04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Pengkhianatan Terhadap Islam Melalui Normalisasi Hubungan Arab -Israel

Oleh : Darni Slamah

Pembelot!! Mungkin itulah julukan yang pantas bagi UEA (Uni Emirat Arab). Disaat masyarakat muslim tengah berjuang membebaskan Palestina dari penjajahan Israel, Salah satu negara federasi yang kaya akan minyak itu justru menormalisasikan hubungannya dengan penjajah, Israel.

Sebelumnya Mesir – Israel pada 1979 melakukan perjanjian damai, diikuti Israel-Yordania pada 1994 yang juga melakukan perjanjian damai. UEA (Uni Emirat Arab ) menjadi negara Arab ketiga yang menormalisasikan hubungan diplomatisnya dengan Israel, dengan melenggangnya tiga negara Arab yang melakukan pembelotan tersebut tidak akan menutup kemungkinan akan menjadi pancingan negara-negara Arab lainnya untuk bergabung menormalisasikan hubungan diplomatisnya dengan Israel.

Tentu normalisasi hubungan itu tidak akan begitu saja terjadi tanpa ada rahasia sebelumnya. Diketahui di tengah kebekuan hubungan Uni Emirat Arab — Israel telah terjadi hubungan kerja sama intelijen di era tahun 1970, serta kerja sama bisnis penjualan produk serta layanan.

Sontak, hal ini menjadi luka baru bagi Palestina atas trilateral Uni Emirat Arab-Israel. Tak hanya itu, normalisasi hubungan kedua negara itu menjadi pengkhianatan terhadap Yerussalem, Al-Aqsa dan perjuangan muslim Palestina selama ini. Padahal, Uni Emirat Arab merupakan salah satu negara Arab yang mengecam keras terhadap pendudukan Israel terhadap wilayah Palestina.

Satu persatu negara Arab yang bermutasi menjadi kawan Israel, menjadi ancaman bagi rakyat palestina . Bagaimana tidak, impian kemerdekaan dari kolonialisme Israel menjadi mimpi di siang bolong. Harapan dukungan negara-negara muslim justru menjadi sebuah harapan yang kosong.

Sesungguhnya sebuah kezaliman jika kita membisu membiarkan kezaliman terjadi.
Seharusnya Palestina menjadi negara yang mendapatkan perhatian dan pembelaan dunia ter negara-negara muslim juga negara Arab. Dunia seakan buta dan tak berdaya melihat penjajahan atas Palestina yang tiada henti.

Organisasi dunia hanya sebuah wadah yang menjadi instrumen kaum Barat untuk menguasai dan mencederai negara muslim yang lemah. Jika Organisasi dunia adalah media perdamaian lantas mengapa seakan tak memiliki taring untuk mengakhiri sebuah penjajahan yang tak manusiawi ini?

Sayangnya, para pemimpin negeri muslim saat ini hanya bisa membutakan diri, karena terbelit kepentingan pribadi. Lantas mengapa pengaruh Israel dengan entitas Yahudi yang hanya berjumlah 8,7 juta pada tahun 2017 nampak begitu kuat hingga membuat para pemimpin muslim dengan miliaran rakyatnya tak mampu berbuat apa-apa?. 

Jika saja para pemimpin dunia bercermin pada keberaniaan pemimpin terdahulu dengan menjadikan politik Islam sebagai standar hukum dunia, bukan hukum yang sekuler tidak akan menutup kemungkinan untuk membebaskan negara-negara terjajah.
Hal ini bisa kita baca dari sejarah puluhan abad lalu, Umar bin Khattab yang berwibawa membebaskan Palestina dari penjajah. Menjadikan Palestina menjadi negara yang begitu damai menjalani kerukunan antar umat beragama.

Adalah S ultan Abdul Hamid II, khalifah terakhir dari Turki Utsmani yang pembelaannya terhadap Palestina demikian fenomenal. Di saat posisinya sangat lemah akibat konspirasi Inggris dengan Mustafa Kemal dan di saat negaranya terjebak utang, beliau dengan tegas menolak sejumlah besar uang yang disodorkan utusan Hertzl (seorang pendiri Zionis) sebagai kompensasi jika Sultan mau menyerahkan Tanah Palestina kepadanya.

“Saya tidak akan mungkin melepaskan sejengkal pun tanah Palestina, meskipun itu hanya sejengkal. Palestina bukan milikku, tetapi milik umat Islam. Umat Islam telah banyak mengorbankan nyawa dalam mempertahankan Palestina. Sebaiknya kalian simpan uang tersebut. Jika suatu saat kekhalifahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan mampu menguasai Palestina hanya dengan cuma-cuma”.

Bahkan akhirnya, Sultan Abdul Hamid II diketahui mengeluarkan keputusan yang melarang orang-orang Yahudi untuk melakukan imigrasi ke Palestina, meskipun pada akhirnya kekuasaannya runtuh dan Turki berubah menjadi negara sekuler di bawah tangan kotor Mustafa Kemal.

Sementara Inggris mendapati jalan mulus menjadikan Palestina sebagai “negara” bagi bangsa Israel. Lantas mengapa pemimpin-pemimpin negeri muslim tak sanggup menjadikan sistem Islam menjadi sistem yang mendunia? Sistem ini yang akan menjadi pemersatu antar umat beragama yang penuh kedamaian, tidak menjadikan sistem sekuler yang membutakan hingga membiarkan penjajahan merusak seluruh negeri-negeri muslim.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author