06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Benarkah, Positif Covid-19 Meningkat Karena Tes?

Oleh: Widhy Lutfiah Marha
Pendidik Generasi

Sudah menjadi suatu kewajaran ketika penguasa (pemerintah) melakukan tes Covid 19 secara masal? Memang adanya tes yang masif akan menambah jumlah positif covid-19, dalam arti semakin banyak orang yang diketahui bahwa mereka positif covid-19.

Akan tetapi, tes bukanlah penyebab pasti meningkatnya kasus positif covid-19, karena fakta menunjukkan kasus semakin naik justru ketika wacana new normal life mulai diberlakukan yakni sejak awal Juni 2020 kemarin. Meskipun hal ini dianggap bagian dari konsekuensi pelacakan terhadap pasien positif yang sangat cepat sehingga data pasien positif semakin banyak yang terdeteksi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan, masih tingginya kasus baru Covid-19 karena pelacakan yang dilakukan agresif (kompas.com/20/06/20).

Namun, sebenarnya telah terlihat jelas bahwa penambahan hingga 1000 kasus perhari justru terjadi ketika wacana new normal life mulai di laksanakan. Fakta ini menunjukkan Indonesia belum memenuhi syarat new normal life yang mengacu pada persyaratan WHO, yakni pemerintah harus bisa membuktikan bahwa transmisi virus corona sudah dikendalikan. Namun fakta bicara bahwa semakin kesini kurva belum melandai bahkan cenderung naik perharinya.

Ditambah rumah sakit atau sistem kesehatan yang tersedia untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak, dan mengkarantina pasien Covid-19 sangat minim. Padahal rumah sakit harus melayani pemeriksaan swab dari pasien, akhirnya terjadilah antrian yang panjang untuk mendapatkan hasilnya. Belum lagi kasus banyaknya rumah sakit yang kemudian harus menutup IGD atau bahkan pelayanan umum lantaran pasien positif corona kian membludak.

Selain itu resiko penularan wabah sudah tidak terkendali terutama di tempat-tempat dengan kerentanan tinggi. Akan tetapi langkah pencegahan di lingkungan kerja, seperti menjaga jarak, cuci tangan dan etika saat batuk masih justru dilanggar masyarakat. Pada saat PSBB saja masih banyak yang melanggar, padahal penjagaan saat itu masih ketat, dimana tidak semua layanan dan fasilitas dibuka, jalur perjalananpun aksesnya sangat minim dengan tidak beroperasinya sebagian besar transportasi umum dan larangan mudik diberlakukan, bahkan di setiap perbatasan kabupaten dijaga aparat negara baik polisi ataupun satpol PP.

Apalagi ketika new normal diberlakukan, dimana akses kehidupan di semua lini sudah dibuka, meski tetap menggunakan protokol kesehatan. Dan sedikitnya masyarakat yang memahami new normal life adalah bagian dari upaya berdamai dengan corona namun tetap jaga jarak, pakai masker dan menghindari kerumunan. Jadi bukan suatu hal yang aneh jika kasus melonjak drastis karena kebijakan new normal ini. Karena buktinya sejak diberlakukannya new normal life ini tidak memutus penyebaran virus akan tetapi justru meningkatkan jumlah kasus dua kali lipat lebih.

Dan karena new normal life ini juga masyarakat justru tanpa disadari mengganggap bahwa virus ini tidak berbahaya lagi atau sudah berkurang sehingga mereka tidak perlu waspada penuh terhadapnya.

Bahkan sebagian besar masyarakat tidak menggunakan masker dengan benar. Jika mereka memakai masker, hanya untuk menghindari denda semata, sehingga ketika tidak ada penjagaan mereka dengan enteng meletakan masker dibawah hidung atau di leher saja, fakta lain menunjukkan kerumunan mudah terjadi dimana-mana, seperti yang diberitakan di salah satu stasiun kereta api jumlah penumpangnya membludak hingga ribuan orang.

Dari paparan di atas jelas menunjukkan bahwa penambahan pasien positif tidak bisa dikendalikan dengan peningkatan kapasitas pemeriksaan. Karena memang kasus Covid-19 ini masih relatif tinggi di Indonesia. Untuk wilayah Jatim, Kalsel dan Sulsel yang menduduki angka teratas dalam hal penambahan, ada perbedaan kondisi yang terjadi dilapangan, untuk Jatim penambahan kasus terjadi dikarenakan kapasitas pemeriksaan yang meningkat. Proses tracing juga tinggi, maka didapatkan banyak kasus positif. Artinya, memang di sana kasusnya relatif tinggi.

Sementara untuk Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan, tingginya kasus harian bukan karena kapasitas pemeriksaan yang tinggi, tetapi murni kasusnya yang relatif tinggi.

Dari sini terlihat bahwa penambahan positif Covid-19 bukan semata karena aktifnya tracing yang dilakukan pemerintah saja, melainkan karena memang kasusnya masih relatif tinggi, sehingga seharusnya pemerintah tidak gegabah untuk memberlakukan new normal life. Agar kasus tidak membludak dan cepat teratasi.

Namun, aturan tetap diberlakukan dengan sangat memaksa. Bahkan para ahli dan beberapa kalangan yang sudah mewanti-wanti bahwa Indonesia belum siap untuk melakukan new normal life tidak didengar pemerintah.

Begitu juga dengan prediksi akan ada gelombang kedua wabah jika new normal diberlakukan, tidak menjadi pertimbangan dan kewaspadaan pemerintah justru, karena alasan agar ekonomi bangkit kembali, penguasa negeri ini tetap bersikukuh untuk memberlakukan kebijakan new normal life.

Memang, pandemi ini menimbulkan dampak yang luar biasa. Termasuk lumpuhnya perekonomian. Dan itu tidak hanya menimpa Indonesia, negara-negara di dunia juga merasakan dampak yang diakibatkan wabah yang asalnya dari China ini.

Kini semakin tampak bahwa penguasa negeri mayoritas muslim ini tidak menjadikan keselamatan rakyat sebagai prioritas dalam penanganan wabah. Justru rakyat dikorbankan karena alasan membangkitkan ekonomi. Padahal jika kasus semakin bertambah, artinya rakyat sebagai pelaku perputaran ekonomi juga banyak yang terkena virus, maka juga akan memperpuruk ekonomi (kembali).

Penguasa memang lebih mementingkan para pengusaha besar yang menginginkan untuk kembali memutar roda ekonomi demi menambah pundi-pundi mereka.

Islam Solusi Tuntas Wabah

Telah diketahui bahwa Islam bukan hanya sebagai agama ritual akan tetapi juga sebagai aturan kehidupan. Artinya segala masalah yang terjadi didalam kehidupan tentu Islam mempunyai solusinya termasuk masalah wabah.

Wabah dalam hal ini penyakit yang menular dengan cepat, bukan hanya terjadi diera saat ini, tetapi jauh sebelumnya sudah pernah terjadi di negeri-negeri kaum muslimin. Bahkan pernah juga terjadi dimasa Rasulullah yang disebut sebagai wabah tha’un. Rasulullah kemudian berasabda yang artinya :

“Jika kalian mendengar adanya tha’un di suatu daerah, makajangan memasuki daerah tersebut, dan ketika kalian berada di dalamnya (daerah yang terkena tha’un), maka jangan keluar dari daerah tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nampak jelas pada hadis tersebut bahwa ketika ada wabah disuatu tempat atau negeri maka jangan sekali-sekali memasukinya, sebab kita akan tertular wabah tersebut, begitu juga ketika wabah terjadi ditempat atau negeri kita, maka tidak boleh keluar dari negeri kita, karena akan menyebarkan wabah yang sedang terjadi.

Dalam hal ini pemerintahan Islam atau khilafah akan melakukan lock down wilayah-wilayah yang terkena wabah, sehingga wabah tidak menyebar keluar. Tidak hanya melakukan lockdown, khalifah selaku kepala negara juga memisahkan antara yang sakit dan yang sehat, sehingga tidak terlular wabah. Sedangkan orang yang sakit akibat wabah tentu diberi pengobatan sampai sembuh. Saat diberlakukan lock down pemerintah akan menjamin seluruh kebutuhan dasar rakyat terutama terkait obat-obatan.

Para tim medis dan ilmuan dibidang kesehatan pun akan terus menerus didukung melakukan penelitian untuk mendapatkan vaksin atau obat penyembuh bagi orang-orang yang terkena wabah.

Demikianlah cara Islam mengatasi wabah. Maka, sudah saatnya kita mengambil sistem Islam sebagai aturan dalam menyelesaikan wabah dan juga segudang masalah yang menimpa umat.

Wallahu a’lam biashshawab.

About Post Author