06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Nikah Dini dilarang, Seks Bebas Melenggang

Oleh: Neneng Sriwidianti
(Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK)

“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR. Al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani)

Gambaran hadist di atas, benar-benar terjadi di negeri yang mayoritas Muslim ini. Percaya atau tidak, ternyata lebih dari separuh remaja Indonesia pernah bercinta. Untuk angka pastinya adalah sekitar 62,7 persen. Hal ini diketahui dari KPA (Komisi Perlindungan Anak) yang telah melakukan survei beberapa tahun lalu. Benar-benar miris! Baru-baru ini publik juga dikejutkan oleh berita dari Pengadilan Agama Jepara, Jawa Tengah. Ada 240 permohonan dispensasi nikah, yang diduga setengahnya sudah hamil, sedangkan sisanya karena faktor usia yang belum genap 19 tahun sesuai aturan terbaru.

“Dari 240 pemohon dispensasi nikah, dalam catatan kami ada yang hamil terlebih dahulu dengan jumlah berkisar 50-an persen. Sedangkan selebihnya karena faktor usia yang belum sesuai aturan, namun sudah berkeinginan menikah,” kata ketua Panitera Pengadilan Agama Jepara (Taskiyaturobihah) kepada Antara. (Jawapos.com, 26/7/2020)

Di negara yang mengusung demokrasi dengan kebebasannya, fenomena seks bebas yang berujung kehamilan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Ibarat ‘gunung es’ yang hanya terlihat sedikit, namun faktanya mayoritas generasi sudah diselimuti atmosfir seks bebas. Bahkan sudah stadium sangat parah.

Di tengah krisis pergaulan saat ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan dispensasi nikah. Peraturan ini mengacu kepada Undang-Undang Nomor 16/2019 tentang perkawinan bahwa batas minimal calon pengantin putri berusia 19 tahun. Sehingga bagi warga yang berencana mau menikah tetapi umurnya belum genap 19 tahun atau karena sudah hamil, harus mengajukan dispensasi nikah.

Dispensasi nikah, adalah upaya pencegahan nikah dini yang selama ini ditentang oleh pemerintah. Tetapi dilain pihak, mereka membiarkan seks bebas melenggang tanpa batas. Ini adalah solusi sesaat, yang tidak akan pernah menuntaskan masalah, selama akarnya yaitu paham kebebasan yang merusak masih bercokol di negeri berpenduduk Muslim terbesar ini. Ironis sekali.

Inilah, buah dari diterapkannya sistem demokrasi dengan kebebasannya. Sudah saatnya sistem ini dibuang karena hanya akan menghantarkan para remaja kepada perilaku seperti binatang.

Hari ini, sebuah keniscayaan untuk diterapkan aturan Islam secara kafah. Islam mempunyai seperangkat aturan, bagaimana mengatur hubungan laki-laki dan perempuan agar tetap berjalan sesuai dengan hukum syara. Sistem Ijtima’i menjamin agar generasi siap memasuki gerbang keluarga dan mencegah seks bebas.

Berikut ini hal-hal yang perlu kita ketahui dalam hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

  1. Larangan campur baur antara laki-laki dan perempuan bukan mahram ‘ikhtilath’.
    Imam Bukhari meriwayatkan dalam At-Tarikhul Kabir dari Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma, dari Nabi saw., beliau bersabda:
    “Janganlah kamu masuk masjid dari pintu wanita.”
  2. Melarang khalwat, yaitu laki-laki berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya.
    “Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)
  3. Perintah untuk menutup aurat.
  4. Memerintahkan kepada seorang Muslim untuk menjaga pandangan.
  5. Memerintahkan Muslimah ketika pergi safar sehari semalam harus disertai mahramnya.
  6. Perintah segera menikah bagi pemuda yang sudah mampu dan menyuruh puasa bagi mereka yang belum mampu.
  7. Islam, memerintahkan individu Muslim menghiasi dirinya dengan ketakwaan.

Peran keluarga sangat penting dalam mewujudkan pribadi yang bertakwa. Orang tua memiliki kewajiban dalam merealisasikan akidah Islam dan mendidik putra-putrinya agar memiliki kepribadian Islam. Sedangkan masyarakat sebagai pengontrol berfungsi mengawasi dan mencegah terjadinya kemaksiatan.

Negara mempunyai peran yang paling utama, yaitu dengan menerapkan sanksi tegas terhadap pelaku kemaksiatan. Hal ini semata untuk menjaga akhlak masyarakatnya. Bagi remaja yang sudah baligh tetapi belum menikah, ketika mereka melakukan seks bebas maka 100 kali cambuk sebagai sanksi atas perbuatan mereka. Allah Swt. berfirman:

“Perempuan dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya dengan seratus kali dera … ” (TQS. An- Nur [24]: 2)

Tiga peran inilah, yaitu keluarga, masyarakat dan negara yang menerapkan aturannya secara tegas yang akan mampu menyelesaikan masalah terjadinya seks bebas di kalangan remaja. Generasi masa depan akan selamat ketika Islam diterapkan sebagai sebuah aturan dalam seluruh aspek kehidupan. Khilafah satu-satunya sistem pemerintahan yang bisa mewujudkannya sehingga negeri ini akan terbebas dari azab Allah Swt. yang sangat pedih.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author