28/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Perjodohan Vokasi dengan Industri yang Memiskinkan Visi


Oleh: RAI Adiatmadja
(Founder Komunitas Menulis Buku Antologi)

“Pendidikan itu sendiri adalah penangguhan, penundaan: kita dinasihati agar bekerja keras supaya mendapatkan nilai yang bagus. Kenapa? Supaya kita bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus. Apa itu pekerjaan yang bagus? Pekerjaan yang gajinya tinggi. Oh, itu saja? Semua penderitaan ini, hanya agar kita mendapatkan banyak uang, yang bahkan jika kita berhasil mendapatkannya pun tidak akan menyelesaikan masalah kita, bukan? Ini adalah ide sempit yang tragis tentang untuk apa hidup ini sesungguhnya.” (Tom Hodgkinson)
Pembukaan di atas adalah sebuah nuansa paradoks terkait konsep pendidikan di dalam sistem kapitalis. Tujuan pendidikan sudah semakin teralihkan dan hanya berorientasi pada dunia kerja semata.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendorong upaya membangun ‘perjodohan’ atau kerja sama antar perguruan tinggi atau kampus dengan industri. Tujuan dari strategi ini dinilai sangat penting agar keduanya bisa terkoneksi saling menguatkan satu sama lain. Orientasinya dari perjodohan ini adalah membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang siaga memenuhi kebutuhan labor market (pasar kerja) dan siap menyongsong era industri 4.0.
“Kata Nadiem, pemerintah memiliki sejumlah peran yakni sebagai pendukung, regulator, dan katalis. Meski demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak kampus dan industri untuk saling bermitra lewat regulasi, melainkan dengan berbagai macam insentif untuk berinvestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian.
Tujuan utama dari gerakan ini agar program studi vokasi di perguruan tinggi vokasi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja, mohon bersiap menyambut kami,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kemendikbud, Wikan Sakarinto dalam telekonferensi di Jakarta, Rabu.
Bahkan Wikan pun mengaku sangat optimis bahwa program “Pernikahan Massal” ini akan menguntungkan banyak pihak. Ia pun menambahkan penjelasan bahwa sekitar 100 prodi vokasi di PTN dan PTS ditargetkan melakukan strategi ini pada tahun 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri.
Indonesia adalah salah satu negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Akan tetapi sayangnya pendidikan basis Kapitalisme yang diadopsi negeri tercinta ini melahirkan paradigma pendidikan yang kian bergeser dari arti yang hakiki. Bisa dipastikan saat satu negara tidak lagi punya kendali terhadap arah penelitian dan sistem pendidikannya, maka negara akan kehilangan kontrol terhadap SDM-nya sendiri.
Ketika negara tak punya industri nasional yang mandiri, apalagi ketika pendidikan sudah ditetapkan sebagai bidang usaha terbuka dari modal asing–sudah bisa dipastikan kooptasi Sumber Daya Manusia oleh asing–membuka peluang besar mengubah arah pemikiran dan hati generasi muslim semakin sekuler.
Ideologi sekuler yang diusung oleh mereka telah membuka kamuflase yang seakan-akan memberi kesegaran berupa kemajuan dan kesejahteraan, hakikatnya adalah penjajahan besar-besaran di dalam dunia pendidikan. Generasi hanya diarahkan dan dicetak menjadi mesin industri dan alat peras untuk menghasilkan uang. Tidak lagi bertujuan membentuk SDM yang berkualitas dari aspek karakter dan kemanfaatannya untuk umat.
Di dalam sistem Islam, pendidikan bukan hanya bertujuan mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk pribadi mulia, setiap aktivitas pendidikan akan memberikan spirit sebagai bentuk ibadah.
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) atau orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (TQS. az-Zumar: 9)
Setiap generasi akan terdidik menjadi jiwa yang mandiri, piawai, dan sebagai agen pembangun peradaban, cerdas dalam bidang teknologi, jiwa yang sarat dengan inovasi, punya prinsip Islam yang kokoh, sehingga tidak mudah terobang-ambing dan berubah haluan terseret arus sekuler para pengagung Kapitalisme.
Sistem yang bobrok hari ini telah menciptakan pribadi negara nihil political will, yang hanya mampu menjadi pelayan para kapitalis di negeri sendiri.
Keutamaan ilmu pengetahuan dalam Islam tidak mengarahkan generasi pada kondisi yang hanya siap kerja, tetapi kepribadian yang menciptakan kecerdasan dalam menyeimbangkan antara urusan dunia dan akhirat.
“Dan keutamaan orang yang berilmu atas orang yang beriman adalah seperti keunggulan bulan atas seluruh benda langit. Sungguh para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak meninggalkan dinar dan dirham. Satu-satunya warisan para ulama adalah pengetahuan, sehingga siapa pun yang mengambil hal itu, maka sungguh dia telah mengambil bagian yang paling cerdas.” (HR. Qais bin Katsir)
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang harus dijamin ketersediaannya oleh negara. Bahkan negara wajib memberikan pendidikan yang gratis dan berkualitas bagi umat. Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Ihkam menjelaskan bahwa kepala negara (khalifah) berkewajiban untuk memenuhi sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik umat.
Keindahan dunia pendidikan yang seimbang dan proporsional mempelajari serta menerapkan antara urusan dunia dan akhirat, hanya akan terjadi dengan tegaknya sistem Islam (Khilafah), satu-satunya sistem yang mampu mengentaskan segala problematika kehidupan termasuk mengubah arah haluan pendidikan hari ini yang miskin visi dan mematikan kecerdasan generasi dari hakikat hidup yang murni.
Wallahu a’alam bishshawab.

About Post Author