26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Mungkinkah Lelah Tenaga Medis Segera Berakhir?

Oleh : Sumiati
(Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis Kreatif)

PPMI CENTRE – Tulisan | Hampir setiap hari, melihat dan mendengar permohonan dari tenaga medis untuk masyarakat agar tetap di rumah saja. Mereka berjuang sekuat tenaga, tidak memikirkan lagi bagaimana perasaan diri dan keluarganya. Hanya fokus terhadap tugasnya walau harus meregang nyawa.

Diĺansir dari OkeZone.com, sekitar 24 tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M. Yunus Bengkulu, menjalani perayaan Idul Fitri 1441 Hijriah tanpa bertemu keluarga. Mereka secara keseluruhan sedang menjalani masa karatina di gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Bengkulu. Sehingga silaturahmi dengan keluarga besar hanya bisa dijalin secara virtual. ”Sudah menjadi tugas kami, tanggung jawab sesuai sumpah. Kali ini pun lebaran cuma bisa melalui video call,” ujar salah satu perawat di RSUD M. Yunus Bengkulu, Desmi Lindawati, Senin (25/05/2020).

Dari hari ke hari, perjuangan tenaga medis makin memprihatinkan. Makin banyak yang gugur saat menangani wabah. Bahkan tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Penguasa tidak memberikan perlindungan utuh agar pasien Covid -19 tidak terus melonjak. Bahkan proteksi finansial juga tidak diberikan. Justru saat hari raya pun mereka tidak mendapatkan THR. Perawat honorer dipotong gaji bahkan dirumahkan, karena RS daerah kesulitan dari sisi dana. Padahal pemecatan atau gugurnya tenaga medis, sama dengan berkurangnya prajurit di garda terdepan yang siap bertempur untuk menyelamatkan nyawa masyarakat. Tenaga medis yang sudah terikat sumpah kemanusiaan pun diabaikan haknya oleh penguasa.

Inilah akibat kerakusan penguasa dalam sistem kapitalis demokrasi. Tenaga medis harus tetap bekerja, tidak boleh menolak pasien walaupun tubuhnya sudah sangat lelah. Di atas kepentingan kaum kapitalis, bukan hanya masyarakat yang menjadi korban, tenaga medis pun menjadi korban keganasan kepentingan. Bahkan korban kebohongan kaum kapitalis, jika wabah ini rekayasa. Agar kaum kapitalis demokrasi menguasai dunia, memaksa negeri-negeri yang sudah melakukan lockdown untuk kembali normal. Sementara wabah belum berlalu. Hal ini menjadi kekhawatiran masyarakat jika terjadi pandemi jilid dua. Kondisi ekonomi yang sedang morat marit, memungkinkan negara membuat hutang luar negeri yang baru, dengan alasan untuk menyelesaikan masalah pandemi. Lagi-lagi kaum kapitalis menang dalam bisnisnya. Sedangkan tenaga medis terus berjuang akibat permainan.

Sangat berbeda dengan sistem Islam. Di dalam Islam, lockdown tidak akan disudahi sebelum wabah benar-benar pergi atau hilang di muka bumi. Baik Rasulullah Saw. maupun para sahabat ketika memimpin daulah Islam tidak pernah memilih untuk mengorbankan rakyatnya. Tetapi fokus pada periayahan yang tepat terkait pandemi. Dan tentunya akan terus memberikan edukasi kepada masyarakat, sehingga tidak ada yang terzalimi. Baik masyarakat maupun tim medis. Tenaga medis difasilitasi segala keperluannya. Dari mulai perlengkapan medis hingga upahnya yang begitu diperhatikan. Sehingga tenaga medis bisa totalitas menjalankan tugas mulianya, tanpa terbebani dengan segala keterbatasan.
Wallaahu a’lam bishshawab.

About Post Author