06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Pak Menag, Itu Persekusi Mengapa Diberi Apresiasi?

Oleh: Neneng Sriwidianti
(Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (TQS. Al-Hujurat [49]: 10)

Baru-baru ini viral di media sosial adanya aksi penggerudukan Banser terhadap ustad yang dituduh HTI. Ketua PC Ansor Bangil Saad Muafi beserta 150 anggotanya menemui Abdul Halim dan Zainullah dengan membentak dan mengintimidasi. Menurut mereka, apa yang dilakukannya adalah bentuk tabayun, terkait dugaan penghinaan terhadap salah satu tokoh Nahdlatul ‘Ulama, Habib Luthfi.

Benarkah tabayun dalam Islam dengan cara kekerasan? Rasanya fakta yang terjadi tidak mencerminkan ciri persaudaraan dalam Islam.

Dilansir dari fajar.co.id. Menag mengapresiasi cara-cara yang diambil oleh Banser PC Ansor yang katanya mengedepankan cara-cara penuh kedamaian.

“Saya apresiasi langkah tabayun yang dilakukan Banser PC Ansor Bangil yang mengedepankan cara-cara damai dalam menyikapi gesekan di masyarakat terkait masalah keagamaan,” kata Menag Fachrul Razi dalam siaran persnya. Sabtu (22/8).

Pernyataan Menag ini mendapat perhatian dari Prof Musni Umar. Menurutnya, proses tabayun oleh Banser dilakukan dengan cara membentak dan mengintimidasi.

“Kalau pernyataan Menag ini benar, amat disayangkan, karena Islam tidak mengajarkan untuk membuat kekerasan, membentak, dan melakukan intimidasi kepada ulama atau kepada siapapun,” ucap Prof Musni sebagaimana dikutip di akunnya di Twitter, Minggu (23/8)

Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satu celah permasalahan manusia yang kosong dari pengaturan Islam. Termasuk bagaimana seharusnya melakukan tabayun berdasarkan syariat Allah Swt.

Tabayun adalah meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas permasalahannya. Tabayun merupakan salah satu ajaran Islam yang bisa dijadikan solusi untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam masyarakat. Metode tabayun ini digunakan untuk mengklarifikasi serta menganalisa masalah yang terjadi. Dengan harapan mendapatkan kesimpulan yang lebih bijak, arif, dan lebih tepat. Tidak ada kekerasan, persekusi atau pun intimidasi.

“Hai orang-orang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal,” (TQS. Al-Hujurat [49]: 6)

Seorang laki-laki pernah datang kepada khalifah Umar bin Abdul Azis rahimahullah, yang menjelaskan kejelekan orang lain, lalu Umar rahimahullah berkata: “Jika kamu mau, kami akan periksa dahulu berita darimu ini. Jika kamu pendusta maka kamu di dalam QS. Al-Hujurat: 6, dan jika kamu benar maka kamu termasuk dalam firman Allah ‘Azza wa jalla.” (Nihayatul Arbi fi Fununil’ Adab: 1/347).

Apa yang dilakukan oleh Banser ini sama sekali tidak sesuai dengan proses tabayun dalam Islam. Seharusnya, ketika ada perselisihan diselesaikan menurut Al-Quran dan Sunah. Saling menghormati, mengedepankan rasa kasih sayang, dan senantiasa memperhatikan adab. Menyayangi yang muda dan menghormati yang lebih tua.

Pak Menag yang terhormat, selayaknya anda menjadi penengah (juru damai) yang adil, tidak memutuskan sesuai dengan kepentingan yang ingin diraih. Anda sebagai Menag seharusnya lebih memahami hukum syara. Terlebih, hal itu berkaitan dengan urusan keagamaan yang menjadi bidang Kemenag. Sikap anda yang memberikan apresiasi terhadap kasus yang terjadi tidak mencerminkan sikap seorang Muslim yang baik.

Pak Menag yang terhormat, masyarakat sekarang sudah cerdas. Apa yang terjadi di Desa Kalisat, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan itu bukan tabayun, tetapi persekusi. Anda seharusnya paham, mana persekusi dan mana tabayun.

Seharusnya umat menyadari, ketika aturan hidup diserahkan kepada aturan manusia, dan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka akan timbul kerusakan dan penyimpangan. Karena yang mereka lakukan bukan berdasarkan ilmu tetapi mengikuti hawa nafsu semata.

Marilah kita segera berjuang agar hukum-hukum Islam yang kafah bisa kembali tegak di muka bumi. Khilafah satu-satunya institusi yang bisa mewujudkannya. Umat harus segera mencampakkan sistem kapitalisme sekarang juga. Karena terbukti sistem ini rusak dan merusak.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author