06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Membasmi Virus Pelangi Melalui Boikot Produk, Efektifkah?


Oleh : Mariyatul Qibtiyah, S.Pd
Akademi Menulis Kreatif

Dukungan Unilever terhadap gerakan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ+) telah menuai kecaman di dunia maya. Tak sedikit seruan untuk memboikot produk Unilever. Salah satunya dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain. Menurut Azrul, kampanye pro LGBT yang tengah gencar dilakukan Unilever sudah keterlaluan dan sangat keliru. Azrul juga menyayangkan keputusan Unilever untuk mendukung kaum LGBT.


Sebelumnya, Unilever, perusahaan yang berbasis di Amsterdam, Belanda, pada 19 Juni lalu resmi menyatakan diri berkomitmen mendukung gerakan LGBTQ+. Hal tersebut disampaikan melalui akun Instagram. Dukungan itu dilakukan dengan menandatangani Declaration of Amsterdam untuk memastikan setiap orang memiliki akses secara inklusif ke tempat kerja. Unilever juga membuka kesempatan bisnis bagi LGBTQ+ sebagai bagian dari koalisi global. Selain itu, Unilever meminta Stonewall, lembaga amal untuk LGBT, mengaudit kebijakan dan tolok ukur bagaimana Unilever melanjutkan aksi ini. (republika.com, 29/06/2020)
Dukungan terhadap pelaku LGBT memang semakin besar. Dukungan terhadap mereka seolah deras mengalir dari sejumlah perusahaan internasional, seperti Apple, Google, Facebook, Youtube, dan Unilever. Ini juga menunjukkan bahwa beberapa negara barat sudah menganggap LGBT sebagai hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. (pikiran-rakyat.com, 28/06/2020)


Hal ini tidak mengherankan. Bagaimanapun, pemilik perusahaan-perusahaan tersebut adalah penganut liberalisme. Maka, mereka pasti akan memberikan dukungan terhadap kebebasan berperilaku. Termasuk kebebasan dalam orientasi seksual. Karena itu, pemboikotan terhadap produk perusahaan mereka juga tidak akan mempengaruhi kebijakan perusahaan. Mereka tidak akan mengubah keputusannya untuk mendukung perilaku para pengikut kaum Nabi Luth.
Padahal, fakta telah membuktikan bahwa perbuatan ini mendatangkan bahaya bagi para pelakunya. Yakni, datangnya berbagai penyakit yang berbahaya. Misalnya, penyakit HIV-AIDS yang banyak memakan korban. Di samping itu juga berbahaya bagi keberlangsungan generasi manusia.
Dukungan yang besar ini mengakibatkan perilaku menyimpang ini semakin tumbuh subur. Terlebih lagi, tidak ada hukuman yang diberikan kepada para pelaku. Para penguasa, termasuk penguasa di negeri-negeri muslim tidak bersikap tegas kepada mereka. Bahkan, mereka seolah membiarkan tingkah laku yang keji ini. .


Ibnul Qayyim al-Jauziyah menjelaskan beberapa hal terkait perbuatan liwath ini. Pertama, dosa liwath adalah dosa baru. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an,
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. al-A’raf [7]: 80)


Kedua, diberikannya tiga azab dalam satu waktu. Allah Swt. berfirman,
فَأَخَذَتْهُمُ ٱلصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ
“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.” (QS. al-Hijr [15]: 73)
فَجَعَلْنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ
“Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.” (QS. al-Hijr [15]: 74)


Inilah hukuman yang diberikan oleh Allah kepada kaum Nabi Luth as. Ini adalah azab paling berat yang pernah diberikan oleh Allah kepada para pelaku maksiat.
Ketiga, tidak ada ampunan bagi para pelaku maupun korbannya. Jika hukuman qisas bagi pelaku pembunuhan masih ada kesempatan untuk mendapatkan ampunan, tidak demikian dengan perbuatan liwath.

Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda,
.من وجدتموه يعمل عمل قوم لوط فاقتلوالفاعل والمقتول به


“Siapa saja yang menjumpai orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, bunuhlah pelaku maupun korbannya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
Keempat, perbuatan liwath merupakan perbuatan yang mengubah fitrah manusia. Allah Swt. berfirman,
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ


“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. al-A’raf [7]: 81)


Karena tidak sesuai dengan fitrah manusia, tentu saja hal ini akan menyebabkan kemudaratan bagi umat manusia.
Kelima, Ibnul Qayyim juga menyebut perbuatan liwath itu lebih buruk dari zina. Sebab, Allah menyebut zina sebagai faahisyah dalam bentuk nakirah. Sedangkan liwath disebut faahisyah dalam bentuk ma’rifah. Hal ini menunjukkan bahwa zina adalah bagian dari faahisyah. Sedangkan liwath adalah faahisyah itu sendiri.


Karena itulah, Rasulullah saw. menetapkan hukuman bagi pelaku serta korbannya adalah hukuman mati. Hukuman ini berlaku pada pelaku dan korban yang telah baligh, berakal, atas inisiatif sendiri, serta terbukti secara syar’i telah melakukannya. Jika pelakunya adalah anak kecil, orang gila, atau dipaksa dengan pemaksaan yang sangat, ia tidak dijatuhi hukuman. Hukuman ini memang terkesan kejam dan tidak berperikemanusiaan. Namun, hal ini akan membuat jera serta mencegah orang lain dari melakukan perbuatan yang sama. Dengan demikian, umat manusia akan terselamatkan dari bahaya yang besar. Sebaliknya, pelaksanaan hukuman ini akan membawa kemaslahatan bagi umat manusia.


Sayangnya, hal ini tidak mungkin dilaksanakan dalam sistem demokrasi sekuler yang saat ini diterapkan di semua negara. Sistem ini justru memberikan kebebasan kepada para pelakunya. Sebab, kebebasan berperilaku merupakan salah satu kebebasan yang diagungkan dalam sistem ini.
Karena itu, sudah saatnya kita terapkan kembali sistem yang telah dipersiapkan oleh Allah, Sang Pencipta manusia. Sistem yang telah mampu menyebarkan rahmat ke seluruh alam. Itulah sistem Islam. Sistem yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. serta para penggantinya. Yakni, sistem khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.

Wallaahua’lam bishshawaab.

About Post Author