04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Menyembelih Sifat Kebinatangan dan Nafsu Kekuasaan Dalam Momentum Idul Adha

MENYEMBELIH SIFAT KEBINATANGAN DAN NAFSU KEKUASAAN DALAM MOMENTUM IDUL ADHA ”

Oleh : AMALIA (DPW PPMI Banten)

Saudaraku, demokrasi yang kita jalani saat ini, lebih cenderung menghasilkan anggota legislatif dan kepala daerah terkena OTT. Hal ini karena demokrasi yang diterapkan menghasilkan festival kompetisi politik berbiaya tinggi. Dan inilah yang menyuburkan oligarki berkembang biak disekitar kekuasaan.

Demokrasi yang di lakukan saat ini defisit melahirkan pikiran dan gagasan cerdas membangun daerah dan negara. Bahkan cenderung melahirkan DINASTI dan IMPERIUM kekuasaan yang berpotensi ditumpangi kaum kolonial dan imprealisme yang menjadi sponsor perampokan negara. Baik melalui sejumlah produk UU, kebijakan, dll.

Maka tidak heran, jika muncul bandit dan mafia berdasi yang memainkan peran mengrogoti SDA dan anggaran negara di topang oleh kekuasaan, berkhidmat dalam bermusyawarah merampok hak rakyat dan uang negara. Berbagai skandal dan contoh kasus menghiasi layar televisi dan pemberitaan media adalah pemandangan sehari-hari yang di pertontonkan epesiode ke epesiode, bak sinetron ditengah meningkatnya jumlah rakyat miskin, pengangguran, hutang luar negeri, dan defisitnya kesejahteraan serta keadilan. 

IDUL ADHA adalah waktu yang baik untuk belajar kecintaan kepada kebenaran dan kemanusiaan itu diuji dengan kesediaan berkorban demi keadilan dan kesejahteraan bersama, disimbolkan dengan penyembelihan hewan kurban. Inilah fase tertinggi dan terberat dalam perjuangan. Seberat Ibrahim yang harus tega mengorbankan anak tercinta, yang dengan susah payah ia dapatkan. 

Momentum hari Raya Idul Adha ditengah kegelisahan rakyat menghadapi pandemi global COVID-19 adalah waktu yang tepat untuk kita secara bersama-sama sejenak merenung realitas yang ada di sekitar kita saat ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan sekiranya warga dan penyelenggara negara mampu menghayati dan mengamalkan pesan moral ibadah haji, kita memiliki modal kejiwaan yang kuat untuk memperbaiki kehidupan bersama dan menyembelai sifat kebinatangan.

Demokrasi Pancasila menghendaki perwujudan cita-cita nasional dengan memperjuangkan cita kedaulatan rakyat yang dapat memperkuat persatuan, keadilan dan menjadi penyelenggara kesejahteraan rakyat. Untuk bisa mengemban misi ini, diperlukan jiwa pelayanan (pengorbanan), untuk menjadi sesuatu yang lebih besar dari kepentingan diri dan golongan.

About Post Author