerintah dengan mengajak warga masyarakat untuk tetap berada di rumah, sehingga pekerja libur dan tidak masuk kerja dan pihak perusahaan atau instansi pemerintah yang tidak perlu cukup melakukan pekerjaan dari rumah, belum juga bisa menghentikan penyebaran wabah corona yang mematikan itu.

Konsekuensinya memang pemerintah pusat maupun daerah harus memasok bahan makanan agar warga masyarakat bisa bertahan tidak keluar rumah. Toh, dimana-mana tetap saja ada warga masyarakat yang berpergian untuk berbagai keperluannya masing-masing. Setidaknya pada bulan Ramadhan ini pun keinginan untuk memenuhi keperluan mulai dari keinginan ziarah kubur hingga keperluan lain seperti mudik atau pulang ke kampung halaman, toh sulit dibatasi, sehingga petugas khusus untuk itu perlu melakukan pencegahan pada mereka yang tetap ingin mudik atau pulang kampung itu di sejumlah pintu ke luar kota.

Pelarangan untuk mudik atau pulang ke kampung ini, seakan memberi kebebasan untuk mereka yang dari kampung hendak datang ke kota. Padahal masalah pokoknya adalah menahan diri untuk tidak melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain agar penyebaran wabah corona bisa dilokalisir, tidak terus menyebar ke mana-mana hingga perluasan daerah terdampak dapat diminimalisir.

Ambisi mudik atau pulang kampung itu sama egoismenya seperti kacaunya pemahaman pada istilah mudik atau pulang kampung itu sendiri. Sebab masalah lain adalah bagi mereka yang berupaya patuh tetap tinggal di rumah, tidak sedikit yang mulai kehabisan stock bahan pangan atau kandas dana simpanannya, sehingga perlu mencari uang ke luar rumah untuk sekedar mencukupi keperluan makan keluarga sehari-hari. Istilah kerennya yang ramai di medsos bahwa sejak 2 bulan lalu sudah banyak pekerja berstatus ODP (Orang Drop Penghasilan); Sekarang sudah meningkat menjadi PDP (Positip Dadi Pengangguran); Sebentar lagi beneran terkena Korona (Kondisi Rontok Dana); karena PSBB (Pemasukan Sedikit Beban Banyak).

Itulah sebabnya masalah paket bantuan bahan pangan yang dijanjikan pemerintah pusat maupun dari pemerintah daerah sangat ditunggu-tunggu, sebab untuk warga di DKI Jakarta saja hingga minggu ke tiga memasuki pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) bantuan paket sembako yang dijanjikan belum merata diterima oleh warga masyarakat. Lain lagi ceritanya soal jumlah dan bentuk serta cara penyaluran paket bantuan itu. Apalagi ada pula yang hendak diberikan dalam bentuk uang tunai.

Teknis pemberian bantuan untuk warga masyarakat baik dalam bentuk barang maupun yang tunai memang sudah mendapat dukungan dari Polri melakukan pengawasan guna memastikan semua warga masyarakat bisa memperoleh bantuan itu dengan baik dan utuh dan lancar. Karena memang sangat mungkin diselewengkan oleh petugas di lapangan yang rakus dan culas.

Kesulitan serius berikutnya yang harus dihadapi pemerintah adalah mengatasi akibat terusan dari dampak virus corona, yaitu masalah pekerja dan pengusaha yang berhenti proses produksinya. Kepada pekerja, pemerintah sudah berjanji hendak memberi bantuan mulai dari pekerja yang dirumahkan dan hanya dibayar separo dari nilai upah, hingga buruh yang di PHK hingga tidak lagi punya pekerjaan.

Sementara pengusaha yang masih bersedia mempertahankan para pekerjanya diwacanakan mau dibantu oleh pemerintah dengan cara mendapat pinjaman dana talangan dengan syarat yang ringan, baik soal bunga maupun teknis dalam pengembaliannya. Itulah sebabnya pemerintah terus mempersiapkan ratusan triliun dana untuk mengatasi sergapan corona serta dampak terusannya. Tapi soalnya sekarang bagaimana semua kebijakan itu bisa terealisasi menjadi bagian dari tanggung jawab bersama segenap warga masyarakat guna membantu, mengawal, mengawasi dan mewujudkannya secara nyata ?

Menghadapi bencana gawat kemanusiaan ini haruslah jujur, bersih dan ikhlas. Sebab bencana apapun nama dan bentuknya, janganlah sampai menjadi azab berlanjut kelak pada anak dan cucu kita di masa mendatang.

Wabah corona yang melintas di bulan Ramadhan ini, bisa menjadi bagian terhadap ujian ketangguhan; kesabaran, kepedulian dan kebersamaan serta totalitas dalam bersolidaritas setiap orang yang sesungguhnya. Bagi yang kukuh menggenggam nilai-nilai dari kemanusiaan, bisa kita saksikan bersama.

Begitu juga bagi mereka yang mau mengambil kesempatan dalam kesempitan dan memanfaat untuk mendapatkan keuntungan dari bencana kemanusiaan ini. Bisa kita lihat dan rasakan dengan jelas seperti apa yang sedang terjadi dan terus berlangsung pada hari ini.

Jakarta, 27 April 2020
Jacob Ereste (Aktivis Buruh)

About Post Author