06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Tipu Daya Reformasi

Aku suka Radikalisme,
seperti gagasan Sukarno kepada kaum Marhein.
Berjuang tidak setengah – setengah,
tawar menawar karena hanya mencari untung,
tetapi mau menjebol stelsel kapitalis-me-imprealis-me sampai keakar-akarnya, tidak setengah – setengahan mau mengadakan perubahan-perubahan yang kecil saja.

Berjuang hendaklah habis-habisan tenaga membongkar akar yang busuk dan mendirikan akar-akar kehidupan yang baru untuk kepentingan rakyat sesungguhnya, kepentingan dari suatu rakyat yang merdeka dan berdaulat. Bukan menjadi jongos bagi kepentingan segelintir tuan-tuan yang menguasai aset dan kekuasaan.

Kita, sebagai rakyat anak negeri,
Tidak sudi menjadi asing dan menumpang di negerinya sendiri.
Sebagai anak negeri kita harus mengusir jiwa-jiwa opurtunisme, reformisme, yang hanya menghitung – hitung untung rugi layaknya tukang warung yang takut uang hilang selembar.

Kita sebagai anak negeri harus mengusir jauh-jauh segala politik yang menyamarkan atau menutupi kepuraan-puraan kekuasan yang berakar busuk oleh sebab memburu rente kuasa dan kapital semata.
Sebagai anak negeri kita harus menajamkan anti thesa, tidak boleh berdamai dan tawar menawar dengan mereka yang telah merampas semua milik anak negeri, kedaulatan anak negeri, bahkan sampai harga diri anak negeri.

Reformasi telah menyamarkan itu semua, Reformasi telah menjadi jembatan atau alat tipu daya yang akan membuat anak negeri menjadi rakyat marginal sampai keanak cucunya, membungkuk bungkuk kepada tuan-tuan kuasa oligarki, tuan-tuan aseng, dan tuan-tuan berhala lainnya.

Reformasi telah membuat anak negeri kehilangan jati dirinya, membuat anak negeri menjadikan uang sebagai berhala tanpa mau bekerja keras, berpikir radikal untuk merubah nasibnya.

Reformasi telah membuat anak negeri yang mengandalkan atau mengantungkan diri kepada utang bangsa lain dengan menggadaikan semua sumberdaya alamnya dengan harga yang murah.

Reformasi membuat anak negeri menjadi tergantung import tuan-tuan orang negara lain.

Reformasi telah mementahkan anak negeri untuk hidup berdikari dan bangga dengan buatan negeri sendiri.

Reformasi telah mereduksi semua potensi dan jatidiri anak negeri, anak negeri sudah menelanjangi diri, berpakaian dengan merek negeri lain namun dalam jiwa raga yang sesungguh tanpa busana dan tanpa rasa malu..

Kaum kapitalis dan imprealis telah menjadikan reformasi sebagai alat tipudaya, dengan permen demokrasi sebagai candu untuk menguasai dan mencengkram anak negeri.

Reformasi telah menjadikan pemuda dan mahasiswa kita menjadi hedon, lemah berpikir kritis, lemah inovatif, ilmu dan research menjadi copy paste di kampus-kampus, perdebatan dan bedah buku menjadi senyap, orasi dan puisi kebudayaan berganti menjadi konser. Pemuda dan mahasiswa kita menjadi bayangan gelap reformasi sebab mereka sepenuhnya tumbuh menjadi milik dan konsumen produk bangsa lain.

Reformasi telah melumpuhkan semangat untuk berdikari dalam swasembada ekonomi dan pangan, swasembada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan awas terhadap swakelola lingkungan dan sumber daya alamnya.

Reformasi telah menghancurkan dan mengaburkan pranata hukum dan regulasi-regulasi anak negeri menjadi kabur dan korup, semakin jauh dari rasa keadilan.

Reformasi telah menjadikan politik kerakyatan kita menjadi milik oligarki yang feodal dan transaksional dari partai-partai, kedaulatan rakyat hanyalah slogan semata, apa lagi bela wong cilik makin tidak terlihat saat ini semuanya pragmatis, demokrasi pun hanya menjadi alat tawar menawar para politisi dengan para pemilik modal untuk menghisap perikehidupan rakyat yang semakin termarginalkan.

Semua itu karena Reformasi telah meluluh-lantahkan dan memcabut akar kebangsaan kita yang fundamental, yang menjadi milik satu-satunya dan karya besar anak negeri, yakni UUD 45, Proklamasi dan kemudian secara sadar pelan tapi pasti Pancasila pun akan lenyap sebagai dasar utama alam pemikiran anak negeri bangsa Indonesia yang merupakan maha karya dari founding Father’s untuk Bangsa dan Negara Indonesia.

Reformasi telah membuat anak negeri ini menjadi diam dan abai hingga tamat. Tipu daya reformasi pada puncaknya, membuat kritik hanya menjadi sia sia..

Jakarta, 20 Mei 2020

MN Lapong :
Direktur LBH ForJIS/Pendiri PPMI

About Post Author