06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Gerakan Besar Untuk Indonesia Bertaqwa (Jilid I)

Pendahuluan

Sesungguhnya Gerakan Besar Untuk Indonesia Bertaqwa, sepertinya tidaklah lazim. Namun, berdasarkan perkembangan situasi politik, hal ini dilakukan suatu keniscayaan. Pada prinsip nya Visi-Misi kebangsaan ini tidak bisa dipisahkan dengan Kepemimpinan Bangsa. Oleh karena itu gagasan ini. Oleh karena itu Gerakan Besar ini adalah gagasan menuju Indonesia Bertaqwa, Sejahtera, Aman, dan Damai dapatlah menjadi bagian sebagai tujuan berbangsa dan bernegara di NKRI.

Indonesia yang notabene mayoritas penduduk Indonesia +85% beragama islam, yang titik tekannya mayoritas beragama islam tersebut masih banyak yang tidak mengerti dan memahami bagaimana ASI (Al’quran, Shalat, Infak).

Dengan demikian program ASI ini merupakan satu tawaran gagasan yang seharusnya diberlakukan, karena bila tidak atau diabaikan harus dipahami sama juga mengabaikan peran dan fungsi dari ASI tersebut, yang pada akhirnya semua harus kita sadari sudah 75 tahun bangsa ini merdeka, sudah 7 kali ganti presiden dan sudah ribuan kali ganti anggota DPR/MPR. Akan tetapi, amanat tentang pelaksanaan ajaran yang ada dalam Al’quran, shalat yang 3 dimensi, serta infak dengan segala pengorbanan lainnya menjadi tidak mempunyai makna strategis. Artinya, adanya Al’quran, adanya pelaksanaan shalat, dan adanya pelaksanaan ZIS (Zakat, Infaq, dan Shodaqoh) sama dengan tidak adanya ASI tersebut. Dengan kata lain, tidak memiliki dampak mabrur didalam merubah tata kehidupan yang berdasarkan ASI. Jadi, lebih tegasnya pergantian presiden dan wakil presiden serta kabinetnya, juga legislatif dan yudikatifnya tidaklah mabrur selama mengabaikan ayat-ayat Allah maka mereka adalah para pembesar atau pejabat yang jahat.

Qur’an Surat Al-An’am ayat 123 : “Dan demikianlah kami jadikan tiap-tiap negeri pembesar- pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadari”.

Dalam sejarah kepresidenan di Indonesia, sudah 7(tujuh) kali ganti Presiden dan Wapresnya atau sebagai rezim tidak pernah ada keputusan / instruksi atau Perpu (Peraturan Pemerintah Pengganti UU) mengenai pengkajian dan penerapan isi kandungan Al Quran, penerapan salat 3 (tiga) dimensi, dan infak bagi seluruh rakyat Indonesia yang tentunya mayoritas beragama Islam untuk diberikan pendidikan, pemahaman, dan pembinaan secara bersama-sama melalui para ulamanya atau dikenal dengan keharmonisan antara ulama dan umaro sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt. dalam QS Fatir.
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,: agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS Fathir [35] : 28,29, dan 30)

Sungguh sangat penting dan strategis dari peranan Presiden dan Wapresnya bersama ulama, pendeta, pastur, biksu, dan para pemuka agama dari non muslim lainnya untuk memimpin dan mengkondisikan rakyat Indonesia menjadi rakyat yang bertakwa kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa, juga tentunya rakyat Indonesia yang beragama selain dari agama Islam atau non muslim, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dalam QS An Nisa : 135 dan Al Maidah : 8.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (QS An Nisa [4] : 135)

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Maidah [5] : 8)

Seperti yang diamanatkan pula dalam Pancasila dan UUD 1945, khususnya Pembukaan UUD 1945 alinea ke-3′ Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya;

Sila Pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa; dan Pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 1945 :
(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Dengan demikian, terwujudlah cita-cita luhur bangsa Indonesia yan sejak dulu diperjuangkan oleh para pahlawan nasional dan tokoh-tokoh nasional lainnya yang telah wafat mendahului kita untuk mewujudkan suatu negara Indonesia Bertakwa, Sejahtera, Aman, dan Damai.
Bahwa para pejabat atau pembesar yang baik dan benar, ia memperhatikan bahkan berupaya maksimal menjalankan perintah ayat-ayat Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Maka, mereka itulah pejabat atau pemimpin atau pembesar yang diridloi oleh Allah SWT karena sebagai pejabat yang mabrur. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT pada Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 73 :
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah”.

Oleh karena itu, pastilah terwujud satu negeri yang baik dan aman serta penuh ampunan dari Allah SWT yang merupakan tujuan dari Dari Gerakan Besar Indonesia Bertakwa, di dalamnya terdapat pemimpin yang baik dan berguna bagi rakyatnya, sehingga rakyat terbebas dari rasa lapar dan rasa takut karena mereka (pemimpin rakyatnya) mengikuti/taat kepada Allah SWT dan RosulNya, serta bebas KKN.

Dalam konteks atau hubungannya dengan Republik Indonesia, sudah menggariskan bahwa hadirnya Negara Republik Indonesia yang pokok utamanya adalah :
1. Negara Republik Indonesia berdasar kepada Ketuhanan Yang
Maha Esa
2. Berkedaulatan rakyat yang menjaga NKRI
3. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
4. Memakmurkan rakat Indonesia bagi keadilan seluruh rakyat
Indonesia
5. Berkomitmen menjaga perdamaian dunia dengan politik bebas aktifnya untuk menghapus penjajahan di muka bumi.

Sebagai ibrah atau pelajaran dapat dilihat dari Kaum Saba’, di jelaskan Al Qur‘an Surat As Saba ayat 15 : “Sesungguhnya bagi Kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

Kerangka atau landasan untuk menguatkan Visi dan Misi adalah kuatnya ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan Ulil amri. Pemerintah mempersiapkan rumah layak huni minimal type 70 dan menyediakan sandang, pangan dan makanan yang bergizi serta mempersiapkan pekerjaan yang mendatangkan upah Minimum Regional Rp. 7 juta bagi rakyatnya.

Qur’an Surat An-Nisa ayat 59 :
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Qur’an Surat Muhammad ayat 33
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.

Bersambung……

Bogor, 9 Juli 2020

Prof. Dr. H. Eggi Sudjana Mastal, SH.MS.i

1. Ketua Dewan Pendiri Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia
2. Dewan Penasihat DPP PA 212
3. Penasihat Masjid Al Hikmah VIP Bogor
4. Dewan Pakar PARMUSI (Persaudaraan Muslimin Indonesia)
5. Ketua Umum Tim Pembela Ulama dan Aktivis
6. Presiden Pengawas Umrah dan Haji (PUH)
7. Owner Law Firm Eggi Sudjana & Partners
8. Komisaris Utama Insan Cendekia Madani Bogor
9. Mantan Ketua Umum PB HMI MPO 1986 – 1988
10. Mantan Tim Ahli Menteri Tenaga Kerja dan Tansmigrasi 2002 – 2004
11. Mantan Cagub Jatim 2013-2018

About Post Author