25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Alasan Bung Karno, Membatasi Modal Asing Di Indonesia

Aristoteles Onassis, raja kapal terkemuka Yunani pernah menjamu Bung Karno sebagai tamu kehormatan di kapal pesiar miliknya yang sekaligus berfungsi sebagai kantor terapung. Di atas perairan Laut Tengah, mereka mengadakan pembicaraan empat mata.

Onassis menjajaki kemungkinan menanamkan modalnya di Indonesia dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang pertambangan. Untuk keperluan tersebut, ia mengungkapkan dapat mengerahkan bermiliaran dollar AS. Onassis bicara blak-blakan meski diselingi dengan banyolan. Ia menghendaki adanya jaminan bahwa perusahaan dan modalnya nanti tidak akan dinasionalisasikan dalam jangka waktu 35 tahun. Itulah syarat yang diajukannya, namun bagi Bung Karno itu merupakan rintangan.

Menurut Bung Karno, Indonesia harus membuat ketentuan dan UU yang membatasi semua izin usaha paling lama sampai 15 tahun saja. Izin ini dapat diperpanjang jika perusahaan itu menguntungkan negara dan rakyat Indonesia. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah modal asing atau modal domestik swasta menduduki posisi yang dapat menentukan perekonomian nasional. Sebelum memiliki rencana pembangunan nasional semesta yang jelas dan realistis, negara tidak boleh memberikan kesempatan kepada modal asing beroperasi di Indonesia.

“Yang kita perlukan ialah bantuan mereka dalam bidang ilmu pengetahuan, teknik, dan pinjaman khusus untuk mengembangkan perindustrian rakyat, yang dapat memberikan lapangan pekerjaan yang cukup luas dan untuk melaksanakan progam pangan, sandang, papan dan pendidikan,” ujar Bung Karno.

Sampai tahun 1965, kecuali dalam bidang minyak bumi, belum ada penanaman modal asing di Indonesia meskipun investasi itu dimungkinkan oleh UU PMA Tahun 1958. Negara asing yang berminat cukup banyak, seperti Jepang yang telah bertahun-tahun ingin menanamkan modalnya di bidang kehutanan terutama di Kalimantan. Namun Bung Karno selalu menunda keputusannya karena tidak adanya kejelasan gambaran untung ruginya dalam hubungan kelestarian alam, perluasan daerah pertanian dan sebagainya.

Inilah pesan – pesan Presiden Soekarno kepada seluruh generasi penerus Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia :

“Negara ini, Republik Indonesia, bukan milik kelompok manapun, juga agama, atau kelompok etnis manapun, atau kelompok dengan adat dan tradisi apa pun, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”

“Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini dan syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak.”

“Jikalau aku misalnya diberikan dua hidup oleh Tuhan, dua hidup ini pun akan aku persembahkan kepada tanah air dan bangsa.”

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

“Jangan pernah melupakan sejarah. Ini akan membuat dan mengubah siapa diri kita.”
Soekarno Putera Sang Fajar Founding Father Negara Kesatuan Republik Indonesia

(Sumber 📖: “Penjaga Terakhir Soekarno”)
Group Fb Sejarah Indonesia Jaman Dulu.

About Post Author