30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Oleh: Ummu Muhammad
Member Amk & Praktisi Pendidik Generasi

Ku turuti…
Aku mati emak
Tak dituruti…
Aku mati bapak
Begitulah…
Nasib diriku
Bagaikan buah… Simalakama

Begitulah nasib diriku
Yang kini sedang menimpa
Menimpa badanku
(Simalakama, Rama Aipama)

Bernostalgia dengan lagu hits tahun 90-an , mengingatkanku akan kondisi pesta demokrasi sistem negeri tercinta ini.

Sebentar lagi pesta pilkada akan digelar, meskipun kondisi pandemi belum berakhir. Namun syahwat berkuasa lebih besar ketimbang keseriusan menangani pandemi. Bahkan bisa jadi momen pandemi adalah kesempatan emas untuk bertahan di tampuk kekuasaan.

Memang benar, pesta demokrasi dilakukan setiap periodenya adalah pemborosan anggaran dimana ujung-ujungnya yang curang meraih kemenangan.

Masa pandemi seharusnya fokus bagi penguasa negeri ini untuk segera mengatasi segala polemik. Namun, faktanya justru rakyat dibiarkan menyelesaikan permasalahan hidup sendiri-sendiri. Bagi rakyat tak ada lagi tempat mengadu atas masalah yang dihadapi.

Keterpurukan ekonomi hingga polemik negeri yang terus berkepanjangan tak sedikit pun bagi penguasa negeri ini tersadar akan tanggung jawab pengayom rakyat.

Kebingungan yang dialami masyarakat di tengah pandemi yang belum berakhir harus dikagetkan dengan Pilkada
Pemerintah menyepakati pilkada serentak akan digelar 9 Desember 2020. Meskipun corona masih ada maka pelaksanaanya akan diberlakukan protokol kesehatan. ( wartakotalive.com, 28/05/2020).

Seolah tak ingin lepas kekuasaan yang kini di jabat di tengah rakyat yang kian sekarat.

Inilah kondisi negara bersistem kapitalis, tak mampu memberikan solusi malah menambah polusi. Kesehatan negara bukan semata-mata karena individu yang kotor dan rusak, tapi sistem yang mendukung sifat buruk manusialah penyebabnya.

Lamanya masa periode bertahan pada kekuasaan pun tak menjamin kemampuan dalam mengatasi setiap masalah yang muncul. Jika sistem yang berjalan hanya memunculkan aturan-aturan cacat hasil produk manusia rakus kekuasaan. Sebab sejatinya aturan mampu menundukkan nafsu manusia yang banyak angan. Jika tak mampu maka ada yang salah dengan aturan tersebut.

Sebagai manusia yang diberikan akal oleh pencipta, seharusnya sadar bahwa diri merasa lemah, tak mampu menentukan masa depan, dan tak mampu melihat yang tidak kasat mata. Hingga merasa diri membutuhkan sesuatu yang lebih besar darinya, yang mampu menutupi kekurangan dan kelemahannya, bukan sebaliknya berlaku sombong hingga berani menantang yang tak sebanding dengan dirinya.

Rasa dilema ini harusnya tidak terjadi jika kita bisa tepat memilih yang dibutuhkan akal dan fitrah. Akal yang sehat akan mampu mengendalikan fitrah dan mengarahkannya pada kondisi pribadi yang mulia. Hanya dengan Islam kondisi manusia mampu mencapai derajat yang tinggi. Karena ia bukan sekedar agama yang mengatur kehidupan dirinya dengan Tuhannya semata, tetapi ia juga mengatur hubungannya dengan dirinya dan hubungannya dengan sesama.

Sedangkan ranah politik adalah salah satu contoh hubungan antar sesama dalam memimpin dan mengatur kehidupan bersama, agar kehidupan berjalan serasi dan seimbang. Tidak satupun Islam luput membahas aspek kehidupan bahkan terkait tata cara pemilihan pemimpin, karena masalah demokrasi itu bukan membahas cara memilih pemimpin, sebagaimana yang dipahami masyarakat awam.

Bukan! Tapi ia membahas kekuasaan itu diwakili oleh individu-individu masyarakat yang mereka semua berkumpul merumuskan aturan kehidupan manusia yang mengikat. Penjajah berhasil mengaburkan tujuan sebenarnya.

Islam datang menjelaskan dan menjernihkannya. Bahwa aturan dan hukum itu milik Allah. Manusia hanya bisa menjadi wakil untuk menerapkan hukumNya, seruan yang wajib harus diambil dan diterapkan, sedangkan seruan yang mubah boleh diambil untuk kemaslahatan urusan rakyat, dan

Bagaimana jika ditengah penerapannya terdapat perselisihan? Maka penguasa berhak mengambil satu pendapat islami untuk meredakannya. Begitulah sistem Islam berjalan, semua warga negara tunduk dan patuh bukan sekadar pada penguasa tapi pada pencipta langit dan bumi.

Rakyat yang beriman yang takut akan murka Tuhannya pasti akan memilih pemimpinnya yang sama takutnya dengan dirinya, yaitu dengan membuktikan ia mampu bersumpah dan berjanji setia menerapkan aturan Pencipta sampai mati.

Sehingga periode jabatannya adalah masa hidupnya yang bergantung pada syariat. Jika dia menyimpang dan bermaksiat kepada Allah Sang Pencipta apalagi sampai mengubah aturan Allah maka dia akan diadukan kepada qadhi madzalim untuk ditegur atau bahkan diberhentikan.

Bagaimana cara memilihnya? Ini hanya wasilah saja yang sifatnya boleh dengan cara apapun baik secara aklamasi atau dengan pemilihan, asal memenuhi syarat-syarat seorang pemimpin yaitu Islam, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, mampu, dan tidak lemah. Dia harus seorang laki-laki yang muslim dewasa yang akalnya waras bisa digunakan untuk berfikir, tidak terikat pada orang, organisasi, partai, bahkan negara lain. Dia juga memiliki jiwa kepemimpinan yang tegas bukan kasar.

Sedangkan pemimpin daerah dia hanya ditunjuk oleh pemimpin pusat untuk memimpin satu daerah tertentu dengan menerapkan aturan yang sama yaitu aturan Allah. Jika melanggar akan sama ditegur dan diberhentikan pemimpin pusat.

Serderhana bukan? Islam menawarkan solusi kemudahan dan menghindari pemborosan. Namun manusia lebih suka menyulitkan dirinya sendiri demi meraup tetesan dunia. Islam menghilangkan dilema karena prioritas utama adalah syariat Allah yang pasti akan mengantarkan kemaslahatan.

Karena syariat Allah mampu melepaskan keserakahan angan dunia manusia menuju pengharapan keabadian surgawi.

Wallahu a’lamu bi shawab.

About Post Author