30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Pasar Tetap Buka, Akibat Tidak Tegas Penguasa

Oleh : Sumiati
(Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis)

PPMI CENTRE – TULISAN DAN OPINI | Dua bulan berlalu, pandemi masih mengintai masyarakat. Masyarakat pun bingung dengan ketidakjelasan keputusan penguasa terkait penanganan Covid -19. Dilansir oleh Ayo Bandung. com, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bandung mengakui sulit melakukan penertiban terhadap pedagang pasar selama pandemi covid-19. Selama pandemi, Disperindag telah memberlakukan pembatasan jam operasional pasar tradisional. Pedagang hanya diperbolehkan berjualan dari pukul 04.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kerumunan orang yang berpotensi menyebarkan penyakit berbahaya, terutama covid-19. Namun kenyataannya, banyak pedagang di pasar tradisional yang masih berjualan melebihi ketentuan. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, banyak pedagang yang masih berjualan hingga sore. “Memang susah. Mereka selalu berdalih masalah ekonomi. Pedagang itu mikirnya ekonomi, bukan kesehatan, itu yang menjadi kesulitan, kalau dipaksa tutup, bisa timbul gejolak,” tutur Kepala Disperindag Kabupaten Bandung, Popi Hopipah, Selasa (12/5/2020).

Keberadaan masyarakat yang sulit diatur bukan tanpa sebab. Disamping kebutuhan masyarakat tidak terpenuhi oleh penguasa, sementara kebutuhan masyarakat mendesak. Akhirnya masyarakat tetap berjualan di pasar. Yang dilakukan masyarakat bukan tanpa alasan semata, namun itulah faktanya. Kemiskinan yang menghampiri mereka di saat pandemi, mereka harus berusaha sendiri untuk memenuhinya. Tidak ada bantuan yang nyata bagi rakyat yang menjerit. Walaupun berseliweran berita tentang donasi untuk yang terdampak Covid -19. Tetapi di lapangan tidak seperti yang diberitakan.

Begitupun kebijakan yang diambil penguasa. Penuh kontroversi, hari ini bicara begini, besok lusa sudah berbeda lagi. Inilah yang menjadi pemicu bagi masyarakat untuk melanggar pula. Karena melihat contoh dari penguasa yang tidak disiplin. Rasa takut, hormat, taat pun hilang tidak tersisa, apalagi untuk percaya, rasanya hal itu tidak mungkin. Penguasa ibarat orang tua, ketika orang tua memerintahkan sesuatu, sementara orang tua tidak melaksanakan atau tidak konsisten. Otomatis, seorang anak pun dengan mudah mereka melanggar atau tidak konsisten atas arahan orang tua. Itulah analogi sederhana, mengapa rakyat tidak taat kepada penguasa.

Hal ini sangat berbeda dengan kepemimpinan Islam. Keberadaannya dipatuhi, dihormati dan diamalkan dari setiap arahannya. Karena pemimpin Islam, memerintah bukan atas hawa nafsu. Akan tetapi atas perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Allah Swt. berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(Q.S. An Nisa, 4:59).

Demikianlah posisi pemimpin di dalam Islam. Sebagaimana kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab. Ketika beliau memerintahkan untuk lockdown. Pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan :
Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari sahabat Umar bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari)
Riwayat ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah. Menurut Imam al-Waqidi saat terjadi wabah Thaun yang melanda seluruh negeri Syam, wabah ini telah memakan korban 25.000 jiwa lebih. Bahkan di antara para sahabat ada yang terkena wabah ini. Mereka adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, al-Harits bin Hisyam, Syarahbil bin Hasanah, Fadhl bin Abbas, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan Abu Jandal bin Suhail.

Allah Swt. telah memerintahkan kepada setiap manusia agar hidup sehat. Contohnya diawali dengan makanan. Allah Swt. telah berfirman :
” Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian”. (QS. An-Nahl, 16:114).

Selain memakan makanan halal dan baik, kita juga diperintahkan untuk tidak berlebih-lebihan. Apalagi sampai memakan makanan yang sesungguhnya tidak layak dimakan, seperti kelelawar, tarantula, bahkan kecoa. Allah Swt. berfirman :
” Makan dan minumlah kalian, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.
(QS. Al-Araf, 7:31).

Allah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar. Untuk itulah Rasulullah Saw. pun senang berwudhu, bersiwak, memakai wewangian, menggunting kuku dan membersihkan lingkungannya.

Namun demikian, penguasa pun punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai. Para penguasa Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah Saw. dan Khalifah Umar bin Khattab sebagaimana riwayat di atas, telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentinganya (pada Hari Kiamat)”.
(HR. Abu Dawud ).

Dengan demikian, baik wabah maupun mengkondisikan masyarakat di tengah lockdown pun bisa tuntas. Masyarakat teriayah dengan baik. Masyarakat taat kepada khalifah, karena khilafah pun konsisten dengan aturan yang ditetapkan.
Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author