30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Jejak Khilafah di Jakarta


Oleh: Safiatuz Zuhriyah, S.Kom
Aktivis Dakwah Muslimah

Bicara tentang sejarah Jakarta, tidak bisa dipisahkan dari Fatahillah. Dialah yang telah membebaskan Pelabuhan Sunda Kalapa dari cengkeraman pasukan Portugis. Kemudian mengganti nama Sunda Kalapa dengan Jayakarta yang artinya kemenangan yang nyata. Nama ini diambil dari surat al Fath ayat 1, Allah berfirman:
إنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
Artinya: Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”  (Q.S. Al-Fath [48]: 1)

Pelabuhan Sunda Kalapa dulunya telah menjadi sentral perdagangan Nusantara yang dikuasai oleh kerajaan Sunda Pajajaran, sebuah kerajaan bercorak Hindu Budha. Pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan terbesar di Jawa Barat dan keberadaannya menjadi sangat penting bagi pusat perdagangan internasional Nusantara.

Pada tahun 1522, bangsa Portugis berhasil menguasai pelabuhan Sunda Kalapa dengan cara membuat perjanjian kerjasama dengan Kerajaan Pajajaran. Isi perjanjian antara lain:  Pajajaran akan menjual lada kepada Portugis dan Portugis diperkenankan membangun benteng di Sunda Kelapa.

Namun sebelum pelaksanaan pembangunan benteng tersebut, bangsa Portugis banyak mengalami penyerangan oleh pasukan Islam. Sultan Mahmud Syah menyerang benteng Portugis di Malaka, sedangkan kekuasaan Portugis di Maluku diserang oleh Kesultanan Tidore dan Ternate.

Sementara itu, penyerangan terhadap kekuasaan Portugis di Sunda Kalapa dipimpin oleh Fatahillah, yang tak lain adalah menantu dari Sunan Gunung Jati.  Fatahillah diangkat sebagai panglima perang oleh raja Kerajaan Islam Demak untuk menaklukan penjajah Portugis di Tanah Sunda. Pasukan perang Fatahillah mendapatkan bantuan armada dari Kerajaan Islam Demak dan Kerajaan Islam Cirebon, sehingga pasukan Islam memiliki pertahanan yang cukup kuat.

Pada awalnya, pasukan Fatahillah diarahkan untuk menaklukkan Kerajaan Pajajaran di Banten. Lalu setelah itu melanjutkan penyerangan terhadap pasukan Portugis di Pelabuhan Sunda Kalapa.

Pasukan Portugis dibawah pimpinan Fransisco de Sa, masih berusaha menagih janji atas perjanjian Kerajaan Pajajaran dengan pasukan Portugis untuk mendirikan benteng di Pelabuhan Sunda Kalapa. Namun karena Sunda Kalapa sudah berada dalam kekuasaan pasukan Fatahillah, tentu Fatahillah menolak tuntutan tersebut. Maka dengan kekecewaannya Portugis mengancam akan menghancurkan Sunda Kalapa beserta pasukan Islam. Tapi, Fatahillah tak gentar menghadapi perlawanan tersebut.

Tidak lama kemudian, pecahlah pertempuran dahsyat. Pasukan darat Katolik Portugis menggunakan senjata pedang, bedil, dan meriam serta berlindung dengan topi baja. Sedangkan pasukan Islam jalur darat menggunakan senjata tombak, kujang, pedang, keris dan meriam-meriam. Armada kapal perang Fransisco de Sa maupun Fatahillah menggunakan meriam dan senjata api lainnya. (Drs. Edi S. Ekadjati, Fatahillah Pahlawan Arif Bijaksana, Jakarta: Penerbit PT. Sanggabuwana, hal. 45)

Pasukan Fatahillah tetap bergerak mengepung pasukan meriam Portugis. Komando Fatahillah untuk menyerbu terdengar lantang oleh pasukan Islam. Dengan bergerak cepat disertai semangat jihad yang selalu berkobar membuat pasukan Portugis berada dalam serangan dahsyat. Pertarungan sengit untuk membunuh lawan semakin berkecamuk. Banyak korban dari pihak Portugis berjatuhan. Portugis tidak mampu menahan serangan bertubi-tubi dari pasukan Kerajaan Islam Demak. Sisa pasukan Portugis terdesak mundur dari darat dan melarikan diri menuju armada kapal.

Masih dalam keadaan pelarian, pasukan Portugis dikejar pasukan Islam. Salah satu armada kapal Portugis terkena sasaran meriam armada kapal Fatahillah. Kapal Portugis itu terbakar, kemudian tenggelam ditelan lautan. (Ibid, hal. 46)

Kemenangan yang didapat pasukan Islam atas jatuhnya kekuasaan Portugis di Sunda Kalapa terjadi pada tahun 1527 M. Kemenangan ini semata-mata bukan hanya karena hasil perjuangan Fatahillah dan pasukannya, melainkan juga karena adanya pertolongan Allah untuk meneguhkan ajaran-Nya di tanah Jakarta. Sultan Trenggono, Raja Kerajaan Islam Demak mengangkat Fatahillah menjadi gubernur Sunda Kalapa, dan Sunda Kalapa menjadi wilayah mandat kerajaan Islam Demak.

Sejarah Fatahillah menaklukkan pasukan Portugis di Sunda Kalapa atau Jayakarta, adalah salah satu bukti adanya jejak khilafah di Jakarta. Tidak bisa dipungkiri, Jakarta pernah menjadi wilayah kekuasaan Islam. Dalam hal ini, berada di bawah Kerajaan Islam Demak. Sedangkan Demak diyakini telah membangun hubungan dengan Turki Utsmani, bahkan sebelum Majapahit dan Aceh berdiri.

“Hanya sifatnya kultural dakwah dan perdagangan,” ujar Kasori Mujahid, kandidat doktor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang menulis disertasinya soal relasi antara Demak dengan Turki Utsmani, saat berbincang dengan Republika di Solo, belum lama ini.

Tersebarnya Islam sampai ke Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari peran kekhilafahan Islam sebagai satu-satunya institusi pelaksana hukum syara’. Tujuan politik luar negeri khilafah Islam adalah menyebarkan Islam sebagai rahmat ke seluruh alam. Tujuan ini dicapai dengan jalan dakwah dan jihad. Karenanya, sejak tahun pertama Hijriyah, Rasululllah telah mengutus rombongan dakwah untuk mengajarkan Islam keluar wilayah Madinah. Dimulai dari wilayah terdekat yaitu Jazirah Arab, kemudian dilanjutkan oleh para khalifah sesudahnya sehingga pengaruh ajaran Islam terus meluas sampai ke seluruh dunia.

Menurut Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia, Islam datang ke Indonesia langsung dari Makkah atau Arab sejak abad ke-7 M (abad ke-1 H). Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta.

Profesor Hamka memperkuat argumentasinya dengan menyebut tentang seorang pencatat sejarah asal Cina yang mengembara pada 674 M. Ia mengatakan, pengembara itu menemukan satu kelompok bangsa Arab yang mendirikan perkampungan sekaligus bermukim di pesisir barat Sumatra.

Dijelaskan, kampung bernama Barus itu terletak di antara Kota Singkil dan Sibolga atau sekitar 414 kilometer dari Medan. Pada masa Sriwijaya, Kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun, setelah Sriwijaya mengalami kemunduran lalu digantikan oleh kerajaan Aceh Darussalam, Barus masuk ke wilayah Aceh. Kabarnya, para pedagang Arab hidup berkecukupan serta memiliki kedudukan baik di Barus.

Penemuan ini, kata dia, sudah dipastikan pula kebenarannya oleh para sejarawan dunia Islam di Princetown University di Amerika Serikat.

Ajaran Islam telah lama menyatu dengan keseharian masyarakat Indonesia. Pada masa penjajahan, para pejuang muslim berdiri teguh untuk menaklukan kemungkaran para penjajah yang berkuasa. Usaha pasukan Islam dengan semangat jihadnya untuk memerangi tindakan tidak berperikemanusiaan kaum penjajah terhadap masyarakat, telah menggentarkan musuh hingga kemerdekaan berhasil diraih.

Begitu pula ketika terjadi Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947. Tujuannya adalah mengepung ibu kota Republik Indonesia dan menghapus kedaulatan NKRI. Fokus serangan penjajah berlangsung di tiga tempat: Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Lewat agresi ini, Belanda bernafsu menguasai kembali Indonesia sebagai tanah jajahan untuk dijadikan wilayah persemakmuran kerajaan Belanda. Akibat niat jahat Belanda ini, rakyat Indonesia murka. Api perlawanan meletup. Langkah negeri van oranje ini mendapatkan perlawanan sengit bangsa Indonesia, khususnya ulama dan umat Islam.

Ulama menegaskan, perlawanan melawan Belanda, adalah untuk menegakkan Islam yang merupakan cita-cita umat Islam Indonesia. Mereka menyadari betul, selama Indonesia di bawah kekuasaan Belanda, umat Islam tidak akan pernah mendapatkan keleluasaan menjalankan agama.

Hal itu diperkuat dengan pernyataan KH. Ahmad Basyir AS. yang mengatakan, “Selama Indonesia dijajah, agama Islam, sulit untuk tegak di Indonesia!”. Bahwa, “Agama Islam bisa tegak di Indonesia, jika Indonesia bebas dari penjajah,” tukas KH. Syarqawi.

Jelas di sini, bahwa motivasi terbesar para ulama bergerak adalah demi tegaknya agama. Sudah seharusnya, kita meneladani keberanian dan semangat para ulama untuk menerapkan Islam dalam kehidupan. Sedangkan penerapan Islam itu sendiri tidak akan bisa sempurna, sampai terwujudnya khilafah. Karena khilafah adalah satu-satunya institusi yang berlandaskan hukum syariah.

Adanya jejak khalifah di Jakarta, seharusnya menyadarkan umat Islam Indonesia khususnya Jakarta, bahwa perjuangan menegakkan kembali khilafah ala minhajin nubuwah bukanlah ahistoris. Bahkan perjuangan tersebut saat ini telah menemukan momentumnya karena terbukti, sistem kapitalis yang diterapkan sekarang, membawa manusia ke jurang kehancuran. Kalau bukan kembali ke jalan Allah, lalu jalan mana lagi yang hendak kita pilih?

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” [Al An’am: 153]

About Post Author