04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Khilafah Solusi Signifikan, Bukan Sebuah Ancaman


Oleh: RAI Adiatmadja
(Founder Komunitas Menulis Buku Antologi)
Dampak Pandemi
Berawal dari kasus di Wuhan. Betapa dahsyatnya pandemi corona menginfeksi masyarakat Cina, tersebar tayangan demi tayangan di media. Tentu itu membuat panik yang menyaksikan, menjadi polemik besar yang belum terselesaikan. Terhitung enam bulan virus Covid-19 telah menyerang warga dunia, lebih dari dua ratus negara terinfeksi dan akhirnya melahirkan kebijakan yang memaksa penguncian secara parsial atau pun universal.
Dampak virus ini sangat luar biasa dan mudah sekali menular sehingga membuat semua petinggi negara-negara di dunia melakukan penahanan laju penyebarannya dengan berbagai cara. Bahkan pembekuan aktivitas perekonomian dan sosial warga, hingga lahan-lahan bisnis pun ditutup, pembatasan sosial juga fisik menjadi aturan yang dipakai di setiap negara di dunia yang merasakan dampak pandemi.


Kepala ekonom CIMB Niaga, Adrian Panggabean, melihat krisis ini ekonomi global 2020 ini memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan krisis 1997-1998 maupun krisis ekonomi 2008. Menurutnya dibutuhkan solusi global untuk bisa mengatasi ekonomi yang terjadi saat ini.
Berdasarkan keterangan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Adrian mengatakan vaksin untuk menangani pandemi Covid-19 diperikirakan baru bisa dilakukan 12-18 bulan ke depan. Artinya, solusi global terhadap krisis ekonomi sekarang baru akan terjadi pada pertengahan 2021 atau pertengahan tahun depan.


Atas nama pemulihan perekonomian pascapandemi Covid-19, Masatsugu Asakawa– Presiden Asian Depelopment Bank (ADB)–meluncurkan panel tingkat tinggi beranggotakan para ahli di bidang ekonomi, keuangan, dan kesehatan untuk membantu para menteri, gubernur bank sentral, dan pejabat senior dari negara-negara Asia Tenggara. Tujuan peluncuran panel ini yakni untuk mengidentifikasi langkah cepat yang diambil berbagai negara dalam mengatasi dampak kesehatan, sosial, ekonomi, dan keuangan yang disebabkan pandemi Covid-19. (republika, 27/4/2020)
Kegagalan Kapitalisme
Menurut Adrian masalah yang dihadapi dalam menangani krisis ekonomi 2020 ini adalah terjadinya polarisasi di dunia. Polarisasi itu antara lain terjadinya persaingan antara Rusia dan OPEC, rivalitas antara Cina dan Amerika Serikat, Eropa versus Eropa, negara kaya dan negara miskin. Polarisasi inilah yang membuat solusi secara global menghadapi sejumlah kendala yang harus terlebih dahulu diatasi.
Bayang-bayang gelombang kedua virus corona pun menghantui beberapa negara, termasuk Amerika Serikat yang hampir 60 persen mengalami peningkatan kasus.
Seluruh dunia dibuat kalang kabut dengan adanya corona. Resesi semakin di depan mata. Di negeri tercinta kita ini pun sudah sejak lama merasakan keadaan ekonomi yang memburuk, laju pertumbuhan tak kunjung tumbuh, ditambah dengan kondisi pandemi yang membuat rakyat semakin berat dan terpuruk.


Melansir data dari laman Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 10,5 juta kasus hingga Rabu (1/7/2020) pagi. Krisis di berbagai bidang kehidupan semakin tak terelakkan, solusi vaksin pun masih berada di ruang gelap, nyawa perekonomian megap-megap, krisis lainnya ikut timbul melahirkan kebijakan-kebijakan yang semakin tumpul.
Sudah terbukti, negara adidaya yang sesumbar mampu mencengkeram dunia pun ambruk karena virus yang tak kasatmata. Kapitalisme yang pongah harus kalah oleh tentara Allah yang awalnya dianggap lemah.


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS. ar-rum: 41)
Solusi Signifikan untuk Menangkal Kerusakan
Setiap kerusakan yang terjadi, termasuk adanya pandemi karena disebabkan oleh kemaksiatan manusia. Berbagai masalah dan kesulitan hidup diakibatkan dari penerapan sistem dan aturan yang menyalahi syariat Allah, melahirkan kesalahan fatal dan sistemik. Kemaksiatan yang ada hari ini merupakan hakikat kekufuran. Dengan hadirnya corona, semoga banyak pemikiran yang kian terbuka, bahwa sistem Kapitalisme sudah semakin tua dan tak berdaya. Lantas jika kita tak bertekad kembali kepada sistem hidup yang seharusnya, akankah tetap berharap pada sistem yang telah gagal dari awal dan tak bisa menangkal setiap problematika yang semakin menjegal?
Gelombang aspirasi untuk sistem Islam kembali tegak begitu mengalir deras. Namun sayangnya ada saja suara yang tak selaras. Mengatakan bahwa pandemi hanya butuh vaksin dan obat, bukan khilafah dan kembali pada syariat. Begitulah kaum apatis dan pragmatis yang tak mau belajar berpikir lebih relevan dalam memahami akar permasalahan.
Khilafah adalah solusi satu-satunya untuk menangkal setiap masalah termasuk menuntaskan wabah. Bukti selama 13 abad berjaya dan tertuang jelas dalam sejarah. Tidak menyelisihi syariat karena khilafah adalah ajaran Islam, keberadaannya bersandar pada wahyu bukan sekadar akal manusia.
Jika khilafah disebut sebagai ancaman, maka yang layak merasa terancam adalah ideologi Kapitalisme dan Komunisme serta para penganutnya.
“Siapa saja yang tidak memerintah/berhukum dengan hukum yang telah Allah turunkan, mereka adalah pelaku kezaliman (TQS. al-Maidah: 5)
Wallahu a’lam bish-shawab

About Post Author