06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

ESM THEORY “OST-JUBEDIL ” Oleh : DR. H. Eggi Sudjana Mastal, SH., M.Si.

ESM THEORY : OST-JUBEDIL (Objektif, Sistematis, Toleran, Jujur, Benar, Adil) Oleh : DR.H.Eggi Sudjana Mastal,SH.,M.Si.

Pendekatan ilmiah dalam kajian keilmuan adalah mutlak atau dengan kata lain mesti ditempuh, dalam konteks kehidupan dan peradaban manusia sebelum tahun Masehi (SM) atau sebelum tahun Hijriah (SH), orang-orang saat itu menggunakan pendekatan filsafat dan atau keyakinan dan kepercayaan semata mengikuti perjalanan hidup nenek moyangnya. Bahwa ciri-ciri yang dapat dikenali saat itu jika dilihat dan dianalisis pada kurun waktu sekarang tepatnya tanggal 20 Maret 2020 maka kurang lebih didapati ciri-cirinya sebagai berikut:
1. Melalui proses Empiris, Deduktif, dan/atau Induktif
2. Proses bertanya-tanya terhadap sesuatu atau Objek yang dibahas
3. Melalui Kepercayaan dan Keyakinan yang sifatnya turun temurun dari nenek moyangnya.

Selanjutnya kita akan breakdown penjelasan ketiga point tersebut diatas yaitu :

Ad.1. Melalui proses Empiris Deduktif dalam pengertian dari yang bersifat umum menuju khusus, tergantung pokok bahasannya. Bila proses Empiris Induktif dari yang khusus ke kesimpulannya yang umum. Bahwa dalam sejarahnya, ciri-ciri tersebut terjadi pada masa Nabi Adam sampai dengan masuknya zamannya tahun masehi. Contoh empirisnya apa yang terjadi pada masa Nabi Adam sampai kepada Nabi Isa AS.

Ad.2. Proses bertanya-tanya diketahui melalui proses pendekatan filsafat, oleh para filosof ternama saat itu seperti Sokrates, Plato, Aristoteles dan kawan-kawan sebaya dan/atau setelahnya. Selanjutnya, ciri-ciri yang bisa dikenali ialah mereka bertanya secara kritis, misalnya : “mengapa terjadi sesuatu tersebut? Atau proses terjadinya objek tersebut.?” Juga bertanya sekaligus gugatannya sampai kepada pertanyaan: “adakah tuhan itu?” Atau bahkan menyatakan : “tuhan telah mati (God is dead)”

Ad.3. Proses kepercayaan dan keyakinan lebih ditentukan oleh perjalanan hidup nenek moyangnya masing-masing. Jadi sangat bervariasi, misalnya Suku Indian di AS, Aborigin di Australia, kaum bani di timur tengah, dan berbagai suku di Indonesia seperti Suku Aceh, Melayu, Sunda, Jawa, Bugis, Makassar, Dayak, Batak, Ambon, Bima dsb. Bahwa dari ketiga ciri-ciri umum tersebut ada perjalanan hidup yang luar biasa, bahkan Michael Heart menempatkan Nabi Muhammad Saw orang berpengaruh Nomor Satu (1) di dunia melalui riset selama 28 tahun dalam bukunya “100 tokoh paling berpengaruh di dunia”. Nabi Muhammad Saw menjalankan proses kehidupannya amat sangat mencerahkan dengan kondisi objektifnya adalah sebagai berikut :

1. Tidak ada pengaruh orang tua maupun sistem pendidikan pada masanya tersebut. Dengan kata lain, terjadi proses otodidak dalam perjalanan hidup nya.
2. Tidak ada pengaruh terhadap dirinya melalui lingkungan hidup, budaya, serta keadaan jahiliyah pada masanya tersebut.
3. Tidak adanya pengaruh global dunia internasional dengan segala sistem kehidupannya yang telah diterapkan pada masanya tersebut.

Bahwa nalar atau akal sehat kita yang beriman kepada Nabi Muhammad saw yang dimuliakan oleh ALLAH SUBHANAWATA’ALA mestilah sampai pada suatu kesimpulan betapa luar biasanya jati diri Nabi Muhammad saw tersebut dan pantaslah secar logis beliau menjadi utusan ALLAH SUBHANAWATA’ALA, luar biasanya dan kepantasannya bahwa beliau menjadi utusan ALLAH dapat kita kenali dari perjalanan hidupnya itu, yaitu sebagai Al Quran yang berjalan (The Walking Qur’an). Hal tersebut, dapat ditunjukkan melalui isi kandungan Al Quran yaitu :

1. Sistem Penjelas Segala Sesuatu;
2. Sistem Pembeda Antara Haq dan Bathil
3. Sistem Petunjuk dan Pengobatan
4. Sistem Rahmatan Lil ‘Alaamin
5. Sistem contoh suri tauladan atau referensi kehidupan yang nyata dan riil tanpa utopia

Dalam kesempatan saat ini ESM (Eggi Sudjana Mastal) tidak ingin menjelaskan segala macam sistem tersebut. Juga tidak akan menjelaskan kehebatan dan dahsyatnya nilai-nilai Al Quran tersebut. Tetapi, ESM ingin menjelaskan secara fokus terhadap logika Al Quran yang pendekatannya secara ilmiah melalui cara berfikir OST – JUBEDIL.

Teori ini sudah lama ESM gunakan setidaknya sejak tahun 1980 ketika ESM mulai berdakwah dari kampus ke kampus, melalui konsep pada saat itu Islamisasi Sains and Culture, yang penekanannya waktu bagaimana ajaran islam masuk dalam kurikulum di kampus-kampus serta MENGGUNAKAN JILBAB atau BUSANA MUSLIMNYA UNTUK PARA KOHATI HMI atau para WANITA pada umumnya , Gagasan Islamisasi Sains and Culture itu merupakan hasil diskusi panjang berbulan-bulan bahkan tahunan dengan nama Group MUSTIKA yang berdomisili di daerah Rawamangun, gagasan cemerlang tersebut berawal dari Almarhum Bang Erlangga, senior HMI sebagai Ketua Korkom HMI Universitas Jayabaya. Selanjutnya, kondisional objektif pelaksanaan perjalanan dakwah ESM tersebut dimulai sejak masuk HMI tahun 1979 yang waktu itu ada LK 1 di Cibadak Sukabumi Jawa Barat.

Pada waktu itu ESM seangkatan dengan MS.Ka’ban, Sanusi, Willy (almarhum), Didi (almarhum), dan Ati Suprapti serta rekan-rekan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Bahwa, ESM Teori, baru disempurnakan bersifat natural sejalan dengan proses dakwah melalui metode brainstorming yang Instrukturnya yang terkenal dikalangan HMI oleh Bang Toni Ardi, Guru Pertama ESM yang mengajarkan Nilai Dasar Perjuangan (NDP), kemudian Bang Oji atau Syahrodji dari banten yang mengajarkan Essensi Ajaran Islam di LK HMI, selanjutnya Tahun 1983 ESM di Training langsung oleh Bapak Muhammad Natsir mantan Ketua Umum Masyumi yang juga mantan Perdana menteri RI sekaligus mantan Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia, bersamaan saat itu juga sempat ditraining oleh Oesman Ralibi dan Muhammad Roem selain itu tak lupa juga Bapak Dahlan Ranuwiharjo sebagai guru yang mengajari tentang ideologi dan Bapak Prof Deliar Noor, keduanya adalah senior kami mantan Ketua Umum PB HMI pada masanya masing – masing trainingnya tentang kajian Politik, Propaganda dan Keislaman.

Selain itu ESM Aktif dalam Pergerakan Mahasiswa menjadi Ketua Umum PB HMI MPO Pertama Periode 1986 – 1988 yang menolak azas tunggal Pancasila, karena secara obyektif mengazas tunggalkan sesuatu berarti meniadakan yang lain termasuk menolak Islam, HMI Azasnya Islam maka ESM dan kawan-kawan HMI MPO melakukan perlawanan atas pemberlakuan Azas tunggal ini pada zaman orde baru.

Selanjutnya Pada Tanggal 3 Maret 1998 ESM dan Kawan-kawan mendirikan Organisasi Serikat Pekerja Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) di Sawangan Parung Bogor Provinsi Jawa Barat, bersama Bapak Ibrahim Madilaw (Almarhum), Imbang jaya, Jaya Samantha, KH. Syahroji, Deni Daruri, Hamdan Zoelva, Nur Lapong, Akhyar Eldin, Muhammad Nuskhi, Tamsil Linrung, Fasiun, Bachruddin Zein, Ismail Pelu, Johan Tamang, Taqyuddin, Taufiq Rahman, Hamid Annadar dan Rahman Na’ansyah, yang hingga kini Alhamdulillah organisasi PPMI saat ini masih eksis dibawah Kepemimpinan Daeng Wahidin sebagai Presiden PPMI dan Zulkhair sebagai Sekjend DPP PPMI Periode 2017 – 2022 M Hasil Muktamar V PPMI di Jakarta semakin pesat berkembang Maju, Mandiri, Sejahtera dan senantiasa dibawah Ridho Allah SWT. Selain itu ESM juga mendirikan Partai Bulan Bintang bersama Bapak Ahmad Sumargono (Almarhum), Anwar Haryono, Yusril Ihza Mahendra dan MS. Ka’ban.

Sejalan dengan waktu jauh sebelum itu, tepatnya pada tahun 1974, ESM sudah aktif ikut berdemonstrasi dan berpolitik praktis sejak SMP Kelas 2 (Dua), ketika Tahun 1974 sudah ikut-ikutan Demonstrasi di Kampus UI yang terkenal menjadi Kasus Malari (Malapetaka 15 Januari ) yang dipimpin oleh Bang Hariman Siregar, kemudian sejak tahun 1987 – 1988 dikenalkan langsung dengan Bang Hariman Siregar oleh Almarhum Agus Lenon aktivis HMI yang juga teman dekat Bang Hariman, kemudian terus melakukan pergerakan bersama sampai pada Tahun 2001 mendirikan INDEMO (Indonesia Democrasi Monitor) di bandung bersama Bang Adnan Buyung Nasution, Bapak Jend (Purn) Nugroho Jayusman mantan Kapolda Metro Jaya, Bapak Jusman mantan Menteri Perhubungan, terus mengikuti kajian dan diskusi berkala Reboan di jln Lautze Jakarta Pusat.

Juga sejalan dalam pergerakan penguatan civil society, ESM bersama Ahmad Yani mantan Anggota DPR RI dari PPP juga ikut bergabung dalam acara diskusi rutin setiap hari selasa di Petisi 50 yang di pimpin oleh Ali Sidikin mantan Gubernur DKI Jakarta dan Jenderal (Purn) Hoegeng mantan Kapolri yang mana kedua tokoh nasional itu telah menjadi legendaris hingga kini. Serta Bersama Aktivis Islam, Ulama, Tokoh Nasional dan Habib Rizieq Shihab Membentuk Gerakan 212 yang awalnya bernama Presidium Alumni 212 kemudian pada awal Tahun 2017 berubah nama menjadi Persaudaraan Alumni 212. Kesemuanya itu dalam perjalanan karir dan Hidup ESM semuanya didedikasikan untuk perjuangan tegaknya Islam Fungsional di NKRI semoga Allah senantiasa meneguhkan Iman, Islam dan Ikhsan, ESM sebagai Pejuang Islam Sejati, Aamiin

Adapun seiring dengan berjalannya waktu, sampailah pada tanggal 20 Maret 2020/25 Rajab 1441 H, hari Jum’at yang berkah, setelah ESM khotbah Jum’at di Masjid Al Hikmah Vila Indah Padjajaran Bogor, datanglah Sdr. Daeng Wahidin sebagai Presiden PPMI Periode 2017-2022, sdr DK Arief Kusnadi sebagai Ketua DPC PPMI Kab. Bogor, dan sdr. Ato Ketua DPC PPMI Kab. Karawang. Mulai berdiskusi ba’da jumatan tersebut sampai dengan Pukul 19.00 WIB menjelang sholat Isya, maka lahirlah ESM Teori tersebut, yakni OST JUBEDIL.

Penjelasan yang dimaksud ESM Theory adalah OST JUBEDIL yaitu akronim dari :
O:Objektif ;S:Sistematis ; T:Toleran ;JU:Jujur ;BE:Benar ;DIL:Adil

Apabila disatukan menjadi Objektif, Sistematis, Toleran, Jujur, Benar, Adil. Kata-kata OST JUBEDIL itu sendiri semua orang sudah tahu dan paham maksudnya. Akan tetapi menjadi satu kesatuan yang dirangkum dalam satu kata untuk menjadi suatu teori dengan keperluannya menjelaskan logika quran, menurut hemat ESM adalah sesuatu yang relatif baru, perlu diingat Teori OST JUBEDIL tersebut bukanlah untuk menafsirkan Al Quran. Tapi untuk menyampaikan hubungan antara suatu ayat dengan ayat yang lain, selanjutnya diterangkan secara OST JUBEDIL sehingga nampak jelas alur logika Al Quran yang Agung tersebut.

ESM Theory merupakan upaya untuk menjelaskan proses terciptanya kondisi Islam yang Rahmatan Lil’alamin dan bagaimana penerapannya pada setiap aspek kehidupan. Dengan kata lain, ESM Theory yang berbasis OST-JUBEDIL dapat digunakan untuk menjelaskan terhadap segala persoalan yang bersifat ilmiah secara sistematis. Penyimpangan atau tidak diberlakukannya ESM Theory ini, maka terjadi keadaan sebaliknya yaitu disfungsionalisasi terhadap ajaran Islam dan ataupun persoalan lainnya. Untuk memahami ESM Theory dengan lebih baik, dapat diperhatikan skema sebagai berikut :

PENJELASAN ESM THEORY :
1. Bahwa ESM Theory Insya Allah berjalan atau berlaku atau tegaknya ajaran Islam dan ataupun persoalan lainnya dengan mekanisme penjelasannya melalui dua arah (Lihat Skema), yakni dengan pendekatan Quran bil Quran, artinya saling menjelaskan satu ayat dengan lainnya dari ayat-ayat Al Quran tersebut. Tentu pendekatannya melalui cara berpikir yang ilmiah, yaitu basis ESM Theory, OST-JUBEDIL (Objektif, Sistematis, Toleran – Jujur, Benar, Adil).

2. Bahwa melalui cara berpikir ilmiah tersebut (dalam poin 1), maka melahirkan atau mendatangkan suatu keadaan berpikir yang dapat mengkondisikan atau dengan kata lain menciptakan Persepsi, Sadar dan Taat (P-S-T). Maksudnya, bangunan terhadap satu persepsi dalam persoalan yang dihadapinya atau ingin dijelaskannya, sangatlah menentukan untuk muncul/melahirkan/terkondisi keadaan yang sadar atau kesadaran yang ditentukan oleh persepsinya tersebut. Selanjutnya, dari proses kesadaran tadi, atau dengan adanya nilai sadar terhadap suatu nilai atau penjelasan yang didapat tadi, maka akan melahirkan atau terkondisinya suasana taat. Dengan kata lain, ketaatan atau ketundukpatuhan atau totalitas, menyerahkan sepenuhnya hanya kepada ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA.

3. Bahwa dengan kondisional yang objektif setelah adanya P-S-T tersebut, maka akan terkondisi atau tercipta suatu prilaku yang dapat dikatakan atau ditandai sebagai indikator dari orang-orang yang beriman, berislam, dan berihsan. Maksudnya, melalui P-S-T, maka keimanan seseorang baik dalam aspek pribadi maupun publik, dapat dipastikan keimanan yang sesuai dengan penjelasan dalam Al Quran. Dengan kondisi suasana beriman yang sesuai dengan ketentuan ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA, maka akan tegak ajaran/hukum Islam. Dengan berjalannya ajaran Islam, atau tegaknya hukum Islam maka dapat dipastikan tercipta kondisi Ihsan. dengan melihat Skema : ESM Theory Flow Chart lain, masyarakat Indonesia akan menjadi tatanan masyarakat yang baik karena memiliki akhlak yang mulia. Sehingga terwujud negeri yang Thayyibun wa rabbun ghafuur

4. Bahwa dengan kondisional yang sistematis akan terkondisi toleransi yang tinggi untuk berlakunya suasana Ikhlas, Sabar dan Taqwa (I–S–T). sebagaimana yang telah dijelaskan dalam poin ke-3, antara lain ; dengan Iman, Islam, Ihsan (3I) mengkondisikan adanya Ikhlas, Sabar, Taqwa (IST), selanjutnya karena pendekatan dalam skema ini dapat berlaku dua arah, maka arah terbaliknya mulai dari IST, lahir kondisi 3I, kemudian menuju suatu keadaan P-S-T dan akhirnya kembali kepada OST-JUBEDIL. Kejelasan ESM Theory adalah alur cerita dua arah ini. Dengan pendekatan P-S-T secara OST-JUBEDIL, maka pribadi maupun publik yang mengaku tersebut memiliki kepribadian yang berintegritas, berkapasitas dan termasuk didalamnya memiliki Otoritas baik besar maupun kecil. Artinya tidak ada orang dengan Integritas dan Kapasitas yang tidak memiliki Otoritas (I–K–O). Oleh karena itu, kekuatan tegaknya ajaran islam bergantung kepada orang – orang yang memiliki Integritas, Kapasitas dan Otoritas (IKO) tersebut. Dengan kondisional itu, akan tercipta (atau terkondisi) suatu keadaan dengan istilah Islam Rahmatan lil ‘alamin yang dapat dikatakan berlakunya ESM Theory. Dengan melalui pendekatan ESM THEORY maka terkondisilah Islam Fungsional yang ditandai dengan ciri-ciri ; Merdeka, Berdaulat, Kuat, Berkuasa, Sejahtera, Bermanfaat dan Selamat untuk semua orang baik muslim maupun non muslim.

5. Bahwa dengan kondisi yang telah dijelaskan dalam poin ke-4, yang juga sesuai dengan alur dua arah dari skema di atas, maka dapat dikatakan masyarakat Islam yang Rahmatan Lil Alamin bukanlah utopia atau angan-angan atau mimpi-mimpi atau khayalan yang tak berujung. Akan tetapi dengan Islam fungsional, dapat dipastikan terjadinya RAHMATAN LIL ALAMIN, kehidupan yang memberikan rahmat bagi semesta alam. Di sisi lain, dengan penjelasan dua arah itu akan mengkondisikan secara objektif disfungsionalisasi terhadap ajaran islam, sehingga kehidupan semesta alam tidak akan mendatangkan rahmat, berkah, dan kebahagiaan secara utuh di dunia dan akhirat.

6. Bahwa adapun tidak terjadinya Islam fungsional yang berakibat fatal yakni tidak adanya kehidupan yang memberikan rahmat, berkah, dan kebahagiaan tak terbatas yang bersifat dunia akhirat.

7. Bahwa dengan adanya kondisional objektif tidak terwujudnya Islam Rahmatan Lil Alaamin sehingga terjadi disfungsionalisasi ajaran Islam disebabkan dengan adanya orang-orang atau pribadi-pribadi atau golongan-golongan yang indikatornya jelas yakni ; orang-orang kafir/menentang ajaran islam/membenci ajaran Islam, orang orang yang munafik, orang-orang yang dzalim, orang-orang yang fasik, dan orang-orang yang murtad.

8. Bahwa dengan adanya 5 jenis orang-orang tersebut dalam poin 7, bahkan mungkin lebih, maka dalam kondisi tersebutlah ajaran islam mengajarkan untuk terus berjuang dan atau berupaya optimal melalui pendekatan : Iman, Hijrah, dan Jihad (IHJ)

9. Bahwa dengan ajaran IHJ sangatlah terasa bagi orang-orang yang memiliki intelektualitas yang memadai untuk menyatakan telah terjadinya salah penjelasan (atau dipelintir) sehingga ajaran Islam terkesan mengajarkan radikalisme, ekstremisme dan intoleran sehingga dapat menumbuhkan terorisme, lebih parahnya lagi menyalahkan/melarang/membenci ajaran khilafah yang sebenarnya diajarkan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam Al Quran yang kemudian dipraktekkan oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabat juga tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

10. Bahwa sesungguhnya dengan terwujudnya Islam rahmatan lil’alamin tersebut maka konsekuensi logisnya ialah dalam ajaran Islam tidak ada tempat atau tidak dikenal ajaran yang berupa radikalisme, ekstremisme, intoleran dan terorisme seperti yang disebutkan dalam poin 9. Oleh karena itu, proses bully-membully/fitnah yang menyudutkan ajaran Islam dan menempatkan orang-orang Islam yang justru berintegritas, berkapasitas dan berotoritas sesuai jati dirinya pada tuduhan radikal, ekstrim, intoleran dan teroris yang kesemua itu dilakukan secara brutal, namun Terstruktur, Sistematis dan Massif di seluruh dunia, antara lain seperti adanya ISIS dan juga pernah berkembang di Indonesia seperti Komando Jihad, bahkan pada kasus tertentu dituduh makar. Oleh karena itu, kembali pada teori OST-JUBEDIL, jangan terjadi kesalahan persepsi dan kesadaran yang berakhir pada kekeliruan pentaatan, sehingga terjadi peperangan antar saudara, bahkan saling membantai, bunuh membunuh, atau perpecahan dalam berbagai organisasi keislaman.

11. Bahwa dengan Persepsi, Sadar dan Taat (PST) yang benar terhadap ajaran Islam yang RAHMATAN LIL ALAMIN melalui pendekatan tegaknya Islam Fungsional sebagaimana yang telah dijelaskan harus dimengerti atau dipahami oleh semua orang yang mengaku beriman, berislam dan berihsan serta berupaya untuk hijrah dan jihad bahkan yang telah memiliki integritas, kapasitas, dan otoritas sesuai jati diri masing – masing untuk bangkit dan terus berjuang dan berupaya tanpa lelah dan putus asa melalui pendekatan ESM Theory ini sebagai salah satu jalan untuk tegaknya ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Apabila terdapat selisih pendapat dengan ESM Theory ini, maka sudikiranya dilakukan melalui pendekatan yang tidak subjektif, tidak acak-acakan, tidak toleran akan tetapi didasari atas argumentasi logis yang disusun dengan runut, runtut dan benar dalam menolak ESM Theory. Adapun, bila ada pertentangan terhadap ESM Theory dari pihak yang disebutkan dalam poin 7 (orang-orang kafir/menentang ajaran islam/membenci ajaran Islam, orang orang yang munafik, orang-orang yang dzalim, orang-orang yang fasik dan orang-orang yang murtad) maka hal tersebut merupakan hal yang biasa dan tidak masalah, karena mereka akan senantiasa menentang dan hatinya berpenyakit, seperti iri dan dengki serta penuh kebencian mengikuti hawa nafsunya, sehingga dapat dipastikan tidak akan objektif, sistematis dan tidak mungkin pula toleran sehingga dapat dipastikan tidak akan sampai kepada Nilai-nilai Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan.

Bogor, 19 Mei 2020/26 Ramadhan 1441 H
DR.H.EGGI SUDJANA MASTAL, SH.M.Si

About Post Author