25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Perlawanan dan Ketahanan Kaum Buruh Dari Sergapan Virus Corona

PPMI CENTRE – JAKARTA | Masalah krusial bagi buruh yang terdampak pandemi corona yang semakin mengganas sekarang adalah menanti kiriman bantuan pangan agar bisa terus hidup dan bertahan di rumah atau kamar kontrak masing-masing yang harus segera dibayar sekarang juga. Tak bisa ditunda seperti keperluan makan sehari-hari. Apalagi pernyataan-pernyataan Menteri Tenaga Kerja di Media – media Sosial terlihat tidak konsisten dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku

Begitulah kondisi buruh setelah di rumahkan tidak boleh bekerja untuk sementara waktu. Sementara upah pun cuma dibayar setengah, atau bahkan tidak sedikit pula yang diputus sama sekali karena di PHK pihak perusahaan tanpa pesangon.

Akibatnya, sangat mungkin lantaran habis daya tahan secara ekonomi, akan sangat gampang terpicu oleh pilihan nekad diluar nalar dan akal sehat.

Sebab kebutuhan terus mendesak seperti virus corona yang menteror dimana-nana di negeri kita. Sementara untuk mudik atau pulang kampung sudah diblokir dengan berbagai cara oleh aparat.

Jadi mematuhi untuk terus diam di rumah atau di tempat kontrakan tidak saja telah amat sangat membosankan sejak beberapa pekan silam sejak mulai diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), tetapi juga kesabaran menanti bantuan yang dijanjikan sampai hari ini tak kunjung datang.

Beberapa kawan dan tetangga di seberang rumah, pun mulai resah dan mengeluh soal bantuan yang dijanjikan itu. Hingga tak heran diantaranya ada yang mulai menyimpulkan bila persiapan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat belum bisa mengantisipasi masalah nyata yang dihadapi kaum buruh atau bahkan masalah dari segenap warga masyarakat pada umumnya dalam menghadapi dampak terusan dari pandemi covid-19 yang mengancam itu.

Kesulitan kaum buruh yang mulai banyak jumlahnya yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan ini, semakin gamang mengikuti cara pemerintah untuk mengatasi soal yang sedang mereka hadapi, terutama dalam mekanisme dari program untuk memilih kondisi kerja yang tidak jelas juntrungannya. Terutama untuk memperoleh bantuan lebih lanjut sebagai persiapan guna mendapat pekerjaan kembali setelah pandemi jahat itu bisa ditaklukkan. ditambah lagi statemen dan kebijakan Menaker yang mencla-mencle makin mendera penderitaan kaum buruh dalam menghadapi wabah Covid 19.

Yang runyam, ketika melihat kejadian nyata di lapangan virus corona itu cenderung makin meluas menebar di masyarakat, tentu kegusaran kaum buruh pun semakin jadi meningkat pula.

Lantas tindakan apa yang harus dilakukan, kalau tidak bersikap abai terhadap ancaman virus yang mematikan itu dengan cara terus berusaha untuk mencukupi keperluan hidup sehari-hari sambil giat mencari cara untuk dapat mempunyai penghasilan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup untuk diri sendiri atau pun dengan keluarga.

Jadi masalah utamanya adalah, sampai kapan kondisi dan situasi seperti itu mampu dihadapi oleh setiap buruh yang umumnya menghadapi keadaan yang tidak berbeda dengan mereka yang lain. Sebab dalam kondisi dan situasi yang sama dialami oleh banyak orang, bencana dan malapeta itu pun bisa saling bertindihan dan bisa memicu kegaduhan yang lebih absurd dari virus corona itu sendiri.

Jakarta, 12 Mei 2020
Jacob Ereste
AKtivis Buruh/Pengamat Sosial

About Post Author