26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Polemik Legalnya Ganja di Indonesia

Oleh : Indriani Mulyanti Amd, keb
Praktisi Kesehatan

Keputusan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menetapkan tanaman ganja sebagai satu di antara tanaman obat komoditas binaan menuai kontroversi. Berbagai kalangan masyarakat menyatakan tidak setuju jika cimeng alias ganja legal dibudidayakan di Indonesia. Selang beberapa hari, Kementerian Pertanian (Kementan) mencabut dan merevisi keputusan tersebut.
“Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo konsisten dan berkomitmen mendukung pemberantasan penyalahgunaan narkoba. Kepmentan 104/2020 tersebut sementara akan dicabut untuk dikaji kembali dan segera dilakukan revisi berkoordinasi dengan stakeholder terkait (BNN, Kemenkes, LIPI),” kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Tommy Nugraha seperti dilansir situs Kementan, Sabtu (29/8/2020).

Melegalkan budidaya ganja di Indonesia dianggap bertentangan dengan komitmen negeri ini dalam melawan narkoba. Saat ganja di anggap illegal saja, pengguna ganja setiap tahun terus bertambah, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan jumlah pengguna narkoba tahun 2019 meningkat 0,03% jadi 3,6 juta orang. Di dalam undang-undang, ganja masuk ke dalam narkotika golongan I termasuk sabu-sabu, kokain, opium, dan heroin. Jangankan mengonsumsinya, menanam ganja bukan dengan tujuan untuk kepentingan ilmu pengetahuan bisa dikenakan jeratan pidana.

Di beberapa negara ganja sudah dilegalkan, bahkan dijadikan komoditas ekspor yang menggiurkan. Negara yang melegalkan ganja diantaranya : Inggris, Peru, Australia, Spanyol, Korea Utara, Jamaika, Swiss, Republik Ceko, dan beberapa negara bagian Amerika Serikat, seperti Alaska, California, Colorado, Maine, Massachusetts, Nevada, Oregon, Washington state, Washington DC, dan Vermont. Lembaga riset Grandview dalam laporannya mencatat pasar ganja AS mencapai US$11,3 miliar pada 2018. Nilai itu diprediksi akan terus meningkat.

Hukum Ganja Dalam Islam.

Dalam hukum Islam sangat jelas kaidahnya; “Laa dhoror walaa dhiror” (tidak boleh menimbulkan atau menyebabkan bahaya bagi diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain). Selain itu, jurnal ini juga memuat kaidah lain: Adh-dhororu yuzal (bahaya itu harus dihilangkan).

Ganja sendiri sebenarnya tidak pernah disebutkan rinci di Al-Quran maupun sunah. Namun ganja masuk dalam hukum yang disebut ijtihadiyah, yaitu sesuatu yang dianggap mirip dengan yang tercantum di Al-Quran dan sunah. Dalam konteks ganja, para ahli hukum Islam mencoba menganalogikan ganja paling identik dengan khamer, karena mengandung zat yang bersifat memabukan.

Tentang keharaman khamer al-Qur’an tersurat dalam al-Maidah :90

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang orang yang beriman, sesungguhnya khamer dan judi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan, maka jauhilah perbuatan perbuatan itu agar kalian beruntung.al-Maidah:90

Jalaluddin al-Mahalli dan jalaluddin al-Suyuthi menafsirkan khamer dengan sesuatu yang menutupi akal manusia hingga dia mabuk (Tafsir al-jalalain, 2/258).
Nabi Muhammad bersabda:

عن ابن عمر ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” كل مسكر خمر ، وكل مسكر حرام
Artinya: Dari Ibn Umar berkata: Rasulullah bersabda : setiap sesuatu yang memabukkan itu adalah khamer dan setiap sesuatu yang memabukkan hukumnya adalah haram. (HR:Muslim: NO 3826)

Imam Abu Daud meriwayatkan dari Ummu Salamah mengatakan, “Rasulullah SAW melarang segala sesuatu yang memabukkan dan melemahkan (menjadikan lemah).” (HR Abu Daud).

MUI telah mengeluarkan fatwa haram bagi ganja sebagai salah satu jenis narkotika. Segala sesuatu yang telah diharamkan tidak boleh dimanfaatkan walaupun dalam jumlah yang sedikit.

Lalu Bagaimana Jika Ganja Digunakan Sebagai Obat Untuk Keperluan Medis?

Ganja dibeberapa negara sudah digunakan sebagai obat, termasuk di Indonesia. Namun penggunaan ganja sebagai obat masih menimbulkan polemik. Jika disalahgunakan, ganja bisa menyebabkan berbagai kemudharatan diantaranya halusinasi, delusi, rusaknya daya ingat, rusaknya organ terutama paru -paru dan disorientasi (linglung). Efek samping lainnya menyebabkan detak jantung meningkat 20-50 kali lebih banyak per menitnya. Ketika tekanan darah dan detak jantung melonjak tajam, pengguna ganja empat kali berisiko lebih tinggi terkena serangan jantung dalam satu jam pertama setelah merokok ganja.

Seorang muslim dianjurkan untuk berobat dengan sesuatu yang halal, bukan yang haram. Thoriq bin Suwaid Al Ju’fiy pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai khomr. Kemudian beliau melarang atau tidak suka untuk diolah. Kemudian Thoriq mengatakan bahwa khomr itu akan digunakan sebagai obat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan,

« إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَلَكِنَّهُ دَاءٌ »

“Khamer itu bukanlah obat, tetapi ia adalah penyakit.” (HR. Muslim no. 1984). Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa ini adalah dalil tegas yang menunjukkan bahwa khomr bukanlah obat dan diharamkan berobat dengan khomr (Syarh Shahih Muslim, 13: 139).

Maka bisa disimpulkan haram menggunakan ganja baik dalam jumlah sedikit ataupun banyak dengan alasan apapun. Karena mayoritas ulama sudah sepakat bahwa ganja hukumnya sama dengan khamer, dan benda yang diharamkan tidak boleh ditetapkan sebagai komoditas yg diambil keuntungannya. Diperlukan peran negara dalam mengatur masalah ganja ini. Sehingga pemerintah bisa melayani rakyat dengan baik, bukan malah mengambil kebijakan yang merugikan rakyat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

About Post Author