30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Penjelasan ESM Theory : OST JUBEDIL (Jilid 2)

PENJELASAN ESM THEORY:

1. Bahwa, ESM Theory Insya Allah berjalan atau berlaku atau tegaknya ajaran Islam dan ataupun persoalan lainnya dengan mekanisme penjelasannya melalui dua arah (Lihat Skema), yakni dengan pendekatan Quran bil Quran, artinya saling menjelaskan satu ayat dengan lainnya dari ayat-ayat Al Quran tersebut. Tentu pendekatannya melalui cara berpikir yang ilmiah, yaitu basis ESM Theory, OST-JUBEDIL (Objektif, Sistematis, Toleran – Jujur, Benar, Adil).

2. Bahwa, melalui cara berpikir ilmiah tersebut (dalam poin 1), maka melahirkan atau mendatangkan suatu keadaan berpikir yang dapat mengkondisikan atau dengan kata lain menciptakan Persepsi, Sadar dan Taat (P-S-T). Maksudnya, bangunan terhadap satu persepsi dalam persoalan yang dihadapinya atau ingin dijelaskannya, sangatlah menentukan untuk muncul/melahirkan/terkondisi keadaan yang sadar atau kesadaran yang ditentukan oleh persepsinya tersebut. Selanjutnya, dari proses kesadaran tadi, atau dengan adanya nilai sadar terhadap suatu nilai atau penjelasan yang didapat tadi, maka akan melahirkan atau terkondisinya suasana taat. Dengan kata lain, ketaatan atau ketundukpatuhan atau totalitas, menyerahkan sepenuhnya hanya kepada ALLAH SUBHANAHUWATA‟ALA.

3. Bahwa dengan kondisional yang objektif setelah adanya P-S-T tersebut, maka akan terkondisi atau tercipta suatu prilaku yang dapat dikatakan atau ditandai sebagai indikator dari orang-orang yang beriman, berislam, dan berihsan. Maksudnya, melalui P-S-T, maka keimanan seseorang baik dalam aspek pribadi maupun publik, dapat dipastikan keimanan yang sesuai dengan penjelasan dalam Al Quran. Dengan kondisi suasana beriman yang sesuai dengan ketentuan ALLAH SUBHANAHU WATA‟ALA, maka akan tegak ajaran/hukum Islam. Dengan berjalannya ajaran Islam, atau tegaknya hukum Islam maka dapat dipastikan tercipta kondisi Ihsan. dengan melihat Skema : ESM Theory Flow Chart lain, masyarakat Indonesia akan menjadi tatanan masyarakat yang baik karena memiliki akhlak yang mulia. Sehingga terwujud negeri yang Thayyibun wa rabbun ghafuur.

4. Bahwa dengan kondisional yang sistematis akan terkondisi toleransi yang tinggi untuk berlakunya suasana Ikhlas, Sabar dan Taqwa (I – S – T). sebagaimana yang telah dijelaskan dalam poin ke-3, antara lain ; dengan Iman, Islam, Ihsan (3I) mengkondisikan adanya Ikhlas, Sabar, Taqwa (IST), selanjutnya karena pendekatan dalam skema ini dapat berlaku dua arah, maka arah terbaliknya mulai dari IST, lahir kondisi 3I, kemudian menuju suatu keadaan P-S-T dan akhirnya kembali kepada OSTJUBEDIL. Kejelasan ESM Theory adalah alur cerita dua arah ini. Dengan pendekatan P-S-T secara OST-JUBEDIL, maka pribadi maupun publik yang mengaku tersebut memiliki kepribadian yang berintegritas, berkapasitas dan termasuk didalamnya memiliki Otoritas baik besar maupun kecil. Artinya tidak ada orang dengan Integritas dan Kapasitas yang tidak memiliki Otoritas (I – K – O). Oleh karena itu, kekuatan tegaknya ajaran islam bergantung kepada orang – orang yang memiliki Integritas, Kapasitas dan Otoritas (IKO) tersebut. Dengan kondisional itu, akan tercipta (atau terkondisi) suatu keadaan dengan istilah Islam Rahmatan lil „alamin yang dapat dikatakan berlakunya ESM Theory. Dengan melalui pendekatan ESM THEORY maka terkondisilah Islam Fungsional yang ditandai dengan ciri-ciri ; Merdeka, Berdaulat, Kuat, Berkuasa, Sejahtera, Bermanfaat dan Selamat untuk semua orang baik muslim maupun non muslim.

5. Bahwa, dengan kondisi yang telah dijelaskan dalam poin ke-4, yang juga sesuai dengan alur dua arah dari skema di atas, maka dapat dikatakan masyarakat Islam yang Rahmatan Lil Alamin bukanlah utopia atau angan-angan atau mimpi-mimpi atau khayalan yang tak berujung. Akan tetapi dengan Islam fungsional, dapat dipastikan terjadinya RAHMATAN LIL ALAMIN, kehidupan yang memberikan rahmat bagi semesta alam. Di sisi lain, dengan penjelasan dua arah itu akan mengkondisikan secara objektif disfungsionalisasi terhadap ajaran islam, sehingga kehidupan semesta alam tidak akan mendatangkan rahmat, berkah, dan kebahagiaan secara utuh di dunia dan akhirat.

6. Bahwa adapun tidak terjadinya Islam fungsional yang berakibat fatal yakni tidak adanya kehidupan yang memberikan rahmat, berkah, dan kebahagiaan tak terbatas yang bersifat dunia akhirat.

7. Bahwa dengan adanya kondisional objektif tidak terwujudnya Islam Rahmatan Lil Alaamin sehingga terjadi disfungsionalisasi ajaran Islam disebabkan dengan adanya orang-orang atau pribadi-pribadi atau golongan-golongan yang indikatornya jelas yakni ; orang-orang kafir/menentang ajaran islam/membenci ajaran Islam, orang orang yang munafik, orang-orang yang dzalim, orang-orang yang fasik, dan orang-orang yang murtad.

8. Bahwa, dengan adanya 5 jenis orang-orang tersebut dalam poin 7, bahkan mungkin lebih, maka dalam kondisi tersebutlah ajaran islam mengajarkan untuk terus berjuang dan atau berupaya optimal melalui pendekatan : Iman, Hijrah, dan Jihad (IHJ).

9. Bahwa dengan ajaran IHJ sangatlah terasa bagi orang-orang yang memiliki intelektualitas yang memadai untuk menyatakan telah terjadinya salah penjelasan (atau dipelintir) sehingga ajaran Islam terkesan mengajarkan radikalisme, ekstremisme dan intoleran sehingga dapat menumbuhkan terorisme, lebih parahnya lagi menyalahkan/melarang/membenci ajaran khilafah yang sebenarnya diajarkan oleh Allah Subhanahuwata‟ala di dalam Al Quran yang kemudian dipraktekkan oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabat juga tabi‟in dan tabi‟ut tabi‟in.

10. Bahwa sesungguhnya dengan terwujudnya Islam rahmatan lil‟alamin tersebut maka konsekuensi logisnya ialah dalam ajaran Islam tidak ada tempat atau tidak dikenal ajaran yang berupa radikalisme, ekstremisme, intoleran dan terorisme seperti yang disebutkan dalam poin 9. Oleh karena itu, proses bully-membully/fitnah yang menyudutkan ajaran Islam dan menempatkan orang-orang Islam yang justru berintegritas, berkapasitas dan berotoritas sesuai jati dirinya pada tuduhan radikal, ekstrim, intoleran dan teroris yang kesemua itu dilakukan secara brutal, namun Terstruktur, Sistematis dan Massif di seluruh dunia, antara lain seperti adanya ISIS dan juga pernah berkembang di Indonesia seperti Komando Jihad, bahkan pada kasus tertentu dituduh makar. Oleh karena itu, kembali pada teori OST-JUBEDIL, jangan terjadi kesalahan persepsi dan kesadaran yang berakhir pada kekeliruan pentaatan, sehingga terjadi peperangan antar saudara, bahkan saling membantai, bunuh membunuh, atau perpecahan dalam berbagai organisasi keislaman.

11. Bahwa, dengan Persepsi, Sadar dan Taat (PST) yang benar terhadap ajaran Islam yang RAHMATAN LIL ALAMIN melalui pendekatan tegaknya Islam Fungsional sebagaimana yang telah dijelaskan harus dimengerti atau dipahami oleh semua orang yang mengaku beriman, berislam dan berihsan serta berupaya untuk hijrah dan jihad bahkan yang telah memiliki integritas, kapasitas, dan otoritas sesuai jati diri masing – masing untuk bangkit dan terus berjuang dan berupaya tanpa lelah dan putus asa melalui pendekatan ESM Theory ini sebagai salah satu jalan untuk tegaknya ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Selanjutnya Nabi Muhammad SAW telah memberi contoh kepada kita dimulai dari beberapa Fase/Tahapan ;

a. Fase “Al-Amin” ; Membentuk lembaga untuk mempresentasikan dan mempesona serta membentuk kepercayaan kepada masyarakat.

b. Fase Goa Hira`; (turunnya wahyu) adalah melakukan pengkajian secara intensif terhadap kitab Allah sebagai konsepsi solusi masalah bangsa dan kemanusiaan.

c. Fase Al-Arqom ; pada tahap ini Rasulullah melakukan kajian/rattil yang proporsional terhadap Alkitab/konsep bersama para sahabat untuk mempersiapkan “calon pelaku” dari konsep tersebut, maka dari Arqom inilah lahir manusia-manusia super atau layak diberi gelar S3 (Sholeh Spiritual – Sholeh Intelektual – Sholeh Amal/Prilaku) yang kelak akan “memungkinkan mampu” menjadi pelaku dari konsep tersebut.

d. Fase pemboikotan di lembah Syi`ib ; Pada tahap inilah, di tanah pamannya yang bernama Abu Thalib – Rasulullah bersama para sahabat yang sudah S3 bersama 300 kk melakuan semacam “Kuliah Kerja Nyata” membangun sebuah desa percontohan yang sangat mempesona – sehingga menarik tokoh – tokoh Yaṡrip untuk “mengadopsinya” (Aqobah 1 dan 2).

e. Fase Hijrah ; merupakan tahap Nasionalisasi penataan menjadi Madinatul Munawwarah (fidunya khasanah).

f. Fase Hajji ; merupakan tahap “Internasionalisasi” Al-Qur`an menjadi satu sistem penataan hidup sejahtera lahir dan batin serta dunia dan akherat.

Berdasarkan cara kerja imiah tersebut maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah melakukan Up Grading ASI (Alqur’an – Sholat – Infaq) secara super intensif dalam satu tempat (rumah arqom) atau DKM – DKM di Masjid – Masjid atau dikalangan TNI/POLRI atau Pimpinan – pimpinan Partai Politik atau Organisasi – Organisasi atau Balai Latihan Kerja (BLK) sehingga menjadikan AL-QUR`AN SEBAGAI PERSEPSI, KESADARAN DAN PENTAATAN untuk IPOLEKSOSBUD yang bisa dimengerti dan menjadi karakter bagi semua elemen masyarakat dan atau orang-orang yang ingin membentuk lembaga sesuai dengan subtansi Fase/Tahap Al Amin – Goa Hira` dan Arqom menjadi satu lembaga secara simultan dan terus menerus tercipta kondisional Objektif terwujudnya Daerah yang religi atau daerah yang menerapkan nilai-nilai pancasila yang kemudian pada akhirnya menciptakan suatu kota metropolitan seperti Madinah Al Munawaroh yang kemudian pada akhirnya terkondisi suasana internasionalisasi melalui program pelaksaan Hajji. Seperti yang diperintahkan oleh ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA dalam QS.35. Fatir ayat 29 : “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”

Demi suksesnya pembangunan karakter manusia berqur`an ini ternyata tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri di rumah masing-masing yang masih dalam orbitasi serba najis mugholadzoh seperti ini, melainkan diperlukan pengorbanan anfus wa anwal untuk ber- al amin – bergoa hira` dan berarqom secara simultan di satu tempat.

Di dalam lembaga Arqom inilah dibagi tugas menjadi :
1. A`liiman dan Muta`alliman kedua divisi ini adalah divisi inti yang bertugas sebagai Ahli Al-Qur`an sehingga menjadi konsep Ipoleksosbudhankam dan membentuk “karakter” bagi calon pelaku dan menjadi karakter bangsa Indonesia tercinta ke depan.
2. Mustami’an sebagai pengurus.
3. Muhibban sebagai pendukung yang terdiri dari seluruh elemen masyarakat.

Bahwa secara OST JUBEDIL itulah pokok-pokok pikiran tentang cara berpikir, berucap dan bertindak yang ilmiah menurut Sunnah Rasul Muhammad SAW sehingga berhasil dengan gilang gemilang di abad ke-7.

Bahwa percontohan yang legendaris dari Rosulullah Muhammad SAW adalah dengan kekuatan bermusyawarah yang kontroversial bila dihadapkan dengan konsep Imamah apalagi kekeliruan yang terjadi dengan konsep imamah tersebut dengan adanya Hak Veto dari Sang Imam/Pemimpin.

Bahwa Sistem Imamah kontroversial dengan Konsep Musyawarah dalam Perspektif Logika Al Qur’an, Merupakan Perintah Allah Subahnahu watala yang dijelaskan dalam Alquran dalam QS. Ali Imron ayat 159 : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Musyawarah Mufakat merupakan salah satu contoh kerja sama yang ada di dalam masyarakat, organisasi, beragama, berbangsa dan bernegara. Merupakan salah satu ajaran Islam dan yang bertujuan untuk Mengembangkan kehidupan yang demokratis dan menjaga kebebasan menyampaikan pendapat bagi setiap umat manusia. Menciptakan situasi yang kondusif sekaligus dapat melestarikan dan menjaga Budaya masyarakat Indonesia.

Hal ini dipertegas dalam QS.4. Annisa ayat 59 : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Junto QS.83 Al Mutaffifin ayat : 1. Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang) !

Bahwa Hasil keputusan Musyawarah Mufakat adalah sebuah kesepakatan bersama yang kedudukannya diatas Undang – undang karena telah mengatur kesepakatan bersama antar pihak, Contoh kongkrit bahwa kesepakatn itu hokum tertinggi dalam perspektif dalam fikih dan ajaran Islam adalah tentang peristiwa Qisos yang mana keluarga terbunuh punya hak qisos akan tetapi bila ada kesepakatan diantara Keluarga pembunuh dengan yang terbunuh dengan membayar Diyat atau denda yang disepakati jumlahnya maka peristiwa Pidana Tersebut bergeser/berubah menjadi perdata.

Bahkan dalam Uswahnya Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi sekaligus Pemimpin umat ikut bermusyawarah dalam mengambil keputusan, Junjungan kita Nabi Muhammad SAW tidak pernah mencontohkan melakukan Hak Veto hasil musyawarah mufakat para sahabat dalam memutuskan suatu perkara karena Hak veto itu adalah bentuk sikap otoriter dan egosentris dalam kepemimpinan.
Bagaimanapun, corak pemerintahan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam cenderung demokratis. Bila wahyu tidak turun tentang suatu persoalan, maka Rasulullah SAW mengadakan musyawarah dengan para sahabat. Malahan, tak jarang beliau mengambil pendapat mereka sehingga meninggalkan opininya sendiri.

Kecenderungan Nabi SAW dalam membuka dialog, alih-alih monolog, merupakan terobosan yang melampaui zamannya. Berkata Aisyah RA, “Saya belum pernah melihat seseorang yang lebih banyak bermusyawarah daripada Rasulullah SAW.”

Nabi SAW juga pernah bersabda, “Barangsiapa menghendaki mengerjakan sesuatu, lalu ia bermusyawarah dengan seorang Muslim, maka Allah akan memberikan taufik kepadanya untuk memilih yang paling baik baginya.”

Di sinilah pentingnya sikap saling menasihati dalam kebaikan antarsesama Mukmin. Sebaliknya, sikap khianat akan merusak persaudaraan dan menyesatkan nakhoda kepemimpinan.

Beliau berpesan, “Barangsiapa memberikan nasihat kepada temannya dengan suatu pendapat, padahal ia mengetahui bahwa yang benar bukan itu, maka ia telah khianat.”

Kisah musyawarah Nabi Muhammad SAW, Salah satu contoh musyawarah yang diadakan Nabi Muhammad SAW terjadi menjelang Perang Badar. Inilah pertempuran pertama kaum Muslimin dalam menghadapi intimidasi kaum musyrik. Dalam perjalanan, Rasulullah SAW memerintahkan pasukannya untuk berhenti sejenak di dekat mata air sekitar Badar. Salah seorang dari para sahabat, yakni Hubab bin Mundzir, telah mengenal betul medan pertempuran ini.

Dia sempat bertanya-tanya, mengapa Rasul SAW memutuskan untuk singgah sebenar di lokasi tersebut. Lantas, ia memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau.
“Wahai Rasulullah,” kata Hubab, “apakah lokasi ini memang dipilih berdasarkan wahyu yang tak bisa diubah, ataukah ini pendapatmu sebagai strategi perang?”

“Ini hanya pendapatku dan strategi perang,” jawab Nabi SAW.

“Bila demikian, wahai Rasulullah, sungguh lokasi ini bukanlah tempat yang tepat bagi kita. Bagaimana kalau kita mengambil tempat di mata air yang terdekat dengan musuh? Kita turun dari tempat itu, lalu kita gali sumur-sumur di belakangnya. Kolam-kolam kita penuhi dengan air dari oasis itu. Alhasil, ketika sedang bertempur, kita dapat mengambil air yang cukup, sedangkan musuh kehabisan air,” papar Hubab.

Rasulullah Muhammad SAW menerima pendapat sahabatnya itu. Maka, beliau beserta pasukannya meneruskan berjalan hingga mata air yang terdekat dengan musuh. Selanjutnya, kaum Muslimin melaksanakan sebagaimana rencana Hubab bin Mundzir.

Usai Perang Badar, Nabi SAW pun menyelenggakan musyawarah dengan sahabat-sahabatnya. Kali ini, Muslimin memperoleh kemenangan. Bahkan, pasukan jihad ini dapat menawan sebanyak 70 orang lelaki musyrikin Quraisy. Nabi SAW meminta pendapat beberapa sahabatnya tentang nasib para tawanan itu.
“Wahai Rasulullah,” kata Abu Bakar, “mereka itu adalah putra paman-paman kita, kerabat kita, dan saudara kita. Mereka adalah kaummu dan keluargamu. Hendaknya mereka diwajibkan untuk membayar tebusan sehingga dengan tebusan itu kita dapat menambah kekuatan. Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah-Nya kepada mereka sehingga nantinya mereka dapat turut memperkuat kita.”

Setelah Abu Bakar mengutarakan pendapatnya, kini giliran Umar bin Khattab.
“Ya Rasulullah, mereka telah mendustakan dan mengusirmu dari kampung halaman. Mereka adalah gembong orang-orang kafir. Mereka keluar dari kota hanya untuk memerangimu. Menurut pendapatku, hukum mati saja mereka,” kata Umar dengan nada tegas.

Lalu, berkatalah Abdullah bin Rawahah. “Wahai Rasulullah,” katanya, “di dekat kita ada lembah yang banyak kayu. Kita dapat menyalakan api besar di sana, lalu melemparkan mereka ke dalamnya.”

Rasulullah SAW kemudian terdiam. Beliau tak menjawab, lalu masuk ke tendanya. Maka, Abu Bakar, Umar, dan Ibnu Rawahah saling bertanya-tanya. Pendapat manakah yang akan disetujui Nabi SAW?

Tak lama kemudian, Rasulullah SAW keluar dan berkata, “Sungguh, Allah Maha Besar melunakkan hati orang hingga lebih lunak daripada yang lunak. Sungguh, Allah Maha Kuasa mengeraskan hati orang hingga lebih keras daripada batu.”

Beliau lantas mengibaratkan sifat Abu Bakar seperti Nabi Isa AS, yang pernah berdoa, “Jika Engkau (Allah) menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah yang Maha perkasa dan Maha bijaksana” (QS Al-Maidah: 118).
Sifat Umar diibaratkannya dengan Nabi Nuh kala berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi” (QS Nuh: 26).

Adapun sifat Abdullah bin Rawahah disandingkan beliau dengan Nabi Musa saat bermunajat, “Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman sehingga mereka melihat siksaan yang pedih” (QS Yunus: 88).

Nabi SAW lantas lebih condong pada pendapat Abu Bakar. Maka, para tawanan itu bisa dibebaskan dengan jaminan. Keesokan harinya, ternyata turunlah firman Allah, surah al-Anfal ayat 67 : “Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Dari uraian hal tersebut diatas jelas Dalam Ajaran Alqur’an Dan Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan konsep Imamah dalam pengambilan keputusan, justru Pemimpin/Imam sebelum mengambil keputusan ikut bermusyawarah dengan perwakilan-perwakilan umat sebagai musyawirin. Lain halnya dengan Ajaran Agama Syiah yang sangat menjunjung tinggi konsep Imamah/Imam (Imam/Ayatollah) dalam menjalankan propaganda ajaran Agama Syiah di seluruh dunia.

Jika kita bangsa Indonesia menginginkan satu keadaan adil makmur aman damai sejahtera sebagaimana yang terkandung di dalam konstitusi : UUD 45 ; BHINNEKA TUNGGAL IKA dan PANCASILA ; serta NKRI. Sekarang sedang kita mulai untuk:
a. Mempelajari dan berusaha menghafal Al-Qur`an agar lincah dalam mensistimatisir ayat-ayat.

b. Setelah itu – mengklasifikasi Perintah dan Larangan yang ada dalam Al-Qur`an.

c. Selanjutnya menspesialisir ayat-ayat yang menjadi dasar Ipoleksosbud Hankam sambil “Praktikum” di Laboratorium.

d. Lalu kita lakukan semacam KKN dengan membuat kampung masyarakat berketuhanan sebagai miniatur Dinul Islam dalam wujud konkrit dari masyarakat Pancasila atau masyarakat Madani atau masyarakat Madinatul Munawwarah qurun ke dua.

Langkah-langkah dan tahapan teknis yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW sesuai dengan Fakta sejarah adalah di mulai dari :
1. Untuk mempesona dan mengikat dan dukungan masyarakat agar program – program yang hight risk kedepan lancar maka dibentuklah “lembaga al amin” yang agendanya adalah menanam kepercayaan dan “jasa” serta manfaat yg langsung bisa dirasakan oleh masyarakat.

2. Memupuk dan menumbuh suburkan opsesi dg melakukan tirakat sebagai syarat untuk memenuhi kelayakan dan derajat “muthoharun” agar bisa memahami konsepsi yaitu alqur’an di dalam “lembaga hira”.

3. Setelah menerima alqur’an maka dilanjutkan dg melakukan kajian secara super intensif bersama para sahabat di dalam “lembaga Darul Arqom” sampai melahirkan manusia baru yg berkualitas S3 yaitu Shaleh secara spiritual, Shaleh secara intelektual dan Shaleh secara amal sosial.

4. Pada tahun ke 10 kenabian, bersama para alumnus Universitas Al Arqom yang sudah S3 dan 300 KK para sahabat melakukan semacam KKN di tanah sang paman yakni Abu tholib di satu area di lembah Syiib namanya, rasulullah membuat satu perkampungan percontohan untuk mengimplementasikan seluruh hasil memahami alqur’an menjadi kenyataan hidup bermasyarakat.

5. Pada tahun kedua dan ketiga KKN ternyata mengundang ketertarikan tokoh-tokoh Yatsrib (peristiwa perjanjian aqobah I dan II) untuk mengadopsi sistem tsb untuk dijadikan solusi nasional di Yatsrib. Hijrah adalah peristiwa “goal” perjuangan secara nasional.

6. langkah ke lima adalah Hajji ke Makkah dalam rangka Internasionalisasi satu sistem penataan masyarakat berdasar al qur’an menurut praktek rasul. Begitulah tehnis dan tahapan sukses yang pernah di contohkan oleh rasulullah di abad ke7 yang lalu.

Karenanya jika kita ingin mengulang sukses Rasulullah Muhammad SAW, maka mari kita copypaste saja tahapan dan Teknis (Juklak) seperti yang pernah beliau “USWAH” kan. Tindakan yang tidak “USWAHIS” alias trial and error terbukti tidak pernah berhasil walau sudah selama 14 abad lamanya.

Apabila terdapat selisih pendapat dengan ESM Theory ini, maka sudikiranya dilakukan melalui pendekatan yang tidak subjektif, tidak acak-acakan, tidak toleran akan tetapi didasari atas argumentasi yang disusun dengan runut, runtut dan benar dalam menolak ESM Theory. Adapun, bila ada pertentangan terhadap ESM Theory dari pihak yang disebutkan dalam poin 7 (orang-orang kafir/menentang ajaran islam/membenci ajaran Islam, orang orang yang munafik, orang-orang yang dzalim, orang-orang yang fasik dan orang-orang yang murtad) maka hal tersebut merupakan hal yang biasa dan tidak masalah, karena mereka akan senantiasa menentang dan hatinya berpenyakit, seperti iri dan dengki serta penuh kebencian mengikuti hawa nafsunya, sehingga dapat dipastikan tidak akan objektif, sistematis dan tidak mungkin pula toleran sehingga dapat dipastikan tidak akan sampai kepada Nilai-nilai Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan.

Bogor, 21 Juli 2020/30 Dzulqaidah 1441 H
Prof. DR. H. EGGI SUDJANA MASTAL, S.H., M.S.i

Referensi/Daftar Pustaka :
1. Al qur’an
2. Sunnah/Hadist Nabi Muhammad SAW
3. USWAH/Contoh Teladan dari Nabi Muhammad SAW
4. https://republika.co.id/berita/q9gavq458/teladan-musyawarah-rasulullah-saw

About Post Author