30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

PANCASILA dari masa ke masa dalam Kehidupan berBangsa dan berNegara

Sejak 18 Agustus 1945 hingga saat ini, Butir butir Pancasila mulai dari sila kesatu hingga sila kelima relatif tidak berubah secara signifikan, sejumput persembahan sederhana jayasamantha 01072020 secara singkat.
Namun meski Pancasila tidak berubah bahkan pernah di peringati “kesaktian” nya, Pancasila dalam praktek kehidupan berBangsa dan berNegara senantiasa penerapan dan pelaksanaannya cendrung hanya sesuai pada selera Kekuatan yang berkuasa belaka !!!

Berikut dibawah ini kami mencoba sampaikan rekam jejaknya dari masa ke masa, kekuasaan yang memerintah selama ini dalam melaksanakan Pancasila.

🔊1945-1949 : kental dengan perjuangan Kemerdekaan dan mempertahankan Kedaulatan RI.
Kepemimpinan Nasional mengacu pada Dwi Tunggal Soekarno-Hatta.

🔊1949-1950 : Indonesia tercabik menjadi RIS (serikat), sebahagian wilayah atau beberapa Negara Bagian menjadi boneka Asing (belanda).

🔊1950-1959 :
Ditandai dengan diberlakukannya “UUD Sementara”, Demokrasi Parlementer serta berpesta poranya para politisi dan partai politik partai politik.
Diera ini politiklah yang jadi Panglima.

🔊1959-1965 :
Pudarnya peran Parpol melalui “Dekrit Presiden”, seiring dengan lahirnya “Nasakom”.
Demokrasi Parlementer berubah menjadi Demokrasi Terpimpin. Soekarno Panglima Besar Revolusi diangkat menjadi Presiden seumur hidup dan muncul politik konfrontasi (Ganyang Malaysia dan anti barat berikut Sekutunya), dibikin poros Djakarta-Hanoi-Pyongyang-Peking.
Pada masa ini juga dikenal dengan istilah “Segitiga kekuatan politik” (Soekarno, PKI dan TNI AD).
Era ini yang jadi Panglima adalah komunisme.

🔊1965-1967 :
Pembersihan kekuatan PKI (komunis) oleh Rakyat/Umat Islam dan TNI.

🔊1967-1998 :
Dikenal juga dgn era Orde Baru sebagai antitesa dari “cap” Orde Lama yang tumbang dan berkuasa sebelumnya.
Pada masa ini, bisa juga dirasakan bahwa yang lebih “sakti” daripada Pancasila adalah “Trilogi” dgn STABILITAS lah yang menjadi Panglima.
Demi stabilitas yang berhasil mempertahankan kekuasaannya Orde Baru, semua hal dan aspek-aspek kehidupan berBangsa dan berNegara bahkan juga pada kehidupan berMasyarakat dipaksakan menjadi “TUNGGAL” (astung), juga dikenal dengan kampanye Pancasila sebagai Azas Tunggal (Monolitik), yang mengakibatkan tragedi Tanjung Priok yang menolak Azas Tunggal oleh Ust. Amir Biki dkk.
Salah jubir Trilogi Pembangunan yaitu Adam Malik berkampanye bahwa “Pertumbuhan” yang dominan diserahkan pada “Aseng” WNI keturunan, yang kemudian berhasil jadi tai tai pan konon akan menetes kebawah atau menetes pada rakyat banyak (tricle down efect). Sehingga Pemerataan dari kue nasional akan terwujud (cuma teori/konsep boongan)
Selanjutnya kekuasaan era ini pun tumbang dengan di luncurkan “gerakan Reformasi” yang memaksa Soeharto menyatakan mundur sebagai Presiden RI

🔊1998-1999 :
Transisi ke era reformasi.

🔊1999- sekarang :
… Reformasi? Formasi apa yang akan di “RE” (kembali) kan? … nasakom? Pancasila dan UUD 1945 asli? Dengan dan nambah amandemen? …
“ATAU ” … ?

Jika kita tinjau ke delapan periode yang berkuasa diatas, PANCASILA dalam konsep/teori tetap tidak berubah, namun praktek dalam kehidupan berMasyarakat, berBangsa dan berNegara bagai jalan yang berkelok-kelok tergantung pengemudi di jalan tersebut, yang kelok keloknya diciptakan oleh kemauan nya sendiri dari pengemudi tadi. Sehingga terlihat nyata cendrung, tidak peduli andaikan harus tabrak mana saja bahkan menurut bbrp pakar sudah tergelincir/slip di mulut jurang?

Semoga Tuhan Yang Maha Esa Alloh SWT yg telah melimpahkan Rahmat NYA berupa KEMERDEKAAN 1945 dan KEKAYAAN TANAH AIR REPUBLIK INDONESIA, Menambahkan Nikmat tsb dengan melimpahkan juga karunia Rahmat NYA juga pada seluruh RAKYAT INDONESIA.

ngono OPO ngene…..
“Siapa pun penggagas (inisiator)” dari RUU HIP yang bermuatan tri sila atau eka sila, jika :
1) memaksakan kehendaknya maka yang bersangkutan adalah pelaku “MAKAR” paling jahat terhadap NEGARA !
2) namun apabila hal ini “hanya” sebagai program yang bermaksud untuk Pembangunan Karakter Nasional (national character building), tentu saja sudah mendapatkan hasil yang cukup gemilang

Jakarta, 02 Juli 2020
salam MABRURRA.
Drs. Jaya Samantha
Ketua Dewan Pertimbangan Nasional DPP PPMI/Pendiri PPMI

About Post Author