27/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

BES : Kajian Islam Sabtu (JITU), Logika AL FATIHAH

.بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Kajian Islam Sabtu (JITU), Logika AL FATIHAH

Berdasarkan teori ESM-OSTJUBEDIL (Eggi Sudjana Mastal- Objektif, Sistemis, Toleran, Jujur, Benar, Adil) mengenai logika Al-fathihah kiranya dapat dibagi dalam 3 kategori, yaitu

  1. Kategori PUJI-PUJIAN pada ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA . dan menyadari penuh akan adanya hari akhir berupa pembalasan dari perilaku yang kita lakukan.
  2. Adanya kewajiban dan hak antara ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA dan manusia, dalam dunia barat logika ini dibalik menjadi hak dulu baru kewajiban.
  3. Mempelajari, menghayati, dan membandingkan berfikir secara serius mengenai rentetan peristiwa sejarah kehidupan dibagi dua jenis kemanusiaan untuk dijadikan ibroh (pelajaran) bagi generasi yang silih berganti, yaitu orang-orang yang menempuh jalan yang lurus (Islam) dan orang-orang yang menempuh jalan yang dimurkai oleh ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA . karena Zholim dan sesat.

Bahwa dalam bahasan ketiga kategori tersebut ditinjau secara teori ESM-OSTJUBEDIL , dapatlah suatu konklusi untuk setiap orang dalam INTROSPEKSI DIRI nya , apakah telah menempuh JALAN yang LURUS atau sebaliknya. Konklusinya , yaitu :

  1. Bersikap ISTIQOMAH / KONSISTEN / TEGUH PENDIRIAN nya dalam memegang PRINSIP , sebagaimana yang diinginkan oleh ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA . dalam surah Al-Ahqaf ayat 13, yaitu :
    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

QS. Al-Ahqāf : 13

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah ALLAH ,” kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati.

Oleh karena itu, sikap teguh pendirian/ istiqomah tersebut merupakan konsekuensi logis dari pemahaman akan nilai-nilai yang diajarkan oleh ke-tauhid-an, yang pada intinya adalah menolak segala sesuatu atau ajaran apapun yang bertengangan dengan ajaran Islam. Maka, pada turunan berikutnya setelah berkemampuan menolak yang tidak ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA
tidak kehendaki maka orang tersebut dipastikan sekuat mungkin bertahan atau berjuang melawan sampai akhirnya baik itu kalah atau menang. Dalam peristiwa perjalanan perjuangan itulah manusia diukur ke-istiqomah-annya.

  1. Berksikap loyal atau kesetiaan yang prima, hanya mencintai ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA kemudian tunduk patuh menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada
    ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA
    dan Rasul-Nya. Kesetiannya pada ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA tersebut merupakan indikator bahwa orang tersebut telah memposisikan dirinya menjadi orang yang tershibgoh / tercelup .

QS. Al-Baqarah : 138

صِبْغَةَ اللَّهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً ۖ وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

“Sibghoh Allah”. Siapa yang lebih baik Sibgahnya daripada ALLAH ? Dan kepada-Nya kami menyembah.
Pemahaman SIBGHOH ALLAH dalam penjelasan ayat tersebut yaitu berupa celupan ALLAH . Pemahaman celupan sederhana adalah ketika kita mencuci baju dengan mewarnai (diwantex).

Proses di wanteks ( diwarnai ) itulah yang berupa celupan. Oleh karena itu, celupan dalam konteks agama Islam dimaknai dengan segala jiwa dan pikirannya benar-benar merupakan celupan dari Agama Islam, sehingga wujud konkret Celupan Agama ALLAH adalah kesetiaan yang total, tanpa ada reserve atau ada perselingkuhan lainnya yang tidak menunjukkan CELUPAN ALLAH .
Dengan kata lain, celupan Allah itu wujudnya adalah benar-benar ketakwaan kepada-NYA atau seluruh jiwa raganya terwarnai oleh warna Islam, yaitu warna putih bersih yang menunjukan keikhlasan, tidak ada noda dan lainnya.

Kemudian bentuk kesetiaan lainnya dalam konteks ibadah sebagaimana celupan Allah itu terwujud dalam bentuk tindakan dalam beribadah sebagaimana QS Al Ahzab :

QS. Al-Ahzāb : 35

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

QS. Al-Ahzāb : 36

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai ALLAH dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.

Kesetiaan lainnya dalam konteks politik tentulah orang-orang yang sudah tersibghoh / tercelup oleh ajaran Islam, maka dalam berpolitiknya mengacu kepada Q.S. Al Fatihah ini yang mengajarkan untuk memperhatikan track record orang-orang yang berpolitik di jalan ALLAH atau DIMURKAI oleh ALLAH , mulai dari kafir, musyrik. Jadi, panduan berpolitiknyaadalah tuntunan sejarah para tokoh bangsa untuk kemaslahatn NKRI dengan segala pengorbanannya pada saat itu. Kemudian diambilah ibrohnya dari track record orang berpolitik berprestasi dalam pentas sejarah. Kesetiaan dalam konteks ekonomi adalah berbasis kepada konsep yang berupaya menerapkan dalam bidang produksi, konsumsi, distribusi, dan moneter secara Islami.

Tidak mengambil konsep kapitalisme ,Liberalisme , Kesetiaan dalam konteks hukum tentu konsisten bagaimana menegakkan hukum-hukum ALLAH di NKRI dengan kata lain, NKRI MESTI tersibghoh oleh celupan agama ALLAH. Dasar yuridisnya adalah , Mukadimah Alinea ke 3 dari UUD 45 , Sila Pertama Pancasila Ketuhanan yang Maha Esa, diwujudkan dalam Pasal-pasal UUD 1945 terutama Pasal 29 ayat 1 dan 2. Kemudian penerapan hukum Islamnya oleh Presiden dan DPR Pasal 5 ayat 1 JO Pasal 20 dan 21 UUD 1945

Jadi, konkret penentu dan penegakkan hukum di Indonesia adalah Presiden dan DPR. Bahkan DPR punya kewajiban melakukan pengawasan kepada Presiden. Tetapi secara normatif hukum sudah 74 tahun 9 Bulan Indonesia Merdeka, Presiden tidak pernah dipanggil oleh DPR RI untuk mempertanggungjawabkan penegakkan hukumnya yang tidak proporsional seperti mengeluarkan Perpu yang justru banyak bertentangan dengan UUD 1945 dan UU organik lainnya.

Bahkan terbaru, dari 9 fraksi DPR, hanya PKS yang menolak Perpu No. 1 Tahun 2020, yang intinya Pasal 27 dari Perpu tersebut memberikan imunitas kepada eksekutif untuk leluasa dan cenderung seenaknya untuk penggunaan uang COVID 19 yang lebih dari 400 trilyun tanpa pertanggungjawaban.
Dalam penegakkan hukum ini DPR RI sebagai legislatif dan Presiden sebagai Eksekutif sungguh belum tercelup atau tersibghoh oleh agama ALLAH . Justru tercelup terhadap kepentingan-kepentingan para TAIPAN atau pengaruh global lainnya, sehingga menyimpang dari nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia ( Sila ke 5 Panca Sila ) Adapun bidang-bidang lainnya seperti sosial budaya, pendidikan, dan lain-lainnya dapatlah dipastikan juga tidak TERSIBGHOH / tidak tercelup warna agama ALLAH .

Bahkan akhir-akhir ini merebak isu komunisme bangkit kembali, apalagi disertai masuknya TKA China yang sudah diperkirakan banyak, karena dengan data yang terus bertambah. Bahkan di Sulawesi Tenggara , justru kontroversi, pribumi banyak yang tidak bekerja atau di karantina wilayah Mandiri tidak difasilitasi yang memadai namun TKA China difasilitasi. Pertanyaan seriusnya , mengapa keadaan serius tersebut dibiarkan saja oleh Presiden Jokowi ???

  1. Kategori bersyukur. Berdasarkan teori ESM yaitu OST JUBEDIL ( OBYEKTIF , SISTEMATIS, TOLERAN – JUJUR , BENAR , ADIL , dalam PEMAHAMAN nya bukan PENAFSIRAN nya dalam konteks BERSYUKUR yaitu setidaknya ada 3 hal penting:
  2. Bersyukur dalam pemahamannya mendapatkan KARUNIA/ANUGRAH dari ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA kepada hambanya yang bersyukur. Memaknai karunia dan atau anugerah lihatlah diri sendiri atau bercermin diri, yaitu nikmat Tuhan Mana lagi yang didustakan (QS Ar Rahman diulang lebih dari 25 kali, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan) dari kesempurnaannya jati diri dan tubuh kita dan totalitas alam semesta.
  3. Bersyukur dalam pemaknaan menjadi orang-orang yang taat dalam beribadah. Oleh karena itu , taat dalam beribadah tidak dapat atas kemauan sendiri akan tetapi suasana hati yang dipengaruhi oleh kecintaannya kepada ALLAH, ketundukpatuhannya, kepasrahannya, yang karena Rahmat ALLAH bukan karena kemampuan dirinya sendiri untuk beribadah.

Akan tetapi, beribadah dikarenakan Ridhonya ALLAH , diberikannya rahmat ALLAH pada orang-orang bersyukur. Dengan kata lain, tanpa daya juang untuk bersyukur maka dipastikan tidak akan dapat rahmat ALLAH atau karunia atau anugerah dari ALLAH serta taat dalam beribadah. Dengan kata lain, orang-orang yang malas beribadah bahkan enggan dalam beribadah kepada ALLAH, maka persamaannya adalah persis dengan iblis dan setan. Turunan logika berikutnya, mereka itu termasuk kepada orang-orang yang tidak bersyukur kepada ALLAH . Jika tidak bersyukur tentu tidak mendapatkan nilai-nilai hikmah, karunia, anugerah dan lainnya yang menunjukkan orang itu dimurkai oleh ALLAH karena tidak bersyukur

.Q.S. Ibrāhim : 7

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti AZAB-Ku sangat berat”.

  1. Bersyukur dalam konteks ketiga adalah mesti tahu diri untuk menyadari kemuliaan dan segala nikmat pergaulan yang sangat menyenangkan ini dikarenakan ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA menutupi atau tidak dibongkarnya Aib diri manusia masing-masing.

Oleh karena itu, rasa bersyukur itu sangat terasa manakala kita menyadari ditutupnya Aib kita oleh ALLAH atau dibongkar bahkan sampai dipertontonkan Aib nya sebagaimana kita lihat di tingkat Bupati/walikota , Gubernur , Menteri, DPR, bahkan Presiden RI sudah banyak yang dipertontonkan AIB nya oleh ALLAH yang menunjukkan manusia itu lemah tak berdaya , tak MAMPU MENAHAN Aib nya untuk TIDAK DIBONGKAR , untuk mensikapi rasa syukur yang selanjutnya karena bersyukur tertutupnya aib kita itu adalah dengan berkorban, baik korban harta, tenaga ,pikiran, bahkan korban jiwa untuk mencari keridhoan ALLAH , karena di dalam keridhoan ALLAH itulah sesunguhnya RASA SYUKUR Kita diterima oleh ALLAH , karena Orang tersebut MENGORBANKAN DIRI nya untuk menggapai Ridho ALLAH (Q.S . Al Baqarah Ayat 207 ).

Kemudian pengorbanan berikutnya menurut pemahaman
.Q.S. Al-Kauṡar : 2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada ALLAH ).

QS. Al-Kauṡar : 3

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat ALLAH ).

Ada dua hal penting dalam QS Al Kautsar, yaitu,

  1. Melakukan Sholat , merupakan bentuk mensyukuri Nikmat yang banyak ini disyukurinya melalui Sholat. Jadi, orang yang Sholat adalah orang yang sesungguhnya bersyukur kepada ALLAH . Dia memujinya, mengagungkannya, dan meyakini hari akhir-Nya. Setiap hari minimal 17 kali Sholat dilakukan. Maka, amalan yang terbaik di akhirat nanti hisabnya adalah SHOLAT yang utama.

Dengan demikian, warning kepada Mereka yang belum solat atau TIDAK Sholat, sadarilah, di samping durhaka karena menentang perintah ALLAH, sesungguhnya mereka YANG TIDAK SHOLAT adalah orang yang TIDAK TAHU DIRI kepada ALLAH dan TIDAK BERSYUKUR . Orang-orang yang tidak bersyukur, tentu akan MENDATANGKAN MURKA ALLAH sang Maha Pemberi Segala Sesuatu . Jadi, sesungguhnya orang-orang yang tidak Sholat adalah orang-orang yang tidak bersyukur kepada ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA

  1. Orang-orang yang bersyukur diukur dari tingkat pengorbanan dari apa yang paling berharga di dalam dirinya yang siap dikorbankan untuk di jalan ALLAH . Contoh legendaris adalah pada Nabi Ismail dan Ibrahim, yangmana Ibrahim meminta kepada Anaknya untuk disembelih. Selanjutnya Nabi Ismail merespon dengan penuh kegembiraan untuk menyerahkan nyawanya untuk disembelih oleh Ayahandanya karena tahu itu perintah ALLAH . Peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ini lahirlah konsep ritual Qurban dengan memotong sapi, kambing, unta yang pantas dijadikan Hewan Qurban. Kita sangat kurang bahkan Tidak memahaminya, bahwa peristiwa Qurban itu dianggap ritual biasa, setelah disembelih selanjutnya dijadikan gulai atau sate atau apa saja yang bisa dimasak dari daging tersebut. Setelah usai, maka selesai ritualnya. Tidak ada peristiwa membekas untuk peristiwa Qurban itu.

Padahal peristiwa penyembelihan Hewan Qurban itu, secara objektif dan sistematis, penjelasannya sehingga mendatangkan toleransi yang tinggi dari Ibrahim maupun Ismail yaitu taat, tunduk, patuh terhadap perintah ALLAH , untuk menghilangkan segala yang termahal saat itu, yaitu menghilangkan nyawa anak tercinta yaitu Ismail. Ismail sendiri bergembira mengorbankan yang termahal dalam dirinya yaitu NYAWA nya . Pada tingkat berikutnya, kejiwaan yang TULUS IKHLAS itulah satu gambaran yang dipuji oleh ALLAH kepada Ibrahim ;
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan ALLAH telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan NYA ( Q.S. AN NISA ( 4 ) Ayat 125 ) .

Selanjutnya dari peristiwa Hewan Qurban, puncaknya adalah membangun jiwa militan dengan penuh gagah berani untuk dapat menyembelih yang menjadi hewan Qurban. Bila dalam pengertian kehiduan sosial masyarakat maka JIWA militansinya sudah TERDIDIK untuk siap MENYEMBELIH siapa saja yang AJAK PERANG / MENENTANG atau menjadi MUSUH ALLAH yaitu orang-orang KAFIR, ZHALIM , FASIQ , MUSYRIK , MUNAFIQ dan MURTAD , harus dengan penuh keyakinan dan tidak ada yang ditakutinya . Sembelihlah Mereka yang tidak tahu diri dan tidak bersyukur kepada ALLAH SUBHANNAHU WA TA ALA . Bahkan sering memperolok-olok, menistanya, dan memeranginya terhadap Ajaran Islam & kaum muslimin.
Hanya saja kaum muslimin kurang / Tidak menyadari pelajaran dari Qurban ini. Mestinya SIKAP TEGAS dan KERAS ( Q.S. Al Fath ( 48 ) ayat 27 sd 29 ) terhadap Mereka tersebut , tentulah Mereka Takut dan gentar hadapi kaum Mukminin sehingga Mereka tidak Berani mengganggu Ajaran Islam dan Umatnya, karena tampilan umat Islam yang Cerdas, konsisten, Tangguh, militan, dan berani dalam menegakkan hukum-hukum Islam. Bila tingkat militansi sebagaimana digambarkan tersebut, maka janji ALLAH akan terbukti, semua musuh ALLAH pasti KALAH / TEWAS dan tak berdaya menghadapi mereka yang bersyukur kepada ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA.

Salam Takziem,

ESM : Eggi Sudjana Mastal .

About Post Author