30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Tak Mau Disebut “OON”, Emak-Emak Ikutan BOM

Sehari setelah pembentukan Barisan Oposisi Merah putih (BOM), sejumlah organisasi masyarakarat dan komunitas emak-emak militan menyatakan ikut bergabung. Kesediaan mereka bergabung, karena menilai BOM sebagai solusi dari krisis bangsa dan negara saat ini.

Diketahui, BOM dibentuk oleh sejumlah aktivis yang beroposisi pada rezim pada Senin (17/8/2020) kemarin di kantor Syarikat Islam (SI) di kawasan taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat.

BOM dideklarasikan oleh Prof. Eggi Sudjana, Nur Lapong, Piping, Ketua Umum Komando Barisan Rakyat (KOBAR) Rijal, Ketua Umum Gerakan Daulat (Garda) Bumi Putera Dr. Harjono, Presiden Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) Daeng Wahidin, Presiden Federasi Serikat Pekerja Aneka Industri (FSPASI) Herry Hermawan, Ketua Umum Garda Nusa Anwar Esfa, Panglima Perang Mujahidin Laskar Suhada Indonesia La Ode Alfa’an dan lainnya.

Adapun tujuan dibentuknya BOM sebagai wadah berhimpun para kaum oposisi untuk melakukan koreksi terhadap penyimpangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Diantara ormas yang baru menyatakan ikut bergabung dengan BOM adalah Front Nasionalis, Laskar Priok, Solidaritas Anak Priok, Forum Jaringan Islam Sosialis (ForJIS), Jaringan Alumni SMA (JASMA), Ibu Pertiwi dan lainnya.

Salah satu alasan mereka bergabung, karena menilai kehadiran BOM bisa menjadi solusi konkrit terhadap berbagai persoalan bangsa dan negara saat ini.

“Setelah mendengarkan paparan dari para pendiri BOM tadi, kami memutuskan untuk bergabung. Memang saat ini sudah sulit untuk melakukan perubahan dengan hanya berdiskusi atau berdebat. Emak-emak capek dengar pidato, kami maunya perubahan secepatnya,” kata Menuk perwakilan JASMA dalam dialog dengan presidium BOM di Jakarta, Selasa (18/8/2020).

Menuk menilai kondisi bangsa saat ini memang sangat memprihatinkan. Disaat pandemi Covid-19 melanda, para pejabatnya justru terkesan meninggalkan rakyatnya. Hal itu ditandai dengan berbagai kebijakan yang sangat tidak pro-rakyat.

“Kita sedang dilanda pandemic Covid-19, tapi pejabatnya malah berjalan sendiri tanpa menghiraukan rakyat. Contohnya, untuk rapid tes bagi penumpang kereta dan pesawat malah disuruh bayar, kemana itu dana yang katanya untuk Corona?,” cetusnya.

“Belum lagi soal kebijakan ekonomi yang jelas-jelas menyakiti rakyat yang sedang menderita. TKA China diundang masuk, sementara banyak rakyat yang menganggur. Belum lagi RUU HIP dan Omnibus Law yang sudah ditolak rakyat, tapi masih terus dibahas. Kesalahan pemerintah kalau mau disebut satu persatu, sampai setahun tidak akan selesai,” paparnya.

Ironisnya, di era demokrasi ini nasehat dan masukan dari berbagai pihak kepada pemerintah, termasuk para akademisi dan tokoh agama diabaikan. Bahkan, tak jarang masukan atau kritik ditanggapi dengan cara menangkap para pengkritiknya.

“Kalau nasehat dan masukan dari orang-orang yang kompeten sudah tidak ditanggapi, apakah masih bisa merubah dengan cara dialog atau debat konsep?. Emak-emak pengagum Bang Eggi yang cerdas meminjam istilah Bang Eggi yaitu OON (Bloon). Nah, kalau orang OON masak mau diajak adu konsep atau debat? Jangan sampai kita ikutan jadi OON lho. Sama OON-nya kalau kita bicara moral sama orang-orang yang sudah tak bermoral. Jadi harus langsung aksi konkrit ajalah,” selorohnya.

Koordinator BOM Rijal Kobar dan Daeng Wahidin menyambut baik dukungan dari kelompok yang baru bergabung. “Alhamdulillah, memang semakin banyak yang mau bergabung dan menilai BOM sebagai solusiserta gerakan rakyat alternatif yang selama ini terasa hambar dimata masyarakat karna tak kunjung dapat memenuhi tuntutan masyarakat. Insha Allah, jika semua mau bersatu, maka masalah bangsa bisa kita selesaikan,” kata Rijal Kobar Tokoh Pemuda Tanjung Priok ini dengan berapi-api. (*)

About Post Author