27/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Moderasi, Upaya Mengkerdilkan Ajaran Islam ?

Oleh : Rina Tresna Sari, S.Pd.I
Praktisi Pesndidikan dan Member AMK

Pandemi rupanya tidak menjadi penghalang dalam upaya memperkuat implementasi moderasi beragama. Hal ini terbukti dengan masuknya upaya moderasi beragaman ini dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Kementrian Agama telah menjabarkan moderasi beragama dalam rencana strategis (renstra) pembangunan bidang keagamaan lima tahun mendatang.

Dikutip dari okezone.com (3/7), menurut Menag moderasi beragama diimplementasikan dalam sejumlah program strategis, antara lain review 155 buku pendidikan agama, pendirian Rumah Moderasi di Perguruan Tinggi Kegamaan Islam Negeri (PTKIN), dan penguatan bimbingan perkawinan karena dalam perkawinan merupakan tempat transmisi nilai-nilai yang paling kuat. Materinya tidak hanya terkait konsep pernikahan dalam Islam, tapi juga membahas persoalan kesehatan dan moderasi beragama.

Pengarusan moderasi beragama juga terdapat dalam kurikulum baru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab yang baru. Kurikulum ini tercantum dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) 183 tahun 2019. Salah satu upayanya adalah meletakkan materi sejarah khilafah, jihad dan moderasi beragama secara korelatif dalam berbagai bentuk perjuangan muslim. Pembelajaran khilafah disajikan dalam sudut pandang sejarah yang menjelaskan karakteristik dan pola kepemimpinan Rasulullah Saw serta empat khalifah pertama, sedangkan materi jihad ditulis dalam perspektif membangun peradaban dengan menggali makna.

Moderasi Bergama sebagai mana diketahui muncul tatkala kata “radikal dan ekstrim” kian disematkan kepada kelompok penyeru Islam kaffah (keseluruhan) atau ide Islam politik sebagai ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Sehingga muncul cara pandang baru memandang agama yakni beragama secara moderat tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri.

Pemetaan Islam seperti ini amatlah berbahaya dan dapat menimbulkan paham sekuler atau memisahkan agama dari kehidupan. Mengingat, ajaran Islam adalah satu dan tak ada kopromi untuk mengambil yang satu dan meninggalkan yang lainnya. Paham sekulerisme menjadikan agama hanya dipandang sebagai pengatur ibadah ritual semata, sedangkan kehidupan bebas sesuai kehendak sendiri.

Hanya di sistem sekuler saat ini Islam terpecah dengan istilah Islam moderat vs radikal. Istilah semacam ini adalah buatan manusia yang harus kita sadari sedini mungkin bahayanya bagi kebangkitan peradaban Islam yang sesungguhnya. Lihat saja, atas nama moderasi ajaran khilafah diajarkan sebatas sejarah dan jihad ditulis sebatas makna saja dengan perspektif moderasi.

Akidah umat dapat terancam karena syariat yang seharusnya dipahami dan diterapkan sebagai satu-satunya hukum terbaik yang mengatur manusia malah direvisi sebagai hukum yang dapat diketahui maknanya saja.

Sungguh ironi, jika ada manusia yang berani merevisi ajaran dari Sang IlahiI. Karena sesungguhnya Islam adalah agama yang sempurna, diturunkan oleh Allah untuk menajadi penyempurna agama-agama sebelumnya. Oleh karena itu, Islam tak hanya mengatur ritual saja namun sampai kepada ranah politik riayatul su’unil ummah (mengurusi urusan umat).

Islam tidak mengenal istilah fanatisme, radikalisme, ektrimisme, dan yang lainnya. Karena Allah swt memerintahkan seluruh manusia untuk ber-Islam secara kaffah (total) dalam seluruh aspek. Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al-Baqarah : 208)

Dengan demikian, haram bagi manusia berani mengubah aturan Allah. Apalagi mengambil sebagian hukum dan meninggalkan yang lain sekehendak hawa nafsu.

Sebagaimana sholat, zakat dan yang lainnya khilafah adalah ajaran Islam, menegakkan kembali khilafah sebagai institusi yang mengatur pemerintahan merupakan sebuah kewajiban karena ini adalah perintah Allah SWT berdasarkan banyak dalil dari al-qur’an, as-sunnah dan ijma’ sahabat. Imam An-Nawawi, tegas menyatakan : “Mereka (para sahabat) telah bersepakat bahwa wajib atas kaum muslim mengangkat seorang Khalifah.” (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, XII/205).

Sementara jihad, maknanya adalah perang di jalan Allah. Allah SWT berfirman,
“.. dan berjihadlah dijalan Allah..” (TQS. Al-Baqarah : 218).

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Al-Syakhsiyyah Islamiyyah Jilid 2 menyebutkan pengertian Jihad secara syar’i adalah perang di jalan Allah. Untuk itu tidak cukup memahami jihad hanya sebatas makna, tapi ini adalah aktivitas yang diperintahkan sesuai hukum syariat.

Untuk itu sebagai hamba Allah yang serba lemah, kurang dan terbatas tak selayaknya menggurangi ajaran Islam yang sempurna. Sungguh ini adalah sebuah kehinaan yang malah dapat mendatangkan murka Allah swt. Na’udzubillahimin dzalik.

Wallahu a’lam bishowab.

About Post Author