06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

TNI Patut & Pantas Diajak Berada di Garis Terdepan Menghalau Virus Corona

PPMI CENTRE – JAKARTA | Upaya mencegah dan menghalau virus Corona patut melibatkan TNI kita, karena lebih tangguh dan dapat dipercaya menghadang virus corona maupun dampak dari terusannya.

Pemberian bantuan atau bingkisan untuk warga masyarakat agar tetap mampu bertahan di rumah perlu dilakukan secara seksama dan kehati-hatian yang serius agar tidak sampai menimbulkan masalah baru seperti kecemburuan sosial yang terus menggejala dalam masyarakat.

Pemberian bahan pangan secara langsung termasuk bantuan lainnya dari pemerintah daerah dan pusat serta bantuan langsung dari Presiden bukan tak bagus dilakukan, tapi tekniknya tidak perlu sensasional begitu dengan menyambangi langsung warga masyarakat hingga terkesan jadi berlebihan atau pencitraan.

Rasa cemburu itu boleh jadi bukan disebabkan oleh nilai bantuan yang diberikan itu belum juga diterima sampai dua pekan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mulai diberlakukan. Sebab tidak pula mungkin semua rakyat miskin bisa langsung ditemui dengan menerimanya langsung dari Presiden.

Kecuali itu kerja teknis seperti itu mengapa harus dibuat susah bila sesungguhnya dapat dilakukan dari balik meja di istana dengan mengerakan TNI kita, misalnya.

Sebab rasa cemburu warga masyarakat Jakarta misalnya sampai pekan kedua memasuki PSBB dilakukan jadi semakin miris karena sudah tidak pula bisa pulang ke kampung halaman atau mudik, sementara paket sembako yang ditunggu belum juga datang.

Keinginan warga masyarakat untuk ikut taat ajakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bukan tak hendak dilakukan tetapi daya tahan hidup tanpa penghasilan karena tidak lagi bekerja, seperti terpaksa untuk keluar rumah atau pulang ke kampung atau mudik. Sebab hakekatnya sama dalam pengertian bertaruh, mati karena corona atau mati karena tidak bisa makan.

Hasrat untuk taat pada ajakan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus jahat itu sangat bisa diterima, asalkan saja desakan dari ancaman yang lain — tidak bisa lagi bertahan di kota misalnya seperti Jakarta, agaknya bisalah diterima akal sehat.

Yang runyam, warga yang sangat memerlukan bantuan bahan pangan sampai hari ini semakin banyak yang gelisah. Karena mereka belum juga menerima bantuan yang dijanjikan itu.

Tentu saja yang lebih membuat cemas jangan sampai daya tahan warga masyarakat ini menimbulkan masalah baru. Entah apa saja bentuknya, tapi tetap saja tidak bisa dianggap enteng.

Apalagi dasarnya adalah kebutuhan hidup yang terus mendesak tanpa bisa ditunda-tunda. Dan saat memasuki bulan Ramadhan yang sepatutnya dapat lebih hikmat dijalani tanpa harus merasa gundah pada menu berbuka puasa atau saat makan sahur dengan tenang dan senang bisa sambil merenung apa sebetulnya pertanda dari wabah ini yang sesungguhnya.

Jadi agak naib ketika ancaman kematian sedang mengintai semua orang, masih ada juga pejabat di Indonesia yang tetap ingin melakukan bisnis atau mencari duit dengan mengabaikan keselamatan jiwa dengan tetap memberikan kebebasan pada bangsa asing masuk ke negeri kita. Sementara kita sebagai pemilik negeri ini sedang mengisolasi diri dengan cara membatasi kegiatan serta menghindar dari kerumunan orang banyak.

Jadi agak ganjil bila masih ada orang yang mau menjadikan pandemi ini seperti proyek guna mencari keuntungan atau kekayaan serta popularitas. Karena itu jika pemerintah serius hendak mencegah virus ganas ini yang telah menelan banyak korban, ada baiknya juga bila ide untuk ikut mengerahkan potensi besar TNI kita yang cukup kuat dan masih dapat dipercaya masyarakat dalam hal kredibilitas dan keberpihakannya yang tulus untuk masyarakat. TNI kita jelas memiliki disiplin diri yang Tinggi dibanding Instansi lainnya.

Sebagai pelopor untuk memberi arahan bagi masyarakat agar lebih tertib dan patuh tak pulang kampung atau mudik pun, TNI bisa ditempatkan pada garis depan, termasuk dalam menyalurkan ragam bentuk bantuan yang mau disampaikan pada masyarakat. Jadi tidak perlu sampai Presiden sendiri yang harus menenteng paket sembako untuk dibagikan kepada setiap warga masyarakat. Karena pasti akan lebih elegan dan bermutu bila Presiden cukup mengupayakan saja tambahan bahan pangan dan nilai subsidi yang lebih baik dan lebih banyak supaya rakyat banyak mampu bertahan lebih kuat dan lebih betah berdiam diri di rumah. Sebab bila tidak, rakyat bisa makin ngotot ke luar rumah. Atau mau pula menjarah.

Sungguh .! Itulah kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan kita.

Jakarta, 11 Mei 2020
Jacob Ereste
AKtivis Buruh/Pengamat Sosial

About Post Author