26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

ESM THEORY : OST-JUBEDIL Oleh : Prof. DR. H. Eggi Sudjana Mastal (Jilid 1)

ESM THEORY : OST-JUBEDIL
Oleh : Prof. DR. H. Eggi Sudjana Mastal, SH., M.Si

ESM THEORY ini berpijak pada Surat Al Alaq: 1-5 dan Sunah Rasulullah SAW:
1. iqra` bismi rabbikallażī khalaq: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
2. khalaqal-insāna min ‘alaq: Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. iqra` wa rabbukal-akram: Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia,
4. allażī ‘allama bil-qalam: Yang mengajar (manusia) dengan pena.
5. ‘allamal-insāna mā lam ya’lam: Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (Al-Quran Surah Az-Zumar: 42)

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. (QS.Al-Baqarah: 219)

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al-Quran Surah Ar-Ra’d: 4)

Kalau sekiranya kami turunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah di sebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Al-Quran Surah Al- Hashr:21)

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam- tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik- permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan- akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir. (Al-Quran Surah Yunus: 24)

Dan Dia telah menundukan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari padanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda tanda ( kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al-Quran Surah Al-Jathiyah: 13)

“untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir.” (Al-Quran Surah Ghafir: 54)

Sabda Rasulullah, “Sesungguhnya aku diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia”.

Penjelasan secara ilmiah bahwa Allah menurunkan Alqur’an di muka bumi untuk orang-orang yang mau berpikir/berakal/berilmu/beriman. Jika dipadukan dengan Sabda Rasulullah SAW, maknanya berarti bahwa umat manusia sebagai kalifah (wakil Allah) di muka bumi karena sempurnanya manusia yang dilengkapi oleh akal untuk berpikir dan hati (qolbu) mengimani ayat-ayat suci Alqur’an agar manusia dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Wahyu pertama “Iqra”, maknanya manusia harus berpikir agar manusia mampu membaca tanda-tanda kekuasaan Allah (ciptaan Allah, yaitu bumi dan langit beserta isinya) dan kejadian-kejadian dengan ijin Allah di muka bumi ini. Pengertian “Iqra” sangat luas dan mendalam karena bahasa wahyu Allah (bahasa langit). allażī ‘allama bil-qalam: Yang mengajar (manusia) dengan pena. “Pena” dimaknai sebagai kejadian-kejadian di dunia dengan ijin Allah.

Hadis qudsi dengan firman Allah, “Hai Muhammad! Kalau bukan karena engkau tidak Aku ciptakan bumi dan langit ini beserta isinya”.

Maknanya hadis qudsi tersebut di atas adalah bahwa bumi dan langit beserta isinya ini diciptakan Allah dari Nur Muhammad. Satu titik Nur Muhammad dipecah oleh Allah sehingga terbagi yaitu bumi dan langit beserta isinya.

Pendekatan ilmiah dalam kajian keilmuan adalah mutlak atau dengan kata lain mesti ditempuh, dalam konteks kehidupan dan peradaban manusia sebelum tahun Masehi (SM) atau sebelum tahun Hijriah (SH), orang-orang saat itu menggunakan pendekatan filsafat dan atau keyakinan dan kepercayaan semata mengikuti perjalanan hidup nenek moyangnya. Bahwa ciri-ciri yang dapat dikenali saat itu jika dilihat dan dianalisis pada kurun waktu sekarang tepatnya tanggal 20 Maret 2020 maka kurang lebih didapati ciricirinya sebagai berikut:

1. Melalui proses Empiris, Deduktif, dan/atau Induktif
2. Proses bertanya-tanya terhadap sesuatu atau Objek yang dibahas
3. Melalui Kepercayaan dan Keyakinan yang sifatnya turun temurun dari nenek moyangnya

Selanjutnya kita akan breakdown penjelasan ketiga point tersebut di atas yaitu:

Ad.1. Melalui proses Empiris Deduktif dalam pengertian dari yang bersifat umum menuju khusus, tergantung pokok bahasannya. Bila proses Empiris Induktif dari yang khusus ke kesimpulannya yang umum. Bahwa dalam sejarahnya, ciri-ciri tersebut terjadi pada masa Nabi Adam sampai dengan masuknya zamannya tahun masehi. Contoh empirisnya apa yang terjadi pada masa Nabi Adam sampai kepada Nabi Isa a.s

Ad.2. Proses bertanya-tanya diketahui melalui proses pendekatan filsafat, oleh para filosof ternama saat itu seperti Sokrates, Plato, Aristoteles dan kawan-kawan sebaya dan/atau setelahnya. Selanjutnya, ciri-ciri yang bisa dikenali ialah mereka bertanya secara kritis, misalnya : “mengapa terjadi sesuatu tersebut? Atau proses terjadinya objek tersebut.?” Juga bertanya sekaligus gugatannya sampai kepada pertanyaan: “adakah tuhan itu?” Atau bahkan menyatakan : “tuhan telah mati (God is dead)”

Ad.3. Proses kepercayaan dan keyakinan lebih ditentukan oleh perjalanan hidup nenek moyangnya masing-masing. Jadi sangat bervariasi, misalnya Suku Indian di AS, Aborigin di Australia, kaum bani di timur tengah, dan berbagai suku di Indonesia seperti Suku Aceh, Melayu, Sunda, Jawa, Bugis, Makassar, Dayak, Batak, Ambon, Bima dsb. Bahwa dari ketiga ciri-ciri umum tersebut ada perjalanan hidup yang luar biasa, bahkan Michael Heart menempatkan Nabi Muhammad Saw orang berpengaruh Nomor Satu (1) di dunia melalui riset selama 28 tahun dalam bukunya “100 tokoh paling berpengaruh di dunia”. Nabi Muhammad Saw menjalankan proses kehidupannya amat sangat mencerahkan dengan kondisi objektifnya adalah sebagai berikut:

1. Tidak ada pengaruh orang tua maupun sistem pendidikan pada masanya tersebut. Dengan kata lain, terjadi proses otodidak dalam perjalanan hidupnya.
2. Tidak ada pengaruh terhadap dirinya melalui lingkungan hidup, budaya, serta keadaan jahiliyah pada masanya tersebut.
3. Tidak adanya pengaruh global dunia internasional dengan segala sistem kehidupannya yang telah diterapkan pada masanya tersebut.

Bahwa nalar atau akal sehat kita yang beriman kepada Nabi Muhammad saw yang dimuliakan oleh ALLAH SUBHANAWATA’ALA mestilah sampai pada suatu kesimpulan betapa luar biasanya jatidiri Nabi Muhammad saw tersebut dan pantaslah secar logis beliau menjadi utusan ALLAH SUBHANAWATA’ALA, luar biasanya dan kepantasannya bahwa beliau menjadi utusan ALLAH dapat kita kenali dari perjalanan hidupnya itu, yaitu sebagai Al Quran yang berjalan (The Walking Qur’an). Hal tersebut, dapat ditunjukkan melalui isi kandungan Al Quran yaitu:

1. Sistem Penjelas Segala Sesuatu;
2. Sistem Pembeda Antara Haq dan Bathil
3. Sistem Petunjuk dan Pengobatan
4. Sistem Rahmatan Lil ‘Alaamin
5. Sistem contoh suri tauladan atau referensi kehidupan yang nyata dan riil tanpa utopia

Selain itu definisi dari Berpikir adalah kemampuan membedakan yang BEDA dan Menyamakan yang SAMA. Maka dari itu diperlukan melalui proses Belajar, Mengerti, Memahami, Meyakini atas dasar Keyakinan itulah kita mengambil tindakan atau langkah-langkah konkrit dalam penyelesaian setiap permasalahan.

Kita Belajar untuk Mengerti
Kita Mengerti untuk Memahami
Kita Memahami untuk Meyakini
Kita Meyakini untuk bertindak yang Jujur, benar dan Adil

Mengapa kita bertindak yang Jujur, benar dan Adil karena kita Meyakini
Mengapa kita Meyakini Karena kita Memahami
Mengapa kita Memahami karena kita Mengerti
Mengapa kita Mengerti karena kita Mempelajari

Inilah proses OST JUBEDIL yang didasari oleh perintah Allah yaitu Iqra.. Iqra.. Iqra…

QS.17 Al Isra – Ayat 36 : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.
Dalam melawan sifat dan perilaku serta perulangan sejarah zaman FIRHAQOS : FIR’aun, Haman, QOrun, Samiri perlu diciptakan kader-kader Islam Antitesa dari FIRHAQOS seperti Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib adalah Kader langsung yang didik oleh Nabi Muhammad SAW.

QS.5. Al Maidah ayat 54 : Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

QS.49 Al Hujurat ayat 7 : Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

QS.4. An Nisa ayat 9 : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

QS.71. Nuh ayat 28 : Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”.

QS.9. At Taubah ayat 84 : Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

QS.2. Al Baqarah ayat 125 : Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.

QS.5. AL Maidah ayat 116 – 117 : Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

Semoga kita semua menyadari keimanan yang tumbuh didalam hati kita ini kita jaga dengan Do’a dan Dzikir, jangan sekali-sekali kita beribadah karena kita merasa hebat atas dasar Keturunan, RAS, Suku atau Bangsa.

Siapa dan apa yang dimaksud bertaqwa menurut ajaran Islam dijelaskan dalam QS.2. AL Baqarah ayat 177 : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Penjelasan yang dimaksud ESM Theory adalah OST JUBEDIL yaitu akronim dari : O : Objektif ; S : Sistematis ; T : Toleran ; JU : Jujur ; BE : Benar ; DIL : Adil

Apabila disatukan menjadi Objektif, Sistematis, Toleran, Jujur, Benar, Adil. Kata-kata OST JUBEDIL itu sendiri semua orang sudah tahu dan paham maksudnya. Akan tetapi menjadi satu kesatuan yang dirangkum dalam satu kata untuk menjadi suatu teori dengan keperluannya menjelaskan logika quran, menurut hemat ESM adalah sesuatu yang relatif baru, perlu diingat Teori OST JUBEDIL tersebut bukanlah untuk menafsirkan Al Quran. Tapi untuk menyampaikan hubungan antara suatu ayat dengan ayat yang lain, selanjutnya diterangkan secara OST JUBEDIL sehingga nampak jelas alur logika Al Quran yang Agung tersebut. ESM Theory merupakan upaya untuk menjelaskan proses terciptanya kondisi Islam yang Rahmatan Lil’alamin dan bagaimana penerapannya pada setiap aspek kehidupan. Dengan kata lain, ESM Theory yang berbasis OST-JUBEDIL dapat digunakan untuk menjelaskan terhadap segala persoalan yang bersifat ilmiah secara sistematis. Penyimpangan atau tidak diberlakukannya ESM Theory ini, maka terjadi keadaan sebaliknya yaitu disfungsionalisasi terhadap ajaran Islam dan ataupun persoalan lainnya. Untuk memahami ESM Theory dengan lebih baik, dapat diperhatikan skema di bawah ini:

ESM Theory flow chart

bersambung ……………….

About Post Author