30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Klaim Vaksin, Bukti Gagal demokrasi Mengatasi Virus!

Oleh: Widhy Lutfiah marha
Pendidik Generasi

Nama Hadi Pranoto menjadi perbincangan setelah ia diwawancarai musisi Erdian Aji Prihartanto atau Anji dalam sebuah video. Dalam video itu, Hadi Pranoto memperkenalkan diri sebagai profesor sekaligus Kepala Tim Riset Formula Antibodi Covid-19. Ia menyebutkan bahwa cairan antibodi Covid-19 yang ditemukannya bisa menyembuhkan ribuan pasien Covid-19. Cairan antibodi Covid-19 tersebut diklaim telah didistribusikan di Pulau Jawa, Bali, dan Kalimantan (kompas.com/02/08/2020).

Menanggapi hal itu Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito dan peneliti mikrobiologi UGM, Mohamad Saifudin Hakim menegaskan bahwa klaim Hadi Pranoto terkait temuan cairan antibodi Covid-19 tersebut meragukan. Hadi diragukan mulai dari klaim dirinya sebagai peneliti dan hasil klinik yang dilakukan untuk menemukan cairan antibodi tersebut. Bahkan pemerintah mengajak Hadi untuk dapat menunjukkan hasil penelitiannya dengan jelas kepada pemerintah.

Adanya klaim obat corona sejatinya merupakan gambaran akan kebutuhan vaksin terhadap virus ini. Hingga saat ini masyarakat terus menantikan vaksin yang dapat mencegah dan mengobati pasien positif Covid-19. Terlebih lagi kebijakan New Normal yang diberlakukan di Indonesia membuat masyarakat dilema ketika hendak beraktivitas diluar rumah. Tak ada jaminan keselamatan ketika masyarakat harus terjun keluar. Tak jaminan perlindungan yang diberikan ketika masyarakat harus berusaha menyambung hidup.

Sehingga, wajar jika kepercayaan masyarakat kepada pemerintah menurun dari hari ke hari. Kalung anti corona yang sempat diklaim pemerintah juga tak luput dari tanggapan masyarakat. Membuat masyarakat tidak sepenuhnya percaya kepada pemerintah. Sungguh, masyarakat sangat menantikan solusi solutif akan penanganan pandemi.

Penanganan pemerintah yang terkesan lambat terhadap wabah virus corona membuat masyarakat berlomba untuk mencari obat yang diyakini ampuh untuk mencegah dan mengobati penderita Covid-19. Aneka herbal ditawarkan oleh sebagian praktisi herbal kepada masyarakat sebagai solusi alternatif.

Artinya dengan fenomena ini pula menunjukkan bahwa pemerintah tidak mampu meyakinkankan publik bahaya terhadap virus corona, sekaligus menegaskan masyarakat tidak bisa mengandalkan pemerintah untuk menemukan obat atas virus.

Sejak awal memang pemerintah dianggap gagap menghadapi pandemi ini. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah baik preventif maupun kuratif dinilai gagal mengatasi wabah ini. Saat pertama kali wabah diumumkan misalnya pemerintah membiarkan masuknya warga asing ke Indonesia. Bahkan negara lain telah dibuat bingung oleh sikap Indonesia yang masih merasa baik-baik saja saat itu.

Upaya preventif dengan seruan social distancing, physical distancing, rajin cuci tangan, tetap di rumah, jangan berkerumun, dan meliburkan sekolah tidak diiringi dengan edukasi yang menyeluruh ke tengah-tengah masyarakat.

Ketidakseriusan memisahkan orang sakit dengan yang sehat, kebijakan health imunity, dan keputusan memilih new normal, kian menambah bahwa virus ini tidak berbahaya. Bahkan sebagian masyarakat berasumsi bahwa virus telah tiada.

Upaya kuratif juga dinilai belum optimal, sejauh ini pemerintah telah banyak melakukan upaya kuratif atau penyembuhan seperti menyediakan rumah sakit darurat, membeli jutaan obat yaitu Chloroquine dan Avigan yang disebut efektif mengobati pasien corona.

Padahal kementerian pemerintahan Jepang mengatakan Avigan tidak cukup efektif mengobati pasien covid-19 dengan gejala kronis. Sementara dana riset yang disediakan untuk menemukan obat virus corona sangat kecil. Bahkan sempat dipotong, dana vaksin covid 19 di Indonesia sebesar Rp 35 miliar dan dipotong lagi sebesar Rp 1,4 miliar. Nampak pemerintah seperti tidak memiliki visi untuk menemukan vaksin corona.

Upaya preventif yang terlambat dan upaya kuratif yang belum optimal inilah yang menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan mencari jalan lain.

Buruknya tata kelola pemerintah, lahir dari sistem kapitalis yang tak mampu mengurusi rakyat. Rezim kapitalis ini jika terus diproduksi akan membuat semuanya hancur, karut marut dan tanpa arah.

Dalam sistem demokrasi pemerintah tidak serius melindungi warganya dari ancaman virus corona. Sebagai pemimpin negara yang mayoritas penduduknya muslim pemerintah seyogianya melirik bagaimana Islam mengatasi wabah penyakit menular. Karena Islam memiliki seperangkat solusi dalam mengatasi wabah pandemi. Islam selalu menunjukan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Ia mengatur semua hal tidak terkecuali di bidang kesehatan.

Dalam Islam, kesehatan dan keamanan disejajarkan dengan kebutuhan pangan. Ini menunjukan bahwa kesehatan dan keamanan statusnya sama sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Mengatasi pandemi, tak mungkin bisa melepaskan diri dari performa kesehatan itu sendiri. Maka beginilah cara Islam mengatasi pandemi dapat dijelaskan dalam beberapa poin sebagai berikut:

  1. Edukasi prefentif dan promotif

Islam adalah agama pencegahan. Telah banyak disebutkan bahwa Islam mewajibkan kaum muslim untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Yakni menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran. Pembinaan pola baku sikap dan perilaku sehat baik fisik, mental maupun sosial, pada dasarnya merupakan bagian dari pembinaan Islam itu sendiri. Dalam hal ini keimanan yang kuat dan ketakwaan menjadi keniscayaan.

Islam memang telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktikan gaya hidup sehat, pola makan sehat dan berimbang serta perilaku dan etika makan. Misalnya diawali dengan makanan. Allah SWT telah berfirman:

Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian (TQS. An-Nahl [16]: 114).

Kebanyakan wabah penyakit menular biasanya ditularkan oleh hewan (zoonosis). Islam telah melarang hewan apa saja yang tidak layak dimakan. Dan hewan apa saja yang halal dimakan. Apalagi sampai memakan makanan yang tidak layak dimakan, seperti kelelawar. Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang, mengisi perut dengan 1/3 makanan, 1/3 air dan 1/3 udara, termasuk kaitannya dengan syariah puasa baik wajib maupun sunah.

Oleh karena itu, negara memiliki peran untuk senantiasa menjaga perilaku sehat warganya. Selain itu, pemerintah juga mengedukasi agar ketika terkena penyakit menular, disarankan menggunakan masker. Dan beberapa etika ketika sakit lainnya.

Hal ini sangat membantu pemulihan wabah penyakit menular dengan cepat. Karena warga di dalam sistem Islam telah membangun sistem imun yang luar biasa melalui pola hidup sehat.

  1. Sarana dan prasarana kesehatan

Pelayanan dan kesehatan berkualitas hanya bisa direalisasikan jika didukung dengan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten. Penyediaan semua itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara. Karenanya negara wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboraturium medis, apotik, lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker, perawat, bidan serta sekolah kesehatan lainnya yang menghasilkan tenaga medis.

Negara juga wajib mengadakan pabrik- pabrik yang memproduksi peralatan medis dan obat-obatan, menyediakan SDM kesehatan baik dokter, apoteker, perawat, psikiater, akupunkturis, penyuluh kesehatan dan lain sebagainya.

Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis kepada rakyat baik kaya ataupun miskin tanpa diskriminasi baik agama, suku, warna kulit dan sebagainya. Pembiayaaan untuk semua itu diambil dari kas Baitul Mal, baik dari pos harta milik negara maupun milik umum.

Dengan demikian, apabila terjadi kasus wabah penyakit menular dapat dipastikan negara dengan sigap akan membangun rumah sakit untuk mengkarantina penderita, atau membangun tempat karantina darurat. Serta mendatangkan bantuan tenaga medis yang handal dan profesional untuk membantu agar wabah segera teratasi.

  1. Membangun sanitasi yang baik

Tidak dapat dipungkiri, bahwa sanitasi yang buruk juga menyumbang terjadinya wabah penyakit menular. Pada masa Eropa mengalami masa the dark age, warga Eropa masih membuang hajat di sungai-sungai sehingga pernah dalam sejarah terjadi wabah kolera di sana.

Syariah sangat fokus terhadap kebersihan dan sanitasi seperti dibahas dalam hukum-hukum thaharah. Kebijakan kesehatan khilafah juga diarahkan bagi terciptanya lingkungan yang sehat dan kondusif. Tata kota dan perencanaan ruang akan dilaksanakan dengan senantiasa memperhatikan kesehatan, sanitasi, drainase, keasrian dsb. Hal itu sudah diisyaratkan dalam berbagai hadits:

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, Maha Bersih dan mencintai kebersihan. Maha Mulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu bersihkanlah rumah dan halaman kalian dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi .”
(HR. At Tirmidzi dan Abu Yala)

Jauhilah tiga hal yang dilaknat, yaitu buang air dan kotoran di sumber/ saluran air, di pinggir atau ditengah jalan dan di tempat berteduh (HR. Abu Dawud).

Di samping itu juga ada larangan membangun rumah yang menghalani lubang masuk udara rumah tetangga. Beberapa hadis di atas mengisyaratkan pengaturan pengelolaan sampah dan limbah yang baik, tata kelola drainase dan sanitasi lingkungan yang memenuhi standar kesehatan dan pengelolaan tata kota yang higienis, nyaman sekaligus asri.

  1. Membangun ide karantina

Dalam sejarah, wabah penyakit menular sudah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah tersebut adalah kusta yang menular dan mematikan dan belum ada obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut salah satu upaya Rasulullah adalah dengan menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasul memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut.

Dengan demikian, metode karantina telah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul membangun tembok di sekitar daerah wabah.

Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:

“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu. “(HR. Al-Bukhari).

Dari hadis tersebut maka negara khilafah akan menerapkan kebijakan karantina dan isolasi khusus yang jauh dari pemukiman penduduk apabila terjadi wabah penyakit menular. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Selama isolasi, diberikan petugas medis yang mumpuni dan mampu memberikan pengobatan yang tepat kepada penderita. Petugas isolasi diberikan pengamanan khusus agar tidak ikut tertular.

Pemerintah pusat tetap memberikan pasokan bahan makanan kepada masyarakat yang terisolasi.

  1. Islam menginspirasi negara menciptakan vaksin

Islam memasukan konsep Qadar sebagai salah satu yang harus diyakini. Allah telah tetapkan terkait gen, mekanisme mutasi, dampak fisiologi sebuah virus tertentu. Dari situ, kita tahu bagaimana mekanisme penyakit. Contohnya, identifikasi terhadap kuman Mycobacterium sebagai penyebab TBC yang menyerang paru, dan kita bisa pelajari antibiotik untuk mengobatinya dan juga mengenali mutasi kuman – kuman Mycobacterium TB sehingga bisa menjadi resisten. Ukuran-ukuran ini yang bisa dipelajari dan digunakan untuk memprediksi resiko penyakit. Dan dari situ dapat diteliti obat/ vaksinasinya.

Umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi pandemi, yakni vaksinasi. Cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter muslim zaman Khilafah Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis di jaman Abbasiyah.

Jadi, negara akan mengintensifkan upaya menemukan vaksin corona dengan mendukung berbagai riset penemuan vaksin dengan pendanaan yang besar dan ahli riset professional yang banyak. Ketika ditemukan, maka pemerintah akan memvaksinasi seluruh rakyatnya tanpa biaya atau gratis. Semua layanan ini diberikan secara cuma-cuma, karena kebijakan ekonomi negara Islam memungkinkan negara dalam mendapatkan anggaran pendapatan yang berlimpah ruah terutama dari pengelolaan kepemilikan umum seperti kekayaan alam maupun kekayaan negara.

Wallahu alam bishshawab

About Post Author