26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Sistem Imamah Kontroversial dengan Konsep Musyawarah, dalam Perspektif Logika Al Qur’an

Indonesia adalah negara yang memiliki berbagai macam suku, agama, ras, adat-istiadat, dan budaya yang majemuk. Penduduk Indonesia yang beragam mempunyai perbedaan antar wilayah. Hubungan hidup antar sesama manusia sering terjadi perbedaan ide dan pendapat. Perbedaan tersebut seharusnya bukan menjadi hambatan yang dipertentangkan, melainkan agar dapat bekerjasama dan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Keragaman dan perbedaan akan menjadi permersatu bangsa, yakni hukum yang mengikat serta memaksa. Adanya hukum, rakyat Indonesia akan memiliki kesamaan didalamnya.

Sejauh ini negara Indonesia masih konsisten berpedoman pada UUD 1945 yang mencerminkan kaidah pokok hidup berbangsa dan bernegara. Secara umum segala peraturan yang berlaku di Indonesia berdasarkan pada UUD 1945 termasuk penyelesaian masalah dengan musyawarah untuk mufakat. Setiap warga negara perlu memahami bahwa musyawarah mufakat dapat memperkuat tali silaturahim dan memperkokoh pondasi NKRI, Indonesia Negara yang berdasarkan atas dasar Ketuhanan yang Esa yang di atur dalam Pasal 29 ayat 1 UUD 1945.

Musyawarah Mufakat berfungsi untuk menghindari kecurangan-kecurangan dalam pengambilan keputusan apapun dalam kehidupan umat manusia apalagi yang terkait permasalahan rakyat, Agama, bangsa dan Negara, karena Allah sangat membenci dan tidak mentolerir orang – orang yang melakukan kecurangan dalam hal apapun bahkan Allah Subahanahu Wa Ta’ala membuat surah khusus untuk mengingatkan dan memperingati orang-orang yang melakukan kecurangan dalam kehidupan umat manusia di muka bumi yaitu :

QS.83 Al Mutaffifin ayat : 1. Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang) !

Dalam perspektif logika quran diatas bahwa kalimat menakar dan menimbang jangan hanya dipersepsikan sebagai bentuk kegiatan perdagangan semata tapi juga diperluas sebagai bentuk pencermatan dan pertimbangan dalam mengambil keputusan yang objektif, sistematis dan toleran (OST) agar mendapatkan keputusan yang Jujur, Benar dan Adil (JUBEDIL), karena Kecurangan tidak akan mungkin mendapatkan sebuah keputusan yang jujur, benar dan adil bagi semua pihak, karena dipastikan kecurangan akan bersifat subjektif dan tidak sistematis.

Maka dari itu untuk meminimalisir kecurangan-kecurangan tersebut Allah Subahnahu watala menyuruh kita untuk bermusyawarah yang dijelaskan dalam Alquran dalam QS. Ali Imron ayat 159 : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Musyawarah Mufakat merupakan salah satu contoh kerja sama yang ada di dalam masyarakat, organisasi, beragama, berbangsa dan bernegara. Merupakan salah satu ajaran Islam dan yang bertujuan untuk Mengembangkan kehidupan yang demokratis dan menjaga kebebasan menyampaikan pendapat bagi setiap umat manusia. Menciptakan situasi yang kondusif sekaligus dapat melestarikan dan menjaga Budaya masyarakat Indonesia.

Hal ini dipertegas dalam QS.4. Annisa ayat 59 : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

hasil keputusan Musyawarah Mufakat adalah sebuah kesepakatan bersama yang kedudukannya diatas Undang – undang karena telah mengatur kesepakatan bersama antar para pihak. Sehingga dari uraian ayat di QS.4 Annisa Ayat 59 jelas bahwa hasil keputusan yang diambil melalui mekanisme Musyawarah tidak menyerahkan kepada Pemimpin atau Imam untuk menentukan pilihan dalam Hasil Musyawarah tersebut karena untuk apa mengundang para Musyawirin jika hasil kesepakatan Musyawarah tersebut harus ditentukan lagi oleh Pemimpin atau Imam..??

Bahkan dalam Uswahnya Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi sekaligus Pemimpin umat ikut bermusyawarah dalam mengambil keputusan, Junjungan kita Nabi Muhammad SAW tidak pernah mencontohkan melakukan Hak Veto hasil musyawarah mufakat para sahabat dalam memutuskan suatu perkara karena Hak veto itu adalah bentuk sikap otoriter dan egosentris dalam kepemimpinan.

Bagaimanapun, corak pemerintahan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam cenderung demokratis. Bila wahyu tidak turun tentang suatu persoalan, maka Rasulullah SAW mengadakan musyawarah dengan para sahabat. Malahan, tak jarang beliau mengambil pendapat mereka sehingga meninggalkan opininya sendiri.

Kecenderungan Nabi SAW dalam membuka dialog, alih-alih monolog, merupakan terobosan yang melampaui zamannya. Berkata Aisyah RA, “Saya belum pernah melihat seseorang yang lebih banyak bermusyawarah daripada Rasulullah SAW.”

Nabi SAW juga pernah bersabda, “Barangsiapa menghendaki mengerjakan sesuatu, lalu ia bermusyawarah dengan seorang Muslim, maka Allah akan memberikan taufik kepadanya untuk memilih yang paling baik baginya.”
Di sinilah pentingnya sikap saling menasihati dalam kebaikan antarsesama Mukmin. Sebaliknya, sikap khianat akan merusak persaudaraan dan menyesatkan nakhoda kepemimpinan.

Beliau berpesan, “Barangsiapa memberikan nasihat kepada temannya dengan suatu pendapat, padahal ia mengetahui bahwa yang benar bukan itu, maka ia telah khianat.”

Kisah musyawarah Nabi

Salah satu contoh musyawarah yang diadakan Nabi SAW terjadi menjelang Perang Badar. Inilah pertempuran pertama kaum Muslimin dalam menghadapi intimidasi kaum musyrik. Dalam perjalanan, Rasulullah SAW memerintahkan pasukannya untuk berhenti sejenak di dekat mata air sekitar Badar. Salah seorang dari para sahabat, yakni Hubab bin Mundzir, telah mengenal betul medan pertempuran ini. Dia sempat bertanya-tanya, mengapa Rasul SAW memutuskan untuk singgah sebenar di lokasi tersebut. Lantas, ia memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau.

“Wahai Rasulullah,” kata Hubab, “apakah lokasi ini memang dipilih berdasarkan wahyu yang tak bisa diubah, ataukah ini pendapatmu sebagai strategi perang?”

“Ini hanya pendapatku dan strategi perang,” jawab Nabi SAW.
“Bila demikian, wahai Rasulullah, sungguh lokasi ini bukanlah tempat yang tepat bagi kita. Bagaimana kalau kita mengambil tempat di mata air yang terdekat dengan musuh? Kita turun dari tempat itu, lalu kita gali sumur-sumur di belakangnya. Kolam-kolam kita penuhi dengan air dari oasis itu. Alhasil, ketika sedang bertempur, kita dapat mengambil air yang cukup, sedangkan musuh kehabisan air,” papar Hubab.

Rasulullah SAW menerima pendapat sahabatnya itu. Maka, beliau beserta pasukannya meneruskan berjalan hingga mata air yang terdekat dengan musuh. Selanjutnya, kaum Muslimin melaksanakan sebagaimana rencana Hubab bin Mundzir.

Usai Perang Badar, Nabi SAW pun menyelenggakan musyawarah dengan sahabat-sahabatnya. Kali ini, Muslimin memperoleh kemenangan. Bahkan, pasukan jihad ini dapat menawan sebanyak 70 orang lelaki musyrikin Quraisy. Nabi SAW meminta pendapat beberapa sahabatnya tentang nasib para tawanan itu.
“Wahai Rasulullah,” kata Abu Bakar, “mereka itu adalah putra paman-paman kita, kerabat kita, dan saudara kita. Mereka adalah kaummu dan keluargamu. Hendaknya mereka diwajibkan untuk membayar tebusan sehingga dengan tebusan itu kita dapat menambah kekuatan. Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah-Nya kepada mereka sehingga nantinya mereka dapat turut memperkuat kita.”

Setelah Abu Bakar mengutarakan pendapatnya, kini giliran Umar bin Khattab.

“Ya Rasulullah, mereka telah mendustakan dan mengusirmu dari kampung halaman. Mereka adalah gembong orang-orang kafir. Mereka keluar dari kota hanya untuk memerangimu. Menurut pendapatku, hukum mati saja mereka,” kata Umar dengan nada tegas.

Lalu, berkatalah Abdullah bin Rawahah. “Wahai Rasulullah,” katanya, “di dekat kita ada lembah yang banyak kayu. Kita dapat menyalakan api besar di sana, lalu melemparkan mereka ke dalamnya.”

Rasulullah SAW kemudian terdiam. Beliau tak menjawab, lalu masuk ke tendanya. Maka, Abu Bakar, Umar, dan Ibnu Rawahah saling bertanya-tanya. Pendapat manakah yang akan disetujui Nabi SAW?

Tak lama kemudian, Rasulullah SAW keluar dan berkata, “Sungguh, Allah Maha Besar melunakkan hati orang hingga lebih lunak daripada yang lunak. Sungguh, Allah Maha Kuasa mengeraskan hati orang hingga lebih keras daripada batu.”

Beliau lantas mengibaratkan sifat Abu Bakar seperti Nabi Isa AS, yang pernah berdoa, “Jika Engkau (Allah) menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana” (QS al-Maidah: 118).
Sifat Umar diibaratkannya dengan Nabi Nuh kala berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi” (QS Nuh: 26).

Adapun sifat Abdullah bin Rawahah disandingkan beliau dengan Nabi Musa saat bermunajat, “Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman sehingga mereka melihat siksaan yang pedih” (QS Yunus: 88).

Nabi SAW lantas lebih condong pada pendapat Abu Bakar. Maka, para tawanan itu bisa dibebaskan dengan jaminan. Keesokan harinya, ternyata turunlah firman Allah, surah al-Anfal ayat 67.

Artinya, “Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Itulah kisah Sikap junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang sangat menghormati hasil keputusan dari proses permusyawaratan perwakilan dapat dibuktikan dalam Proses Perang Uhud dan Kisah tentang sahabat nabi Abu Bakar dan Umar yang bersepakat dan melaporkannya hasil kesepakatan tersebut kepada Nabi yang kemudian menyetujui kesepakatan tersebut.

Dari uraian hal tersebut diatas jelas Dalam Ajaran Alqur’an Dan Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan konsep Imamah dalam pengambilan keputusan, justru Pemimpim/Imam sebelum mengambil keputusan ikut bermusyawarah dengan perwakilan-perwakilan umat sebagai musyawirin. Lain halnya dengan Ajaran Agama Syiah yang sangat menjunjung tinggi konsep Imamah/Imam (Imam/Ayatollah) dalam menjalankan propaganda ajaran Agama Syiah di seluruh dunia.

Salam OST JUBEDIL
Bogor, 21 Juli 2020
PROF. DR. H. EGGI SUDJANA MASTAL
KETUA DEWAN PENDIRI PPMI

Sebagian bersumber dari : https://republika.co.id/berita/q9gavq458/teladan-musyawarah-rasulullah-saw

About Post Author