27/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Nur Sang Adji : Integrity

Pagi ini saya dapat kiriman tiga video dari group WA negarawan muda. Ada Bupati yang marah kepada menteri. Lebih hebat lagi, ada lurah yang marah (mengadu) ke Presiden. Tapi, video terakhir lebih unik. Ada penyesalan seorang Bupati karena kecilnya gaji yang diterimanya.

Banyak komentar menghardiknya. Namun, saya, malah memujinya. Inilah contoh manusia Bupati yang jujur, bicara apa yang dia rasakan. Karena begitu kondisi yang dialami para Bupati maka korupsi itu kata beliau bukan hanya terpaksa tapi harus. Nah, tunggu apa lagi. Itulah faktanya. Mengapa kita bernegara terus dalam kepura-puraan. Karena dia bilang, baru tahu setelah jadi Bupati. Anggaplah begitu. Maka, semua calon Bupati mutlak diberitahu lebih dahulu bahwa jadi Bupati itu gajinya kecil. Siap menderita (baca : leadershipnya Umar bin Abd Azis). Atau ubah kebijakan. Tunjukan angka nominal yang logik. kemudian diperketat di penegakan hukum sesudahnya.

Ada pandangan antagonis, datang dari dunia kampus. Guru saya di UNTAD, Drs Syafrudin, Msc. Ketika orang minta gaji guru dan dosen dinaikan. Beliau bilang, tidak perlu. Saya tanya kenapa ? Beliau berargumen, agar terpilah emas dan pasir. Maksudnya ? Supaya, yang jadi guru atau dosen hanyalah mereka yang dedikasi pengabdiannya sangat tinggi. Karena mereka mendidik manusia. Beliau lanjutkan, kalau gajinya tinggi maka semua orang berlomba jadi guru atau dosen. Biar yang tidak pantas dan tidak berdedikasi pun, ikut serta. Dari sinilah dimulainya kehancuran peradaban. Sementara peradaban itu dibangun dari kejujuran, kebenaran dan keteladanan. Dengan sedikit apologi, saya sela beliau. Bukan naikan gaji, tapi beri nominal yang pantas atau layak. Beliau hanya menanggapinya dengan senyum.

Beliau sudah wafat. Rahmat dan magfirah kita doakan. Andaikan belum wafat. Beliau akan saksikan bagaimana orang berlomba jadi guru dan atau dosen dengan berbagai cara. Dunia akademik pun begitu. Orang bisa bersekongkol untuk memberi gelar dalam proses akademik. Sebenarnya, meloloskan atau menjegal dengan cara curang adalah tradisi purba yang terawat hingga kini. Bahkan di dunia pergurian tinggi sekalipun. Tempat kaum terpelajar berkumpul. Tapi, UGM pernah beri contoh mulia. Dicabutnya gelar doktor dari satu orang ternama di repoblik ini. Dosennya sendiri, lantaran cacat akademis (baca : problem integritas).

Sekiranya masih hidup, beliau, pak Safruddin juga akan melihat bagaimana gaji dan tunjangan dosen, terutama yang menjabat, membengkak jauh meninggalkan standar nasib semasa hidupnya. Tapi, sudahlah biar menjadi urusan sendiri sendiri saja. Sebab, menyoalnya akan dikategori ikut menyebarkan kebencian.

Saya dapat cerita lain dari Kanda Rudi, Bupati Buol tentang Kanda Ale, Bupati Tolis. Dalam sebuah pertemuan para Bupati se indonesia. Usai arahan presiden untuk agar Bupati jangan ambil uang rakyat. Berdirilah kaka Ale dengan gaya khasnya, lantang mengintrupsi presiden.

Beliau, Bupati Tolis ini menyela. Kami tidak ambil uang rakyat pak Presiden. Kami ambil dari pengusaha.. Kemudian kaka Ale konfirmasi dalam pertanyaan oratoris kepada para Bupati yg lain. Betul khan..? Betul khan..? Diulanginya berkali kali. Banyak Bupati yang setuju sambil beri semangat dan tepuk tangan. Ada juga yang geleng geleng kepala. Saya yakin sebagiannya, bukan karena tidak setuju. Tapi mungkin lantaran malu atas kebiasaannya.

Bagi saya, ini pernyataan berani dan gentelemen dari seorang Bupati. Tapi apa solusi negara untuk ini.? Sejak dahulu, gaji itu memang kecil. Namun, mereka didukung dengan Tunjangan Fungsional yang besar (non budgeting). Kabarnya, sekarang sudah tidak. Maka jalan teraman adalah kolaborasi korporatif. Mulai dari terutama proyek infra struktur hingga exploitasi SDA. Kalau semua proyek infra struktur diperiksa pakai pembuktian terbalik. Apriori, banyak yang bermasalah dengan hukum.

Tahun 90-an saya ikut dalam satu diskusi anti korupsi bersama Teten Masduki. Beliau kala itu pimpin ICW. Ada satu anekdot yang beliau ungkap tentang PNS indonesia dan PNS Amerika. PNS USA uraikan gaji dan penggunaannya kepada PNS Indonesia. Gaji saya 1000 dollar. 500 untuk konsumsi. 100 untuk pendidikan. Seratus lagi untuk trasportasi dan seratus lagi untuk rekreasi. Lalu PNS Indonesia penasaran. Terus yang dua ratus lagi untuk Apa.. ? Si Amerika mengungkap dengan tenangnya, “confidensial “.

Si Amarika lanjut bertanya, kalau anda di Indonesia.? PNS kita menjelaskan. Saya punya gaji, 3 juta rupiah. Dua juta untuk konsumsi harian keluarga. Satu juta untuk pendidikan anak. Lima ratus untuk transportasi dan lima ratus lagi untuk rekreasi. Heran dan penasaranlah PNS Amerika ini. Lho, itu khan sudah lebih satu juta..? Anda dapat dari mana satu juta tersebut..? Dengan santai si PNS Indonesia ini bilang, “confidensial” (rahasia).

Teten lalu lanjutkan anekdot yang ke dua. Kali ini tentang Insinyur Teknik Indonesia yang studi di Jerman. Setelah usai kuliah, dia pulang ke indonesia definitif (bukan mudik yaa). Setahun kemudian dia kunjungi jerman. Dijemputlah oleh kawan jerman untuk nginap di rumahnya.

Terkagumnya kawan Indoesia melihat arsitsktur mewah rumah kawannya ini. Bertanyalah dia, dari mana anda dapat uang untuk bikin rumah sebagus ini. Si jerman menjelaskan. Anda lihat di sepanjang jalan ada banyak jalan mulus dan jembatan megah terbangun ?. Iya, kata kawan Indonesia. Si jerman menimpali. Nah, sedikit dari anggarannya saya ambil untuk bikin rumah ini.

Berselang setahun kemudian, giliran si jerman yang ke Indonesia. Dijemputlah oleh kawan lama asal Indonesia tersebut. Begitu tiba di rumah, si jerman ini terpukau melihat keindahan arsitektur rumah tinggal sahabat indonesia ini. Antara kagum dan heran, dia bertanya. Dari mana anda dapat uang untuk bikin rumah semewah ini ?

Dengan tenang, si Indonesia ini menjawab. Anda lihat di sepanjang jalan ada jembatan dan jalan. Iya, kata si jerman. Ada jalan dan jambatan tapi sebagian besar rusak dan tidak layak. Anda tahu, kata si Indonesia. Sebagian besar dana untuk jalan dan jembatan itu saya ambil untuk bangun rumah saya ini.

Dua anekdot yang dicerita Teten puluhan tahun silam itu, masih relefan hingga kini. Sekarang Teten telah jadi menteri. Apakah cerita ini beliau terapkan sebagai iktiar mengelola menagemen leadershipnya, wallahu a’lam.

Palu, 29 April 2020
Nur Sang Adji
Penulis, di samping mengajar Ekologi dan Pertanian, juga mengajar mata kuliah Pendidikan Karakter dan Anti Korupsi, Univ Tadulako

About Post Author