25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Oleh: Widhy Lutfiah Marha
Pendidik Generasi

Umat muslim Bosnia menandai peringatan 25 tahun pembantaian Srebrenica pada Sabtu (11/7/2020) waktu setempat, di tengah pandemi virus corona Covid-19.

Meski jumlah peserta menurun dari tahun-tahun sebelumnya, tapi tak sedikit pelayat yang berani menentang aturan pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran Covid-19 demi menghadiri peringatan tersebut. Peringatan tahun ini sekaligus menjadi upacara penguburan sembilan korban yang diidentifikasi selama setahun terakhir.

Pada 11 Juli 1995, usai Srebrenica dikepung, dalam waktu kurang dari dua minggu, pasukan mereka secara sistematis membunuh lebih dari 8.000 Bosniaks (umat muslim Bosnia) – pembunuhan masal terburuk di tanah Eropa sejak akhir Perang Dunia Kedua.

Ratko Mladic, komandan unit Serbia Bosnia, mengatakan kepada warga sipil yang ketakutan untuk tidak takut ketika pasukannya memulai pembantaian. Mereka tidak berhenti selama 10 hari.

Pasukan penjaga perdamaian PBB yang memegang senjata ringan, yang ada di wilayah dinyatakan sebagai “daerah aman” PBB, tidak melakukan apa-apa ketika kekerasan berkobar di sekitar mereka.

Mantan Sekretaris Jenderal Kofi Annan kemudian menyatakan: “Tragedi Srebrenica akan selamanya menghantui sejarah PBB.”

Pembantaian itu adalah bagian dari genosida yang dilakukan terhadap umat muslim oleh pasukan Serbia Bosnia selama Perang Bosnia, salah satu dari beberapa konflik yang terjadi pada 1990-an ketika Yugoslavia bubar.
Pembantaian dilanjutkan hingga mereka mulai mengeluarkan Bosniaks dari wilayah itu untuk menciptakan “Serbia Raya” – kebijakan yang dikenal sebagai pembersihan etnis.

Miris, geram, dan marah melihat saudara-saudara kita yang tidak berdaya karena pembantaian tiada ampun, tetapi pemimpin-pemimpin negeri muslim hanya diam tidak berkutik. Mungkin ungkapan yang mengatakan diam adalah kejahatan terbesar sepertinya memang pas bila melihat kejahatan paling sadis abad ini.

Kasus yang terjadi di Bosnia ini mengingatkan kita pada kasus genosida di Myanmar, pembantaian Rohingya dan negeri-negeri muslim lainnya. Bahwa Tragedi Srebrenica dan perang Bosnia menjadi pelajaran penting bagi anak umat ini bahwa tanpa khilafah negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa muslim.

Tragedi ini juga menjadi bukti tidak adanya perlakuan adil PBB terhadap negara berpenduduk muslim, bahkan PBB menjadi alat melegitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim.

Belajar dari duka sejarah ini kita berdoa dan bersuara agar tidak akan terulang penderitaan yang sama kepada muslim Bosnia. Sudah cukup derita mereka. Tangis mereka sungguh benar-benar pedih. Apakah kita masih tetap diam ?

Padahal Rosulullah memerintahkan kaum muslimin bersatu, dan menjadi sebuah renungan bagi kita tentang pentingnya persatuan umat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong di antara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula dengan demam dan tidak bisa tidur”

Jadi jangan biarkan nasib muslim Bosnia seperti halnya yang pernah menimpa etnik Tatar di Krimea. Mengenangnya saja melahirkan luka. Jangan takut bersuara untuk mereka! Satu-satunya cara alternatif untuk mengakhiri penderitaan mereka adalah mengembalikan Islam tegak di atas bumi ini. Maka, mari bersatu padu untuk memperjuangkannya.

Wallahu a’lam bishshawab .

About Post Author