25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

UUD 1945 adalah Kontrak Politik Bangsa Indonesia dengan ALLAH..!!

KAJIAN ISLAM HARI SELASA ( JISEL ) TGL 9 JUNI 2020 ” UUD 1945 adalah Kontrak Politik Bangsa Indonesia dengan ALLAH..!! “

Bahwa seluruh manusia yang ada dibumi adalah keturunan Nabi Adam AS dan telah berjanji dengan ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA yang telah mengambil kesaksian dari masing-masing jiwa kita sebelum dilahirkan di Muka bumi ini, hal ini dijelaskan dalam QS.7 Al-‘A`rāf :172 – Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan ALLAH mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah AKU ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Bahwa Pengakuan atas jiwa-jiwa dari ayat tersebut diatas adalah pengakuan kejujuran akan eksistensi Allah yang tidak dapat dibantah oleh siapapun bahwa dialah Tuhan Alam Semesta, yang kemudian diperjuangkan oleh Para Tokoh Umat Islam Pendiri Bangsa dan Negara Indonesia menjadi DASAR NEGARA SEPERTI YANG TERSEBUT DALAM UUD 1945 Pasal 29 Ayat 1 dan Sila Kesatu Pancasila yang menjadi sumber nilai/inspirasi dari Alinea Ketiga Pembukaan UUD 1945, Peristiwa itu semua dapat dianggap Kontrak Politik yang agung antara Rakyat Indonesia dengan ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA melalui perwakilan-perwakilannya. Maka dari itu semua Penyelenggara Negara harus disumpah sebelum menjalankan tugas-tugasnya sebagai penyelenggara Negara, adapun Makna Kata Sumpah dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah
1. Pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dan sebagainya) contoh: ‘perkataannya itu dikuatkan dengan sumpah’
2. Pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar;
3. Janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu), contoh: ‘seorang karateka harus menghayati sumpah dan pedoman karate sumpah’

Maka dari itu merespon dari kritikan tentang Tulisan ESM tentang Pancasila dan UUD 1945 adalah Kontrak Politik Bangsa Indonesia dengan ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA yang berjudul Pemeritah Teledor ..!!, Rakyat Jadi Tekor yang dimuat oleh PPMI Center pada edisi 8 Juni 2020, maka perlu abang perjelas apa yang dimaksud UUD 1945 sebagai Kontrak Politik yang agung antara Rakyat Indonesia dengan ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA melalui perwakilan – perwakilannya seperti penjelasan diatas.

Dalam beberapa kali ceramah ESM live streaming FB sudah ESM jelaskan dengan terang bahwa Bangsa Indonesia merebut Kemerdekaannya yang diproklamirkan oleh Soekarno Hatta Tanggal 17 Agustus 1945 atau 9 Ramadhan 1364 Hijriah Hari Jum’at di Jalan Pegangsaan Timur 56 – Jakarta Pusat, Pukul 11.30 waktu Nippon (sebutan untuk negara Jepang pada saat itu). Dinyatakan oleh Para Pendiri Bangsa Kemerdekaan kita peroleh atas berkat Rahmat ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA yang dituangkan dalam Mukaddimah UUD 1945 Alinea Ke-3 : “Atas berkat rahmat ALLAH Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

ALLAH YANG MAHA KUASA yang dimaksud disini dijelaskan dengan tegas dalam Konstitusi NKRI, tidak dapat dibantah secara ilmiah oleh pendekatan apapun untuk mengatakan UUD 1945 ADALAH KONTRAK POLITIK YANG AGUNG ANTARA RAKYAT INDONESIA DENGAN ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA secara LOGIKA QUR’AN dan Konstruksi Hukumnya. Hal ini dapat dibuktikan secara konkret melalui metode ESM Theory : OST-JUBEDIL yaitu pendekatan Yuridisnya dengan tiga pendekatan penting :

1. Bahwa, dasar negara Republik Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa hal ini termaktub didalam sila Pertama Pancasila dan Pasal 29 ayat 1.

2. Bahwa, Ketuhanan Yang Maha Esa yang dmaksud dalam poin pertama tersebut telah amat jelas disebutkan dalam Mukadimah UUD 45 pada alinea ke-3 “Atas berkat rahmat ALLAH Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

3. Hal ini sangatlah jelas merupakan KONSEKWENSI LOGIS dari hubungan antara MUKADIMAH UUD 45 tersebut dengan batang tubuh yaitu pasal 29 ayat 1 UUD 45 menjelaskan secara hubungan hukumnya atau dengan kata lain secara yuridis bahwa yang dimaksud dengan Tuhan yang MAHA ESA yaitu adalah ALLAH yang Maha Kuasa. TUHAN yang dijelaskan dalam Alquran Kitab Suci Umat Islam yaitu Dalam QS. AL IKHLAS.

Dari Uraian diatas jelas bahwa KONSTITUSI NKRI yaitu UUD 1945 adalah KONTRAK POLITIK Agung Rakyat dan Bangsa Indonesia dengan ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA, Kontrak Politik harus dimaknai sebuah Perjanjian/Sumpah maka secara konsekwensi dari sebuah perjanjian/SUMPAH yang dilanggar adalah adanya hukuman dari pihak yang dilanggar, maka dari itu kondisi yang dialami bangsa Indonesia hari ini yang masih menderita atas perilakunya yang telah melanggar Perjanjian/Sumpah dengan ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA tersebut, Bentuk Hukuman dari ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA kepada kita semua dijelaskan dalam :

1. QS.6. Al An’am ayat 123 yang artinya : Dan demikianlah pada setiap negeri, kami jadikan pembesar – pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu, tapi mereka hanya menipu diri sendiri Tanpa menyadarinya

2. QS.7: Al-A’raf ayat 96 yang artinya “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Siksaan atau Hukuman dari ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA akibat perilaku menyimpang sebagian Besar Rakyat Indonesia dari hukum-hukum ALLAH melalui Sistem Politik, Ekonomi dan Hukum yang Feodal, Oligarki dan Transaksional yang tidak mungkin meraih RIDHO ALLAH karena lahir dari sebuah sistem sangat bertentangan dengan LOGIKA ALAQURAN yang diformulasikan melalui Teori ESM OST JUBEDIL

Padahal ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA sudah menjanjikan jika Bangsa Indonesia Konsisten dan Komitmen dengan Kontrak Politiknya melalui Konstitusinya UUD 1945 dalam Al Qur’an yang Agung melalui beberapa ayat yang ESM Kutip yaitu :

1. QS. An Nur ayat 55 : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

2. QS. Muhammad Ayat 7 : Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) ALLAH , niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

3. QS.22. Al-Hajj ayat 41 : orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada ALLAH-lah kembali segala urusan.

PENEKANAN AYAT tersebut dapat dilihat mulai dari kalimat “…jika kami berikan kedudukan di bumi… ” hal ini menunjukkan atau status sosial seorang Manusia dimuka bumi ini sehingga secara Islam fungsional yaitu dengan berlakunya hukum Islam oleh PRESIDEN dan DPR RI. Logika OST-JUBEDIL nya secara TERBALIK yaitu apabila yang menjabat sebagai Presiden dan DPR RI tidak dapat dibanggakan Iman dan Taqwanya kepada ALLAH dan Rasul-NYA NABI MUHAMMAD SAW, memiliki keimanan yang LEMAH bahkan dapat dikatakan SECARA SUBTANSI “TIDAK BERIMAN”. (Baca Q.S.23. AL MUKMINUN ; AYAT 1 – 11).

Melalui pendekatan OST-JUBEDIL tersebut sehingga orisinalitas penegakan ajaran Islam atau berjalannya syariat Islam tentu dengan bimbingan langsung melalui wahyu Allah yang sudah amat jelas tanpa memerlukan penjelasan lain dari berbagai sumber karena ayat-ayat Al Quran tersebut yang ESM kutip bukanlah ayat-ayat yang menimbulkan multitafsir, apalagi dapat dilihat pelaksanaan konkritnya melalui sejarah hidup Rasulullah NABI BESAR MUHAMMAD SAW, sebagai THE WALKING QURAN atau Quran yang berjalan.

Hal ini jangan disalahpahami atau dijadikan titik perdebatan bahwa ESM tidak perlu penjelasan sumber-sumber lainnya tersebut, tetapi ESM cukup dengan teori OST JUBEDIL sudah amat sangat jelas, hanya perlu dilaksanakan saja. Kini yang penting bagaimana kita berkarya atau berbuat amal soleh dan Siappppp Jihad Fisabilillah

Baca Q.S . AT TAUBAH AYAT 105 : Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

dan ayat 111 : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Semoga bermanfaat bagi Rakyat, Agama, Bangsa dan Negara Indonesia

Bogor, 9 Juni 2020
Salam Taziem
ESM = EGGI SUDJANA MASTAL .

About Post Author