06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho


Oleh: Safiatuz Zuhriyah, S. Kom
Aktivis Dakwah Muslimah

Sungguh mengejutkan. Di tengah pandemi yang belum jelas kapan berakhirnya, bupati Ogan Ilir malah memecat 109 tenaga medis karena melakukan mogok kerja selama seminggu. Padahal dalam pertempuran melawan virus corona ini, para tenaga medis ibarat tentara yang berada di garda terdepan. Pemecatan tenaga medis sama dengan mengurangi jumlah personel yang mampu berhadapan langsung dengan musuh untuk memenangkan pertempuran.

Bila ditelisik akar masalahnya, rasanya sangat wajar bila para tenaga medis ini melakukan protes. Pasalnya, semakin banyak korban tenaga medis yang gugur saat menangani wabah. Hal ini tidak menjadi perhatian serius dari pemerintah. Minimnya APD, telah dikeluhkan sejak hari pertama wabah ini melanda. Parahnya, setelah hampir 3 bulan berjalan, keluhan ini belum juga teratasi. Bahkan banyak tenaga medis yang akhirnya membeli APD dari kantong sendiri.

Jangankan memberi perlindungan utuh melalui kebijakan terintegrasi agar pasien tidak terus melonjak, bahkan proteksi finansial pun tidak diberikan. Sekretaris Badan Bantuan Hukum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Maryanto mengatakan melalui chanel youtube PPNI pada Senin, 25 Mei 2020, bahwa perawat sektor swasta sudah banyak yang mengadu ke badan hukum PPNI. Isi aduan tersebut adalah di antaranya ada yang tidak diberikan THR, ada yang tidak diberikan gaji secara utuh dan juga diberikan THR hanya separuh atau hanya ucapan terimakasih.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memang telah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan insentif bulanan bagi para tenaga kesehatan selama pandemi. Berdasarkan keputusan ini, maka dokter spesialis akan diberi insentif bulanan sebesar Rp 15 juta, dokter umum dan gigi sebesar Rp 10 juta, tenaga keperawatan Rp 7,5 juta, dan tenaga medis lainnya Rp 5 juta.

Namun Maryanto mengatakan, hingga saat ini insentif yang dijanjikan itu belum kunjung turun. PPNI dan para perawat lainnya juga belum mendapatkan informasi akan kejelasan pencairan insentif yang dimaksud. Peraturan memang sudah diterbitkan tetapi pelaksanaan sama sekali belum bisa diberikan.

Tentu saja hal ini sangat menyakitkan bagi para tenaga medis. Bagaimana mereka bisa tenang bekerja, bila tidak ada jaminan atas kesejahteraan keluarganya?

Seharusnya, perlindungan menyeluruh kepada tenaga medis di tengah darurat Covid-19 ini menjadi prioritas. Jangan sampai para dokter dan perawat kelelahan, kehabisan waktu dan tenaga. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan mereka juga. Menurut Doni dari Gugus Tugas Covid-19, para tenaga medis tersebut telah mencurahkan waktu dan tenaga, bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk keselamatan Bangsa Indonesia, maka wajib kita lindungi.

Faktanya, jumlah tenaga medis dokter di Indonesia masih sangat sedikit, yakni 200 ribu orang. Apalagi, dokter paru yang hanya 1.976 orang. Artinya satu orang dokter paru harus melayani 245 ribu WNI. Tentu ini sangat tidak sebanding. Oleh karena itu, apabila kita kehilangan dokter, maka ini adalah kerugian yang besar bagi bangsa kita.

Pengabaian nasib tenaga medis tersebut, semakin meneguhkan fakta bahwa pemerintah tidak bersungguh-sungguh memperhatikan urusan rakyat. Sesuai dengan ideologi kapitalis yang dianutnya, yang menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengambil keputusan hanyalah untung rugi dari sisi ekonomi semata. Tidak diperhatikan apakah keputusan tersebut membahayakan rakyat atau tidak.

Dari awal, pemerintah tidak serius menangani pandemi ini. Bahkan sempat dijadikan bahan candaan. Mirisnya, nyawa rakyat dianggap tidak berharga. Terbukti dengan banyaknya pernyataan dari pejabat negara bahwa korban covid-19 tidak banyak, jadi tidak perlu diributkan. Salah satu pernyataan kontroversial yang dikeluarkan oleh jajaran Kabinet Indonesia Maju adalah pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan. “Kenapa jumlah kita yang meninggal, maaf sekali lagi, itu angkanya tidak sampai 500. Padahal jumlah penduduk 270 juta,” kata Luhut, Selasa, 14 April 2020. Benar-benar tidak ada empati kepada korban dan keluarganya.

Walhasil, kasus pun melonjak tajam. Update per Selasa sore, 9 Juni 2020 diumumkan oleh juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona di Indonesia, Achmad Yurianto, total positif terjangkit adalah 33.076 orang, total kasus sembuh 11.414 orang, dan total kasus meninggal dunia 1.923 orang. Ribuan orang meninggal, bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Terbukti, negara tidak sanggup melindungi rakyatnya.

Islam Menawarkan Solusi

Islam adalah agama yang syamil (sempurna) dan kamil (menyeluruh). Syariatnya mencakup seluruh sendi kehidupan manusia. Memberi solusi tuntas atas seluruh problematika. Namun tidak menjadikan manusia terpenjara dengan mengekang hingga mematikan fitrahnya. Ia adalah lampu penerang yang menyinari perjalanan sang makhluk menuju kebahagiaan. Baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam hal penanganan wabah, Islam telah mengajarkan untuk melakukan lockdown total. Tidak boleh masuk maupun keluar wilayah wabah. Rasulullah saw. pernah bersabda: “Wabah thaun adalah kotoran yang dikirimkan oleh Allah terhadap sebagian kalangan bani Israil dan juga orang-orang sebelum kalian. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu.” (HR Bukhari-Muslim)

Lockdown dilakukan untuk memutus rantai penyebaran penyakit. Supaya daerah yang terjangkit tidak bertambah luas. Di wilayah yang tidak terdampak wabah (zona hijau), masyarakat bisa beraktivitas secara normal. Sedangkan di wilayah terdampak wabah (zona merah), masyarakat harus mengisolasi diri. Yang sehat dipisahkan dari yang sakit.

Yang sehat diharuskan berdiam diri di rumah. Semua kebutuhannya dicukupi oleh pemerintah daerah setempat dengan dibantu warga yang mampu. Dibawakan sampai ke depan rumah. Tidak ada alasan mereka tetap beraktivitas di tempat umum sehingga rentan tertular dan menambah panjang daftar korban.

Sedangkan yang sakit dibawa ke RS, diobati sampai sembuh dengan pelayanan maksimal dan gratis. Tidak ada alasan mereka memaksa keluar dari RS karena khawatir akan nasib keluarganya, maupun alasan lain yang tidak masuk akal.

Negara menyediakan fasilitas kesehatan secara maksimal. Pada zaman keemasan Islam, hampir semua kota besar Islam memiliki rumah sakit.  Di Cairo, rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8000 pasien. 

Rumah sakit yang pada masa itu disebut Bimaristan, bukan hanya berfungsi sebagai pengobatan dan perawatan, akan tetapi juga sebagai laboratorium penelitian dan sekolah kedokteran yang melahirkan dokter-dokter Islam. Beberapa rumah sakit juga mempunyai perpustakaan besar yang berisi buku-buku farmakologi, anatomi, fisiologi, dan ilmu lainnya yang berkaitan dengan bidang kedokteran.

Diantara rumah sakit yang juga berfungsi sebagai tempat pendidikan adalah Rumah Sakit Al-Nuri. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit yang pertama kali dibangun umat Islam. Ia didirikan pada tahun 706 M oleh Khalifah Al-Walid bin Abdul Al-Malik dari Dinasti Umayyah.

Saat kepemimpinan Khalifah Nuruddin Zinki pada tahun 1156 M, rumah sakit ini diperluas dan diperbesar. Ia dilengkapi dengan peralatan paling modern dan tenaga dokter serta perawat yang profesional. Rumah sakit ini yang pertama kali menerapkan rekam medis (medical record). Khalifah juga membuka sekolah kedokteran di rumah sakit tersebut. Untuk memajukan sekolah, khalifah menghibahkan perpustakaan pribadinya.

Karena rumah sakit dan sekolah berada dalam satu lokasi, para dokter sekaligus berprofesi sebagai pengajar.

Biasanya, ketika seorang dokter memeriksa berbagai kasus, ia ditemani beberapa siswa. Sambil mencatat hasil pemeriksaan dan obat-obatan yang diresepkan, siswa diminta mengamati dan belajar. Kemudian dokter tersebut ke aula besar untuk mengajar mahasiswa dengan menjelaskan dan menjawab pertanyaan mereka. Materi dalam sesi pelajaran tersebut menjadi bahan tes di akhir setiap masa pendidikan. Dan hasil dari tes itu seorang atau beberapa siswa direkomendasikan menjadi dokter. Lulusan dari sekolah tersebut lahir sederet dokter terkemuka. Salah satunya Ibn Al-Nafis yang dikenal sebagai penemu sirkulasi paru-paru. (Sumber: trenopini.com)

Dengan demikian, kebutuhan akan tenaga kesehatan bisa dipenuhi secara maksimal, sesuai dengan prosentase jumlah penduduk yang ada. Alat-alat penunjang medis seperti APD, tes laboratorium, obat-obatan, maupun vaksin juga bisa cepat diusahakan ketersediaannya. Pada saat itu, nagara Islam adalah negara maju, terdepan dalam hal teknologi dan fasilitas kesehatan.

Kesejahteraan tenaga medis juga sangat diperhatikan. Misalnya, ada seorang dokter Kristen di masa kekuasaan Islam, Ibn Tilmidz, memiliki pendapatan tahunan yang jumlahnya lebih dari 20 ribu dinar. Ada pula kisah tentang Muhadzdzab al-Din Ibn al-Naqqasy. Ia merupakan seorang dokter dari Baghdad, Irak, pada abad ke-11. Kemudian al-Naqassy bekerja untuk pemerintahan Bani Fatimiyyah dan mendapatkan imbalan tiap bulan sebesar 15 dinar. Ia pun mendapatkan apartemen lengkap dengan perabotannya, seperangkat pakaian mewah, dan seekor keledai terbaik. Di sisi lain, ia pun mendapatkan seorang budak.

Tentu saja, untuk mewujudkan semua hal di atas, dibutuhkan biaya yang sangat besar. Namun itu tidak menjadi masalah bagi pemerintahan Islam, karena syara telah memberi kekuasaan kepada negara untuk mengelola harta negara dan harta kepemilikan umum. Hasil pengelolaan ini kemudian dibelanjakan untuk kepentingan rakyat secara keseluruhan.

Sumber daya alam yang melimpah di negeri-negeri kaum muslimin, yang notabene adalah harta kepemilikan umum, dapat memberi pemasukan yang sangat besar kepada negara. Dengannya, negara bisa mencukupi seluruh kebutuhan rakyatnya. Tanpa bergantung kepada pajak dan utang luar negeri.

Demikianlah, hanya dalam naungan Islam, kehidupan seluruh rakyat, termasuk tenaga medis, akan sejahtera. Sudah saatnya kita campakkan sistem kehidupan kapitalis saat ini, dan menggantinya dengan sistem Islam. Satu-satunya sistem yang diridai Allah Swt.

About Post Author