30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Memperkuat Ukhuwwah Islamiyyah Melahirkan Keharmonisan.

Oleh: Silmi Dhiyaulhaq, S.Pd
Praktisi Pendidikan

“Janganlah kamu sekalian saling mendengki, saling menipu, saling memarahi dan saling membenci. Muslim satu adalah bersaudara dengan Muslim yang lain. Oleh karena itu, ia tidak boleh menganiaya, membiarkan, dan menghinanya. Takwa itu ada di sini [Rasul menunjuk dadanya tiga kali]. Seseorang itu cukup dianggap jahat bila ia menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim yang satu terhadap Muslim yang lain itu haram mengganggu darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Muslim).

Karena eratnya kesatuan sesama kaum Muslim ini, Rasulullah bersabda, ”Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya.

Begitu indah ikatan persaudaraan dalam Islam. Namun miris beberapa waktu lalu viral berita penggerudukan yang dilakukan oleh Banser PC Ansor terhadap Kyai yang dianggap sebagai simpatisan HTI. Yang membuat semakin miris adalah perbuatan Banser tersebut diapresiasi oleh Menteri Agama Fachrul Razi. (FixIndonesia.pikiran-rakyat.com, 22/08/2020).

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah meminta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mampu membedakan tabayyun dengan persekusi. Hal itu lantaran Menag Fachrul Razi mengapresiasi tindakan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bangil yang mendatangi rumah AH, seorang warga yang disebut pengikut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Desa Kalisat, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. “Menag semestinya punya kemampuan membedakan tabayyun dan persekusi. Memaksa seseorang mengakui aktivitas yang tidak terbukti di muka hukum adalah persekusi,” ujar Dedi ketika dihubungi Tagar, Sabtu, 22 Agustus 2020. Dia pun menyarankan agar Fachrul dapat menempatkan diri sebagai penengah dalam permasalahan tersebut. Terlebih, hal itu berkaitan dengan urusan keagamaan yang menjadi bidangnya di Kemenag. (Tagar.id, 23/08/2020)

Pernyataan Menag Fachrul Razi ini juga mendapat perhatian Prof Musni Umar. Sebab, beliau melihat proses tabayun oleh Banser dilakukan dengan cara membentak dan mengintimidasi. Beliau amat menyayangkan sikap Menag (yang mengapresiasi) karena Islam tidak mengajarkan untuk berbuat kekerasan, membentak, dan melakukan intimidasi kepada ulama atau kepada siapa pun. Rektor Universitas Ibnu Chaldun itu berpandangan bahwa upaya tabayun seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang baik. “Heran cara seperti ini diapresiasi menag. Jika ada perbedaan, lakukan mujadalah dengan cara yang baik,” tandasnya. (Fajar.co.id, 23/08/2020)

Memang apa yang telah dilakukan oleh salah satu kelompok masyarakat kepada saudaranya sesama muslim sangat disayangkan. Kepada sesama muslim hendaknya berlemah lembut sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah saw dalam hadits di atas. Jangan sampai dibalik, kepada musuh-musuh Islam berlemah lembut, sedangkan kepada sesama muslim begitu keras permusuhannya.
Sudah saatnya kaum muslimin sebagai komponen terbesar bangsa untuk saling menguatkan dan menjauhi permusuhan. Bagaimana supaya tidak ada permusuhan? Firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran 103 yang artinya:

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Pada ayat tersebut, Allah telah menekankan agar orang-orang yang beriman bersatu dalam melaksanakan agama Islam. Berpegang teguh artinya memegang erat-erat, melaksanakan prinsip yang tidak berubah dari zaman nenek moyang yakni melaksanakan syari’at Islam dengan tidak berpecah belah. Sedangkan yang dimaksud dengan tali agama Allah adalah Al Qur’an dan Sunnah. Bahkan dalam Qur’an surat al Ashr pada ayat “dan mereka saling menasihati” ini juga termasuk fenomena persatuan. Karena saling menasihati tidak akan terjadi pada satu orang saja, akan tetapi terjadi pada suatu kelompok antara satu dengan yang lain, saling mengingatkan, menasihati dan saling meluruskan.

Maka hendaklah sesama muslim harus saling mengingatkan dengan cara yang baik. Bukan dengan cara yang buruk dan kasar. Jangan sampai pula menyerahkan saudara muslimnya kepada musuh-musuh Islam.
Allah menyebutkan di dalam akhir surat Ali Imran 103 yang artinya:

“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu agar kamu mendapatkan petunjuk.”
Begitulah, Allah telah menunjukkan jalan hidayah yakni persatuan umat, dan inilah jalan yang lurus jalan hidayah dari Allah. Tinggal, apakah orang-orang yang beriman mau menempuh jalan ini? Jawabannya adalah kepada diri kita masing-masing sebagai orang-orang yang beriman.

Semoga Allah senantiasa menjaga hati kaum muslimin untuk saling berkasih sayang kepada saudaranya sesama muslim. Aamiin.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author