08/08/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Rakyat Kena PHK, TKA China Diberi Kerja

Oleh: Nisa Sitompul
Member Akademi Menulis Kreatif

Astagfirullah, hati kami tersayat dan tercabik-cabik ketika mendapatkan berita tentang masuknya 500 TKA China, sementara rakyat banyak yang diPHK.

Dilansir oleh KOMPAS.com pada hari Minggu tanggal 3 Mei 2020 bahwa 500 TKA asal China akan didatangkan di tengah pandemi Corona, klaim untuk hindari PHK pekerja lokal.

Sebenarnya masuknya TKA asal China ini mendapat penolakan dari Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi dan Ketua DPRD Sulawesi Tenggara Abdurahman Shaleh. Mereka khawatir hal tersebut akan memicu gejolak masyarakat yang sedang berjuang melawan pandemi Corona. (KOMPAS.com, 03/05/2020)

Di saat pandemi seperti ini, rakyat dihimbau untuk jaga jarak dan jangan mudik (jangan pulang kampung). Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, meskipun setengah hati. Dampaknya masyarakat tidak bisa kemana-mana termasuk tidak bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan mereka menjadi pengangguran korban PHK. Namun, di sisi lain, pemerintah pusat menyetujui masuknya 500 TKA asal China untuk bekerja di Sulawesi Tenggara.

Kebijakan masuknya TKA tersebut juga didukung oleh Kementerian Ketenagakerjaan. Bahkan dikuatkan dengan payung hukumnya.

Plt Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja, Aris Wahyudi, menyampaikan hal itu telah diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM nomor 11 tahun 2020 pasal 3 ayat (1) huruf f dimana menyebut orang asing yang akan bekerja pada proyek strategis nasional tidak dilarang masuk Indonesia selama pandemi Covid-19 (Wartaekonomi.co.id, 01/05/2020).

Kebijakan ini sangat tidak adil. Warga negara asing lenggang kangkung bebas ke Indonesia untuk bekerja pula. Bahkan diberikan dukungan serta perlindungan hukum. Sementara, rakyatnya harus bertahan sendiri menghadapi pandemi.

Lihat saja, karut marut terjadi pada seluruh sendi kehidupan. Di negeri kita ini, peraturan begitu mudahnya diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan para pembuat kebijakan. Parahnya lagi, para pengambil kebijakan ini kadang disetir oleh pemilik uang. Maka tak heran, kebijakan dan peraturan yg dibuat tak lepas dari bisnis dan notabene mengorbankan keamanan, kesejahteraan dan kesehatan rakyat banyak. Hal tersebut terjadi, karena sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini. Sistem kapitalisme yang telah menjadikan manusia sebagai pembuat aturan kehidupan berdasarkan manfaat semata. Keberpihakan hanya untuk yang punya kuasa dan modal besar.

Berbeda dengan Islam, karena sistem Islam berasal dari Pencipta Alam, Allah subhanahu wa ta’ala yang mengutus Nabi Muhammad Saw untuk mengatur kehidupan umat manusia hingga akhir jaman. Berbagai kebijakan atas perkara harus berlandaskan pada Alquran dan Sunnah. Sungguh begitu adil sistem ini dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Pada masa pandemi, Islam mengharuskan lockdown. Tidak boleh ada yang masuk dan tidak boleh ada yang keluar dari wilayah wabah. Sementara, kebutuhan pokok masyarakat dan jaminan kesehatan serta pengurusan rakyat di wilayah wabah dijamin negara. Setelah pandemi wabah berakhir, maka lockdown dicabut, dan kehidupan kembali normal.
Sedangkan urusan tenaga kerja, sistem Islam bertanggung jawab penuh untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi warga negaranya. Warga negara asing diperlakukan sesuai politik luar negeri khilafah dengan negara yang bersangkutan. Bila negaranya terkategori kafir harbi fi’lan (memerangi kaum muslimin) seperti China, maka tidak boleh ada hubungan sama sekali kecuali berperang. Takkan ada TKA dari China maupun negara kafir harbi lainnya yang boleh masuk apalagi dalam masa pandemi.

Maka, hanya Islam kafah yang menjadi solusi semua masalah manusia. Jadi segeralah campakkan sistem kapitalisme. Kembali terapkan Islam kafah dalam naungan khilafah.

Wallahua’lam bishshawab.