29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Mewujudkan Hari Raya di Sepanjang Bulan

Oleh : Rina Tresna Sari, S.Pd.I. (Praktisi Pendidikan dan Member AMK)

PPMI CENTRE – TULISAN | Ramadhan sudah berlalu, namun pesan yang ditorehkannya tak boleh ikut berlalu. Sebagaimana yang Allah Swt. perintahkan, sejatinya Out Put bagi orang beriman setelah sebulan berpuasa adalah meraih takwa. Itulah hakikat dari kemenangan di hari raya. Yaitu menjadi beriman dan bertakwa dengan yang sebenar-benarnya.

Teringat makna takwa, teringat pula pidato wakil Presiden, KH. Ma’ruf Amin dalam sambutan acara virtual Takbir Nasional dan Pesan Idul Fitri dari Masjid Istiqlal pada 23 Mei 2020 lalu. “Idul Fitri kali ini kita rayakan dalam suasana pandemi. Oleh karena itu, marilah kita rayakan dengan tetap memegang aturan-aturan kesehatan, dan marilah kita perkuat iman dan ketakwaan kita. Dengan memperkuat iman dan ketakwaan, niscaya keberkahan akan diperoleh masyarakat beriman, khususnya menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia.” kata Wapres Ma’ruf Amin saat menyampaikan pesan video dalam acara Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah tersebut. (Tempo.co, 23/05/2020).

Begitupun dengan Presiden Jokowi, yang turut menyampaikan pesan virtual Idul Fitri. Sebagaimana yang dilansir WartaEkonomi.Co.id,(24/05/2020), “Oleh karena itu, keadaan senang atau sedih, berlimpah atau kekurangan, sulit atau mudah, tinggi atau sederhana, jika Allah benar-benar menghendakinya dan kita bisa menerimanya dengan ikhlas, dalam takwa dan tawakal sesungguhnya hal tersebut akan buat berkah, membuahkan hikmah, rezeki dan juga hidayah,” tegasnya.
Di sisi lain, Jokowi mengingatkan kepada umat Islam di seluruh Tanah Air untuk tetap konsisten melanjutkan setiap ibadah yang dilakukan pada Ramadhan di bulan-bulan berikutnya dengan baik. Sebab menurutnya, seseorang dinyatakan lulus dari bulan suci itu jika menjadi lebih baik dan lebih takwa.

Sungguh baik pesan yang disampaikan lewat pidato Presiden dan Wakil Presiden tersebut, hanya saja pesan itu semestinya berkesesuaian dengan kebijakan yang selama ini diterapkan. Sebagaimana kita ketahui beriman dan bertakwa adalah menaati segala perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Sudahkah penguasa benar-benar memaknai takwa dalam kepemimpinannya? Sudahkah memelihara urusan rakyat dengan petunjuk yang sudah Allah tetapkan dalam Alquran dan Sunah?

Takwa menurut bahasa berasal dari kata wiqayah yang berarti memelihara. Maksud dari pemeliharaan itu adalah memelihara hubungan baik dengan Allah Swt., memelihara diri dari sesuatu yang dilarang-Nya. Melaksanakan segala titah perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Ibnu Qayyim berkata, hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan atau pun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang melakukan perintah itu karena imannya, yang diperintahkan-Nya disertai dengan pembenaran terhadap janji-janji-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya.

Sejatinya takwa itu bukan berada di atas selembar kertas dalam pidato atau sambutan. Takwa itu berucap iman dengan lisan, meyakini Allah dalam hati, dan mengamalkan syariat Allah dalam perbuatan. Iman tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu percuma.
Setiap muslim yang mengaku beriman, tapi lalai mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya belum bisa dikatakan bertakwa. Sebab muara iman adalah takwa. Jika ia benar-benar muslim beriman, seharusnya ketaatan total kepada Allah benar-benar diamalkan.

Beriman tapi menyalahi aturan Allah, tak bisa mencapai derajat takwa. Beriman tapi menzalimi rakyat dengan kebijakan, juga tidak bisa meraih sebenar-benar takwa. Beriman harus disertai beramal. Karena itulah indikasi ketaatan total yang mengantarkan pada ketakwaan.

Ramadan memang berlalu, tapi beriman dan bertakwa bukan diseru hanya untuk momen tertentu. Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Hari raya bukanlah milik orang yang memakai pakaian baru. Akan tetapi hari raya adalah milik orang yang takut dengan hari pembalasan. Tidaklah hari raya itu buat yang memiliki kendaraan mewah. Akan tetapi hari raya itu buat orang yang dosanya terampuni.”

Imam Hasan Al Bashri berkata, “Setiap hari yang di dalamnya tidak ada kedurhakaan kepada Allah Subhanahu wa Taala maka itu adalah hari raya, dan setiap hari di mana seorang mukmin tetap berada dalam ketaatan kepada Rabb-nya, serta berzikir dan bersyukur kepada-Nya, maka bagi dia hari itu adalah hari raya.”

Hari raya adalah milik mereka yang menang melawan hawa nafsu dan mampu melakukan tobat nasuha. Di tengah ujian wabah yang mendera, bukankah ini adalah momen yang tepat untuk negeri agar melakukan tobat nasional? Terlebih kebijakan selama pandemi tak berpihak kepada kepentingan rakyat. Menyalahi syariat, menambah kezaliman berlipat-lipat.

Berbagai kesulitan yang menimpa negeri ini tidak lain karena keimanan dan ketakwaan hanya bersifat insidental. Bukan dilakukan setiap saat. Ditambah kebijakan yang tak berpijak pada syariat. Bagaimana mau mewujudkan kesuburan, kemakmuran, persatuan, dan kesejahteraan tatkala penduduk negeri tak benar-benar menaati Allah dan menjauhi maksiat?

Allah Swt. berfirman :
“Dan jika penduduk negeri beriman dan bertakwa (kepada) Allah sesungguhnya Kami (Allah) bukakan kepada mereka (pintu-pintu) berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka lantaran apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Araf: 96)

Dalam ayat itu Allah memberi petunjuk bagaimana sebuah negeri mendapat berkah dari langit dan bumi. Kuncinya adalah iman dan takwa. Bukti iman bagi muslim adalah ketundukan total kepada syariat-Nya. Tidak bertingkah seolah manusia yang berhak membuat aturan dalam kehidupan.

Keimanan yang sempurna akan mengantarkan seseorang pada takwa. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah dengan sebenar-benar takwa (Ittaqu l-Laaha haqqa tuqaatihi), ialah hak Allah untuk ditaati, tidak dimaksiati; segala pemberian-Nya disyukuri, tidak diingkari; dan Allah selalu diingat, tidak dilupakan.” (Hadis riwayat Al-Hakim dari Abdullah Ibnu Masud)

Saat iman dan takwa mewujud maka Allah berikan negeri itu berkah dan rahmat dari langit dan bumi. Indonesia dengan segala berkah berupa kekayaan alam yang luar biasa, namun tak nampak rahmat Allah padanya.

Maka dari itu, sudah seharusnya pandemi corona menjadi ajang hijrah secara kolektif yaitu melakukan perubahan besar terhadap sistem negara yang sudah karut marut.

Wallahu a’lam bishshowab.

About Post Author