25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Demonstrasi 1607, Rasa Ambyaarr ..!?

Kamis, 16 Juli 2020 Jam 17.00 WIB sore hari, saudara YAYAN 2M aktivis seniman Jalanan ForJIS yang bermukim di Guntur 49, Pencipta Lagu Revolusi. Pulang ke kantor Gondangdia terlihat kelelahan dengan wajah bersungut kecewa, menyandang Gitar electricnya hasil pemberian sdr. Liues Sungkarisma.

Saya nyeletuk bertanya kepadanya. “Ada apa kawan, kok pulang Demo nggak happy?” Sambil benak saya menerawang ke masa silam 20 tahun bersamanya dkk sejak Reformasi menjadi demonstran, berharap, mengawal reformasi berjalan lurus.

Yayan menyahuti dengan nada masih kesel, “Ustad” (sebutan yg selalu dilekatkan kpdKu), “Kecewa saya, demo ribuan orang isinya hanya orasi dan selfi2 di depan Gedung DPR, ambyar ustad.” Celutuknya dengan nada serius.

Saya bisa memahami kekesalannya, gaya dia menjadi demonstran yg progressif militan/revolusioner, sangat berbeda dengan harapannya pada demonstrasi akhir akhir ini.

Dulu sejak era Gus Dur, Megawati sampai dengan SBY demo atau unjuk rasa dengan jumlah sebanyak demo hr itu, bahkan lebih sedikit, baik dengan Mahasiswa, Buruh, dan Akrivis2 elemen oposisi, itu pintu DPR dipastikan akan Jebol dan tuntutan menjadi terasa afdol karena ruang para anggota2 wakil Rakyat di Senayan BERGETAR Kencang, dan suara tuntutan rakyat menjadi tidak main main sandiwara seperti opera sabun.

Jadi, dari kecamata saya bisa mengerti jika saudara Yayan uring2an tak puas dengan setiap demonstrasi akhir akhir ini.

Saya mencoba menyenangkannya saja dengan berbagai argumentasi, “terakhir aku bilang. “Sudahlah Yan, trend demo hari ini seperti itu.”

Sambil pikiranku menerawang kewaktu proses PilPres. Ada sekian Ulama, aktivis, Jenderal purnawirawan yang masuk buih, ada HRS dan Muhtar Natsir masih bermukim di Negara lain, bahkan ada sekian anak bangsa yang mati untuk sebuah harga diri agar negeri yang dicintainya menjadi lebih baik.

Saya akhirnya berandai, seandai saja saat demonstrasi 7 jt orang tersebut yang di Monas jebol Istana dan DPR, mungkin cerita jadi lain.

“Sudahlah besok ada Demo lagi Yan ikut lagi, berharap saja demo itu seperti yang kau inginkan.” kataku kepadanya.

Saat tulisan ini menjelang rampung, saya dikirimi Video teman saya sdr. Mayor Purn Mohammad Saleh Karaeng Sila (Ketua PETA = Pembela Tanah Air) saat di terima dengar pendapat dengan para anggota DPR hari itu, oleh Mariska Lubis. Saya bangga dan merasa senang melihat dan mendengar statmentnya: “Saya kecewa dengan anda-anda sekalian sebagai wakil Rakyat. Kalian kalo mau dicoblos datang ke rakyat mengemis-ngemis minta suara rakyat, ketika rakyat mau ketemu, anda sekalian pasang polisi, membenturkan rakyat dengan polisi. Kalian harus keluar menemui mereka, Wakil Rakyat apa kalian ini !? Saya ini minta pensiun dini dari TNI karena saya sakit hati melihat rakyat saya terjajah oleh bangsa sendiri.”

Lanjutnya. “Kemaren Mahfud MD sebagai wakil pemerintah, telah mengumumkan menolak RUU HIP, jika kalian masih melanjutkan, berarti ada atau kalean ini Komunis !? Saya yakinkan Revolusi Rakyat akan Terbentuk!” Tegasnya sambil mengulang kalimat Revolusi Rakyat 3 kali.

Kemudian ada Video yg dikirim oleh sdr. Irfan di WAG FA PETISI (Forum Alumni Perguruan Tinggi Se Indonesia) mengomentari cuitan saya, mengenai demonstrasi kawan2 mahasiswa Makassar yg hari itu, seperti biasanya mereka selalu Crash dengan aparat. Juga ada Demo Mahasiswa di depan DPR saat waktu senja yang juga Crash dengan aparat mengikuti kawan2 Mahasiswa di Makassar. Bravo atas Militansi Mahasiswa Indonesia! Semoga saja Militansi mereka sebagai agen perubahan senantiasa terjaga.

selain itu informai terkait Isu pengawalan RUU HIP terupdate dalam pelaksanaannya juga terhitung gagal karena Pemerintah masih mampu mengubah nama RUU HIP menjadi PIP yang sejak awal tuntutan umat adalah menolak pembahasan RUU HIP/PIP, bahkan yang lebih memalukan dan sangat mengecewakan rakyat adalah aksi di Jakarta tanggal 16 Juli 2020 yang masih jam 3 sore sudah menarik massa aksi untuk membubarkan diri padahal tuntutan belum terpenuhi. Bahkan dikibuli oleh DPR RI karena Tuntutan RUU HIP yang harusnya didrop dari prolegnas malah di ganti menjadi RUU BPIP/PIP.

Aksi berjilid-jilid yang terus disajikan tanpa hasil (Onani Unras), membuat posisi tawar rakyat semakin dilemahkan karena dalam berbagai aksi dengan kampanye/iklan yang sangat bombastis dan diviralkan di medsos namun kenyataan dilapangan Aksi-aksi yang dilakukan jauh dari harapan umat Islam menjadi beban moral tersendiri bagi para nitizen.

Aksi rakyat yang sejatinya heroik tapi sayang harapan itu tidak pernah terwujudkan disaat Ghirah perjuangan rakyat dan adanya momentum-momentum persatuan rakyat yang seharusnya dapat dipergunakan dengan maksimal demi mewujudkan kemenangan umat Islam di Indonesia namun hal itu tidak dapat direalisasikan dengan berbagai macam dalih dan dalil oleh pemimpin-pemimpin aksi yang mengatasnamakan rakyat.

Menurutku video Ketua PETA dan Video Demo Mahasiswa sudah cukup mengangkat dan menggetarkan senayan, jika demo lainnya yang dikatakan Yayan 2M terasa AMBYAAARR…!!

Mungkin ada benernya komentar dari aktivis lawas UGM, Abidin Siata: “Demo sekarang sudah susah dibedain dengan doa atau zikir bersama, jadi yg di demo merasa tidak perlu menanggapi karena menganggap semua fine alias good good saja.

GondangDia, 15/7/2020
Muhammad Nur Lapong
Direktur LBH ForJis/Pendiri PPMI

About Post Author