26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Oleh : Andri Septiningrum, S.Si
Ibu Pendidik Generasi

Orang yang tidak mencintai bisa memberi tapi orang yang mencintai pasti memberi. Begitu juga dengan sifat Allah. Dengan sifat Ar-Rahman-Nya, Allah akan memberikan semua nikmat di dunia kepada siapapun tanpa terkecuali. Berbeda dengan sifat Ar-Rahim. Nikmat ini hanya akan diberikan kepada yang Allah cintai. Tapi tentu akan berbeda nikmat yang diberikan. Untuk semua makhluk-Nya, baik yang cinta atau tidak kepada Allah, Allah akan memberikan kenikmatan dunia, karena dunia bagi Allah adalah sesuatu yang rendah di mata-Nya. Sedangkan bagi yang dicintai-Nya, Allah akan memberikan pemahaman ilmu yang membuat hamba-Nya semakin cinta kepada-Nya.

Akan tetapi, cinta perlu pembuktian dan pengorbanan. Sebagaimana kita  pernah dengar kisah Nabi Ismail.
Ketika Nabi Ibrahim bermimpi diperintah untuk menyembelih putranya yang telah remaja tersebut. Mimpi ini datang selama 3 kali berturut-turut. Nabi Ibrahim memahami bahwa mimpi itu adalah perintah dari Allah. Ia pun mendatangi Ismail untuk menceritakan mimpinya. Jawaban nabi Ismail diabadikan dalam surat Ash-Shafaat ayat 102. Jawaban yang penuh dengan keimanan dan ketaatan.

“Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai Bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS Ash-Shafaat: 102).

Disaat keduanya bersepakat menjalankan perintah Allah, dan sebagai balasan atas keikhlasan dan pengorbanan mereka, Allah mengganti Nabi Ismail dengan domba jantan.

Sebagaimana firman Allah: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shafaat (37) : 104:107).

Arti cinta dan pengorbanan juga akan kita rasakan ketika kita sudah berpredikat sebagai ibu. Seorang ibu pasti rela berkorban apapun untuk buah hatinya. Meskipun dalam kondisi sakit, seorang ibu akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Dan sesungguhnya cinta Allah kepada kita, melebihi cinta ibu kepada anaknya.

Dari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, beliau menuturkan:

ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ
ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya.

Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”

Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Allah sangat cinta kepada hamba-Nya, hingga Allah sangat cemburu ketika hamba-Nya bermaksiat kepada-Nya.

Al-Qur’an yang Allah turunkan adalah salah satu bukti cinta. Allah tidak membiarkan kita kebingungan dalam menjalani hidup. Al-Qur’an diturunkan sebagai penuntun hidup, agar kita dapat meraih bahagia di dunia dan akhirat. Firman-Nya:
“Kitab ini tidak ada keraguan padanya; (merupakan) petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 2)

Kondisi pandemi saat ini telah menghasilkan banyak krisis di sektor kesehatan (kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan lebih banyak, kebutuhan vaksin), sektor ekonomi (kemandegan hingga resesi) dan sosial (pendidikan, ketahanan keluarga, kerusakan generasi). Sejatinya krisis tersebut tidak akan terjadi ketika kita menjadikan Al-Qur’an sebagai penuntun. Al-Qur’an di dalamnya mengatur berbagai urusan. Al-Qur’an hadir memberikan solusi bagaimana cara mengatasi pandemi saat ini. Al-Qur’an menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang memposisikan pemimpin (Khalifah) sebagai raa’in dan junnah (perisai) bagi rakyatnya.

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).

Dalam Islam, kebutuhan atas pelayanan kesehatan termasuk kebutuhan dasar masyarakat yang menjadi kewajiban negara. Rumah sakit, klinik dan fasilitas kesehatan lainnya merupakan fasilitas publik yang diperlukan oleh kaum muslim dalam terapi pengobatan dan berobat. Jadilah pengobatan itu sendiri merupakan kemaslahatan dan fasilitas publik. Kemaslahatan dan fasilitas publik (al-mashâlih wa al-marâfiq) itu wajib disediakan oleh negara secara cuma-cuma sebagai bagian dari pengurusan negara atas rakyatnya. Rakyat tidak akan dibiarkan memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Disaat pandemi yang mengharuskan mereka lock down, negara akan melayani mereka dalam pendidikan, kesehatan dan ekonomi tanpa pamrih. Negara tidak akan mencari keuntungan dari rakyatnya, tidak akan membebani mereka dengan pungutan yang memberatkan. Negara akan mengoptimalkan seluruh Sumber Daya Alam yang ada untuk kepentingan rakyat. Pungutan hanya akan dilakukan kepada orang yang mampu disaat kas negara benar-benar kosong. Negara tidak akan berfikir untung rugi kepada rakyat.

Menjadi kebutuhan mendesak bagi umat untuk kembali pada Islam yang di dalamnya mengatur seluruh urusan. Aturan yang memberikan kebahagian dan keadilan kepada semua orang tanpa terkecuali. Aturan yang tidak bisa kita ragukan lagi kebenarannya karena berasal dari Rabb sang pencipta dan pengatur. Sudah saatnya kita  kembali kepada sistem Ilahi Rabbi.

Seorang hamba yang mengaku cinta kepada Rabbnya akan berusaha taat kepada-Nya. Seorang yg mencintai pasti akan melakukan apapun untuk yang dicintainya. Ketaatan sempurna dan kesiapan berkorban meninggalkan seluruh orientasi individual dan materialistik menuju keinginan meraih ridho ilahi rabbi. Ketaatan sempurna seperti dicontohkan oleh nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Ketaatan yang harusnya juga kita lakukan saat ini untuk melaksanakan semua perintah Allah tanpa terkecuali. Kesediaan berkorban untuk berjuang menerapkan Islam secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan baik individu, masyarakat ataupun negara. Menjadi keyakinan yang kuat bahwa setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan didalamnya. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 208 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman masuklah ke dalam Islam secara kafah (menyeluruh) dan janganlah kalian mengikuti langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu.” 

Ketaatan dan pengorbanan semata-mata untuk meraih cinta-Nya, cinta yang hakiki. Dan semakin kita mengenal Rabb kita, maka kita akan semakin leleh kepada cinta-Nya. Rabb yang senang kita pinta, Rabb yang mendengar seluruh keluh kesah kita, Rabb yang tahu isi hati kita dan Rabb yang mengatur kita karena cinta-Nya kepada kita. Cinta kepada-Nya adalah cinta yang tidak akan mengecewakan. Masihkah engkau menduakan-Nya?

Wallahu a’lam bish-shawab.

About Post Author